Dr. Ani And Family

Dr. Ani And Family
ribut


__ADS_3

Menikah itu untuk beribadah. Niat mencari ridlo Nya Alloh agar bisa lebih dekat lagi dengan Sang Pencipta. Mengikat hati untuk saling mengisi, saling mengingatkan dalam kebaikan.


Pernikahan itu untuk menyempurnakan separuh agama. Mencari keberkahan di dalamnya dan jika tujuan utamanya adalah ibadah, insya Alloh bahagia akan menjadi makmumnya.


Mengalah kepada pasangan itu bukan berarti kita kalah dan tidak berwibawa. Kenapa harus takut? Mengalah kepada pasangan itu berpahala asal itu tidak melanggar norma-norma agama. Membuat pasangan kita bahagia sehingga kita bisa mewujudkan impian menjadi keluarga yang sakinah mawadah warahmah, bukan hanya di dunia tapi juga bersama-sama kelak di surga dengan anak cucu kita.


Kalau masalah seperti ini diantara kalian tidak ada yang mau mengalah, bagaimana kalian akan menghadapi problematika rumah tangga nantinya? Menikah itu ibadah yang paling lama. Apa kalian sanggup bersama untuk saling mengalah atau mau keras kepala dan terus berdebat nantiny?.


Kalian pikirkan lagi rencana pernikahan kalian! Mumpung akad belum ditunaikan".


Zainal dan Ani saling tertunduk diam setelah Bang Alif meninggalkan mereka berdua. Keduanya menata hati dan beristighfar, menyesali perbuatan yang kekanak-kanakan.


Zainal menghela nafasnya kemudian dengan sangat pelan ia berkata, "maaf". Satu kata yang sulit diucapkan karena meruntuhkan kegengsian tapi mengangkat derajat manusia di sisi Tuhan.


Ani meremas jari-jarinya mendengar hal itu kemudian sambil mengusap air mata ia berkata, " Aku juga minta maaf". Ia sadar, kali ini dia sangat keras kepala tapi Zainal ternyata mau merendahkan dirinya dan mau mengalah dengan mengucap kata maaf terlebih dahulu.


Keduanya terdiam kembali saling bungkam dan berulang kali saling mencuri pandang.


"Yaah baiklah. Tujuh ratus ribu saja !" Kata Zainal menepikan egonya dan belajar mengalah meski ia punya cita-cita ingin memberi mahar sapi pada calon istrinya tapi ia tak akan memaksakannya lagi. Mungkin bisa dijadikan hadiah saat ulang tahun Ani nanti.


"Aku mau tujuh sapi... " Kata Ani pasrah.


" Nggak usah....nanti nggak ikhlas...", Kata Zainal mencoba mengorek perkataan calon istrinya. Apakah terpaksa atau memang sudah ikhlas. Zainal juga tahu mahar seperti itu tidak lazim di Indonesia hanya saja dia ingin sedikit mencontoh Rosul yang mulia. Kalau di Arab unta tapi kalau di Indonesia boleh di ganti sapi kan? Itu menurutnya. Tapi kalau calon istrinya tidak mau ya tidak apa-apalah yang penting bisa menikah dengan pujaan hatinya.


"Ikhlas...", Jawab Ani dari hatinya. Toh itu tidak di larang agama, begitu pikirnya sekarang.


Zainal dan Ani saling berpandangan kemudian tersenyum dan secara bersamaan mengalihkan pandangan. Tak membiarkan debaran jantung untuk menggila karena belum halal. Saling menahan diri agar tak berbuat dosa lebih. Tunggu sebentar lagi saat akad telah sah dikumandangkan. Apa-apa yang sebelumnya diharamkan setelah sah menjadi suami istri maka semuanya akan menjadi halal. Bebas melakukan apapun yang diinginkan, dan dapat bonus pahala juga. Sudah enak dapat pahala lagi.


Maka sungguh merugi orang-orang yang tak mau menikah dengan alasan yang tak jelas padahal sudah ada calon di depan mata.


"Coba dari tadi gini ya Di.... nggak saling emosi. Jadinya kan enak... bikin hati tenang..."


"Maaf...", kata Ani.


"Aku juga minta maaf. Seharusnya aku yang mengalah. Aku ini calon suami macam apa? Hal begini saja harus minta tolong sama abang dulu... Aku memang punya impian memberi mahar calon istriku sapi tapi kalau kamu tak mau ya nggak papa. Sesudah menikah dengan kamu kan... aku bisa akad lagi...", Kata Zainal.


Baru juga baikan Zainal sudah bikin gara-gara saja.

__ADS_1


Bug.... sebuah bantal kecil melayang di kepala Zainal.


"Aduh...", Zainal yang tak menyangka akan mendapatkan pukulan jarak jauh seperti itu tak bisa menangkisnya.


"Apa maksudnya?", Ani bersedekap dan memberikan tatapan horornya.


"Ya kan kalau sudah akad nikah sama kamu kan aku masih boleh akad lagi sama yang lainnya..."


