Dr. Ani And Family

Dr. Ani And Family
polisi


__ADS_3

Zainal meletakkan kepalanya diatas tempat tidur dan memejamkan matanya. Ia baru saja ke kantor polisi dengan Ani untuk memberi keterangan atas kejadian di rumah sakit tadi. Hari itu ia bahkan tidak ke swlayan sama sekali tapi ia bahkan baru sampai di rumah menjelang isyak.


Baru sehari mereka jadian tapi rasanya mereka sudah tidak merasa canggung lagi. Ani langsung memanggilnya mas seperti yang dimintanya lewat telpon semalam. Sedangkan zainal sendiri memanggilnya di, singkatan dari adinda,( dihh lebay...)


Ia ingin memanggil istrinya nanti din, yang, beb, han dan panggilan-panggilan mesra lainnya. Dan sampai sekarang dia menjaga tempat itu belum pernah memakai panggilan-panggilan untuk pacar-pacarnya. Biasanya dia memanggil pacar-pacarnya itu dek, tapi karena usia Ani lebih tua darinya dia sedikit mengubahnya jadi 'di' untuk menghormatinya dan tidak langsung menyebut namanya.


Ia tersenyum saat mengetahui kekurangan dokter ani, kekasihnya. Seorang dokter yang biasanya meresepkan obat untuk pasiennya tapi dia sendiri tak bisa minum obat. Dia hanya bisa minum obat dalam bentuk cair dan dosisnyapun sama seperti balita dan anak-anak.


"kamu kok lucu sih" kata zainal bergumam


Sungguh menggemaskan melihat wajahnya yang malu saat ketahuan kekurangannya, batin zainal


.


tok tok tokk


"zein kau sudah tidur?" suara papanya membuyarkan lamunannya.


Zainal berdiri menuju pintu dan membukanya.


"ya pa...?"

__ADS_1


"kau tadi tidak ngantor?"


"iya. Maaf pa"


zainal mengikuti papanya yang berjalan ke ruang tengah.


" Aku barusan dari kantor polisi?" kata zainal menjelaskan


"kantor polisi? ada apa zein?" kata mamanya yang baru datang, ia bertanya dengan wajah panik karena takut terjadi apa-apa dengan anak semata wayangnya.


"Cuma memberi keterangan. Tadi ada anak geng yang membuat keributan di rumah sakit"


"itu pah... mah.... pacarku seorang dokter"


"kau sudah punya pacar lagi?" tanya sang mama. "padahal mama mau mengenalkan kamu pada anak teman mama. Dia cantik lho zein, dia sarjana ekonomi. cocok untuk membantumu mengelola swalayan kita"


" mah... zainal suka cewek cantik tapi bukan itu prioritas zein mah. Zein ingin gadis yang bisa mengubah zainal jadi orang yang lebih baik. Yang bisa mengerti dan mengimbangi karakter zein yang manja dan pemalas ini"


"Bawa dia kesini. Mamah ingin lihat gadis yang kau sukai itu seperti apa?" Kata mamanya emosi.


"Mah.... bagaimanapun zainal yang akan menjalaninya. Jangan terlalu menekannya!" kata papanya menengahi

__ADS_1


" Pah.... seorang ibu pasti menginginkan yang terbaik untuk anaknya"


" iya itu benar tapi terkadang kita sebagai manusia bertindak egois melawan hati kita dengan mengatas namakan diri kita sebagai orang tua untuk memaksa anak-anak mematuhi kita" kata sang papa sedikit emosi


" sudahlah pah... kita sudah sepakat masalah pekerjaan aku tidak akan ikut campur dan masalah pasangan zainal papa juga tidak boleh ikut campur. Aku yang akan memilihnya..." kata mamanya dengan nada tinggi sambil beranjak dari duduknya dan pergi dari situ.


zainal dan papanya menghela nafas bersamaan. Mereka sering dibuat jengkel dengan sikap wanita yang satu itu.


"zein.... ceritakan bagaimana kejadiannya tadi sampai kamu harus ke kantor polisi"


"Tadi pagi aku ke rumah sakitnya karena hari ini hari juma't dan aku pasti tidak bisa kesana kalau pas siangnya. Sewaktu aku datang anak-anak geng itu hendak membawa pergi salah satu pasien yang masih sakit. kemudian Pacarku menghajar mereka" -zainal memelankan suaranya agar tidak terdengar oleh mamanya-


"Dia pandai berkelahi?" tanya papanya


"kayaknya jago pah...."


"lalu kau diam saja tadi? hanya melihatnya?" tanya papanya menyindir


"aku hanya memukul satu anak"


"kau bisa memukul zein?"

__ADS_1


__ADS_2