
Aku mengerjap-ngerjapkan mataku kemudian berucap tanpa suara
Alhamdulillahilladzi ahyana ba'dama amatana wailaihinnusur
Aku membolak-balikkan badanku kekanan dan ke kiri agar kesadaran ku kembali sepenuhnya. Tadi malam sepulang dari kondangan, tamu bulanan ku datang, jadi sekarang aku agak malas untuk segera bangun.
Kupejamkan mataku lagi dan kejadian kemarin malam melintas di kepalaku. Perkataan mas Zainal membuatku galau. Bagaimana bisa dia mengatakan kepada teman-temannya kalau aku adalah calon istrinya padahal kami tidak pernah membahas tentang hal ini. Aku tak tahu harus bahagia atau bersedih mendengar hal itu. Apakah dia mengatakannya hanya untuk mengalihkan perhatian gadis yang kemarin itu atau hanya sebagai bahan bercandaan saja.
Huft.... aku menghela nafasku. Kenapa aku jadi kesel sendiri.
Aku membawa keluar pakaian-pakaian kotor yang akan kucuci karena hari ini aku off.
Kumasukkan pakaian-pakaian yang berwarna ke dalam mesin cuci dan kurendam dengan air dan deterjen cair sedangkan yang berwarna putih kutaruh dalam tong yang juga ku rendam dalam deterjen.
__ADS_1
Kemudian aku berjalan menuju ke tempat cuci piring untuk membasuh muka disitu kemudian berkumur.
Samar-samar terdengar bacaan Al Qur'an dari musolla rumah kami. Agenda wajib kami setelah solat subuh adalah membaca Alqur'an untuk mengawali aktifitas kami di pagi hari.
Berjalan di dapur, aku mencari sesuatu yang bisa dimakan karena perutku terasa keroncongan. Senyumku merekah melihat ada roti Maryam di dalam freezer, itu bisa menjadi sarapan yang enak. Ku ambil 12 keping roti untuk kami berenam, karena ayah dan bang Lukman sering sarapan bersama kami. Duduk sebentar di meja makan lalu kucomot pisang yang ada diatasnya. Satu saja belum cukup maka aku mengambil satu lagi.
Setelahnya barulah aku memanggang roti maryam. Baru dapat separuhnya aku melihat kak Mia dan Karina ternyata sudah duduk di meja makan. Begitu selesai aku langsung menyantapnya duluan karena perut ku sudah kelaparan. sedangkan kak Mia menunggu bang Alif datang dan Karina bilang ia belum lapar.
"Assalamu'alaikum,.," bang Alif datang dari masjid dengan kain sorban yang disampirkan di pundaknya. Pakaian kebesaran bang Alif saat ke masjid memakai baju koko dan sarung yang menutupi bagian bawah tubuhnya serta kopyah di kepalanya. Orang-orang memanggilnya ustadz Alif karena ilmu agama dan akhlaq nya yang mulia.
Bang Alif berjalan menuju kak Mia kemudian mencium rambut istrinya yang setengah basah.
Semenjak kak Mia hamil bang Alif tak canggung mencium kak Mia di depan kami, bikin iri saja.
__ADS_1
Segera kuselesaikan makanku agar aku tak melihat kemesraan suami istri yang jarang sekali berselisih itu. Ku teguk air putih untuk melancarkan pencernaanku dan mengakhiri sarapanku
"Rin, kalau kamu terus menuruti permintaan Koko itu dia akan semakin senang untuk menggodamu. Kamu harus tegas , kalau itu sesuatu yang jelek menurut akal ya kamu harus berani nolak. Lagian tumben-tumbenan kamu nggak berani sama cowok. Kamu nggak ada perasaan sama dia kan?" bang Alif sedang menasehati sekaligus bertanya pada Karina.
Aku yang sedang mencuci piring mendengarkan percakapan mereka dengan rasa penasaran karena tidak tahu apa yang terjadi semalam karena aku langsung masuk kamar setelah menyuguhkan minuman pada mas Zainal.
Mungkinkah terjadi sesuatu yang serius?. Kutajamkan pendengaran ku agar bisa mendengar jawaban Karina.
"Nggak ada lah bang..... suka apanya coba. Dia itu sukanya sama kak Ani bang" jawaban Karina membuatku tidak ikut bertanya lebih jauh meski aku sangat penasaran dengan apa yang terjadi.
Aku masuk ke kamar mandi dengan membawa bak besar yang sudah ku isi dengan pakaian-pakaian yang sudah ku giling dalam mesin cuci. Aku membilasnya di kamar mandi kemudian menyucikannya dengan cara mengalirkan air ke pakaian-pakaian ku dengan menggunakan selang.
Kami hanya punya dua kamar mandi untuk saat ini. satu di kamar bang Alif dan satunya di belakang dapur. Bang Alif sudah merencanakan membuat kamar mandi di dalam kamarku dan kamar Karina tapi kami merasa bahwa itu belum perlu. Jadi sampai saat ini itu masih menjadi wacana saja.
__ADS_1
Selesai dengan urusan mencuci aku beranjak mandi. Ku guyurkan air yang dingin dari gayung ke seluruh tubuhku. Tak ada bathtub di kamar mandi kami. Kami masih menggunakan gayung untuk mandi dan ada pancuran yang kami beri selang untuk berwudlu dan mencuci dan terkadang kami pakai untuk mandi ala-ala shower seperti yang kami lihat di internet.
Keluar dari kamar mandi aku memakai bathrobe dengan handuk kecil yang kugunakan untuk mengeringkan rambutku. Rasanya hilang sudah semua beban di kepalaku berganti dengan pikiran yang kembali fresh. Aku siap menghadapi hari ini.