Bug bug bug


Ani melemparkan bantal-bantal sofa yang ada dengan kalap. Tentu saja dia marah. Menikah saja belum Zainal bahkan sudah membicarakan tentang poligami.


"Ampun Di ampuuuun.... !! Kamu cinta banget ya sama aku", kata Zainal sambil mengambil bantal-bantal yang jatuh dan mengembalikan ke tempatnya masing-masing sedangkan Ani hanya diam saja sambil mengerucutkan bibirnya.


"Narsis...!". gadis itu kemudian menjawabnya dengan ketus.


"Itu buktinya kamu cemburu buta!". Zainal malah ingin menggodanya.


" Siapa yang cemburu?!!! Pulang sana!!", keluar sudah kemarahan sang gadis. Kalau dulu mau marah dia harus berpikir seribu kali sekarang tidak lagi. Mau marah ya marah saja.


"Beneran nih disuruh pulang? Nggak mau dengar penjelasanku?"


"Kalau kita sudah akad nikah kan aku masih boleh akad wakalah, akad mudhorobah, akad musyarokah...", Zainal melipat bibirnya untuk menahan tawa karena Ani masuk dalam jebakannya.


Bug


Sekali lagi Ani melempar bantal ke tubuhnya dan kali ini Zainal bisa menangkapnya. Hup.


" Awas saja kalau mas berani macam-macam. Aku akan mematahkan semua tulang yang ada dalam tubuh mu mas....!", ancamnya dengan meremas tangannya seolah bersiap untuk memukul para musuh yang berani macam-macam padanya.


"Insya Alloh nggak akan sa-yaaang....." Ini pertama kalinya Zainal memanggil Ani sayang. Sebenarnya dia ingin memanggil sayang kalau sudah menikah tapi wajah Ani yang cemberut malah membuatnya lucu dan imut.


"Kamu nggemesin banget sih kalau lagi cemburu gitu....". Zainal ingin mencubit pipinya dan men-ciumnya. Nakal ya pikirannya..,?


"Boleh nggak sih kalau nikahnya malam ini saja? Aku sudah nggak tahan...", Zainal sudah ngebet banget rasanya.


"Mas!! Jangan mesum ya! Ini kan cuma tinggal seminggu lagi ngapain juga buru-buru nikah?". Ani malu karena Kata-kata Zainal terdengar vulgar di telinganya.

__ADS_1


"Masa tiap malam aku harus meluk guling...? Kan nggak enak..."


"Ish.... ngomongnya makin ngelantur deh. Pulang sana!". Kata Ani karena tak ingin ucapan Zainal makin kemana-kemana. Ia berdiri sambil berjalan ke arah pintu. Dia benar-benar mengusir Zainal agar segera pulang.


"Teganya...! Mengusir calon suaminya begitu saja...". Zainal beranjak berdiri meskipun ia malas sekali. Rasanya berbincang-bincang dengan Ani dan melihat wajahnya membuatnya nyaman dan tak ingin pulang.


"Ini baju seragamnya ya Di....! Kalau ada yang kurang pas telpon mama saja!",Katanya sambil memegang tas-tas yang berisi baju dari butik andalan mamanya yang saat datang tadi di taruhnya di lantai dekat meja.


"Pamitkan sama abang ya!" Kata Zainal sambil keluar dari ruang tamu.


"Mas..."


"Hum?".


"Kalau maharnya sapi terus di taruh dimana? Tujuh lagi...?". Mereka berjalan bersisian dengan langkah yang pelan.


"Di taruh di peternakan tempat beli sapinya dulu... Nanti kalau pas akad ya cuma bawa kliningan sama fotonya saja buat simbolisnya".


"Ooh gitu... kirain gimana?". Ani manggut-manggut merasa lega dengan penjelasan Zainal.


"Jangan mimpiin aku ya, sabar...! Cuma kurang seminggu lagi kok. Setelah itu kamu bebas melakukan apa saja padaku. Aku rela..." Goda Zainal yang sudah duduk di kursi depan kemudi sambil mengeluarkan sebagian kepalanya.


"Lebay...! Aku baru tahu kalau mas Zein itu mesum kayak gitu..! Pulang sana!"


"Aku nggak dikasih apa gitu? Biar nanti bisa tidur nyenyak..". Ia tak berhenti menggoda kekasihnya.


"Mass!!!" Ani menatap tajam pada pria yang mulai bermain api dengannya. "Pokoknya aku nggak mau ketemuan sampai kita sah jadi suami istri..". Pungkasnya sambil berjalan pergi meninggalkan Zainal karena dia takut calon suaminya itu akan bicara hal-hal yang hanya pantas dibicarakan oleh pasangan suami istri.


"Hati-hati Di....". kata Zainal yang harusnya dapat Kata-kata itu dari calon istrinya yang kini sedang marah.


.


.


Pagi-pagi sekali Ani sudah siap pergi dengan pakaian formalnya karena ia memutuskan untuk bekerja kembali.


"Mau kemana An?", tanya kak Mia yang melihat adik iparnya sudah sangat rapi.

__ADS_1


"Kerja kak?"


"Hah kerja?"


__ADS_2