Dr. Ani And Family

Dr. Ani And Family
pandangan


__ADS_3

Mas Zein membawa kotak hadiah yang cukup besar. Melempar senyum manisnya kepadaku sambil berlalu melewatiku. Aku menyalami para tamu yang hendak pulang dan berterimakasih atas kehadiran mereka , sedangkan gadis tetangga disampingku yang memberikan bingkisan.


Mereka bersikukuh menitipkan amplop padaku karena dimeja depanku tidak ada lubang yang biasanya digunakan untuk memasukkan amplop.


Aku sudah menolaknya tapi mereka memaksa dan meninggalkan amplop mereka dimeja dan langsung berpamitan.


Bang lukman bersikeras tidak mau menerima amplop dari para tamu dan melarang memakai meja yang ada lubangnya. Kami berdebat di telepon waktu itu. Aku, Rina ,bang lukman dan bang Alif. Ayah orang nya nyantai dan ngikut keputusan anak-anaknya saja. Bahkan dalam beberapa hal lebih banyak bertanya pada bang Alif. Agak sedikit penakut orang nya.


Bang lukman mengatakan bahwa niatnya mengundang para tetangga dan handai taulan adalah meminta doa restu bukan ingin berjualan makanan. Haha.... lucu kan bang lukman?


Aku dan Karina bersikeras yang penting kita tidak meminta mereka membawa angpau tapi kalau mereka memberi angpau ya diterima saja . Itukan hal yang sudah biasa dalam masyarakat kita, sudah tradisi jadi sulit untuk menghilangkannya. Yang penting kita nggak tomak dan nggak minta-minta, itu alasan ku dan Rina tapi bang Lukman menolak mentah-mentah.


bang Alif yang ada didekat kami waktu itu ternyata tidak memprotes apa yang dikatakan bang Lukman. Itu artinya bang Alif tidak keberatan dengan tindakan bang Lukman. Kalau seandainya bang Alif tidak setuju pasti ia mengeluarkan alasan yang tidak akan bisa ditolak oleh bang Lukman. Bagaimanapun garangnya abangku itu kalau bang Alif sudah bersuara pasti ia akan kicep. Mendengarkan dan manut saja. Bukan hanya bang Lukman saja sih, kami juga. Aku, Rina, kak Mia bahkan ayah juga iya sama, langsung klakep kalau bang Alif bereaksi seperti tidak suka atau marah.


ya memang kami sering menjadikan hal semacam itu sebagai bahan bercandaan. Saat salah satu dari kami pulang dari kondangan kami biasanya bertanya


"beli nasi apa tadi?"

__ADS_1


"warungnya jualan apa saja tadi?"


"warungnya masih rame apa sudah sepi?"


Kami biasanya mengatakan demikian karena kami harus membawa angpau untuk membayar makanan kami di pesta itu. bang alif selalu mengingatkan kami kalau mau ke kondangan, niatnya bersedekah, janga berharap dikembalikan saat kita punya hajatan.


Kami bercanda seperti itu karena kami tidak mengharapkan uang kami dikembalikan lagi nantinya, makanya ngisi amplopnya sewajarnya saja. Tidak terlalu banyak atau terlalu sedikit sehingga kami bisa ikhlas, seperti orang yang buang hajat begitu keluar ya sudah lupa, tidak ingin mengingat apa yang sudah dikeluarkannya tadi. Rasanya plong, lega kalau bisa sedekah dengan ikhlas.


Karena Bang Lukman bersikeras tidak menerima angpau dari para tamu justru sekarang malah menyusahkan aku dan Rina. Bagaimana kami menampung angpau-angpau yang banyak itu. Untung ada wadah plastik besar yang sudah kosong, bekas isi krupuk rambak sehingga kami bisa menggunakannya.


Aku menoleh dan melihat sosok yang sangat manis seperti madu itu berdiri dibelakangku. Entah sudah berapa lama ia disitu. Senyuman manisnya ia berikan lagi kepadaku membuat hatiku gembira bukan kepalang, Dagunya yang terbelah dan giginya yang gingsul itu membuatku salah tingkah. lelaki tampan ini ternyata menyukai aku yang lebih tua beberapa tahun darinya. ah.... senangnya


"Neng Ani pamit dulu ya...." kata ibu-ibu yang berpamitan hendak pulang


"eh... iya iya.... iya terima kasih Bu, terimakasih atas kehadirannya. mohon maaf bila ada yang kurang berkenan...." aku baru sadar dan berusaha menata kata-kata dan hatiku agar tidak oleng karena melihat makhluk Tuhan yang indah barusan.


" semoga segera menyusul ya neng Ani...."

__ADS_1


"Amiiin...."jawab mas Zein. Aku tersenyum saja, semoga diberi yang terbaik lah, doaku dalam hati.


"nggak makan mas?" tanyaku setelah ia mengambil kursi dan duduk di sebelahku.


"bareng yuk...."katanya


"aku tadi sudah makan. Aku ambilin aja gimana?"


"Hum....?"


"iya deh aku temani...." aku tak tega melihatnya mengerucutkan bibirnya.


"dih.. manja..." kata Rina yang sudah duduk disampingku.


Kami berjalan bersisian menuju tempat makan yang berada di pojokan. Ada beberapa menu yang dihidangkan untuk prasmanan hari ini. Yang jadi favorit sepertinya tumis daun pepaya dan kotok jantung pisang. Menu yang jarang ada di pesta atau hajatan dan itu justru yang paling laris. Mungkin karena sudah bosan dengan sajian yang biasanya ada, seperti soto, bakso, gado-gado atau nasi goreng.


Aku merasa sedikit kikuk. Seperti ada yang memandangku dengan tajam dan penuh kemarahan. Aku menoleh dan tak sengaja melihat mamanya mas Zein yang juga sedang menatapku dengan lekat membuat bulu kudukku merinding dan tengkukku jadi dingin tiba-tiba

__ADS_1


__ADS_2