
Jasad kak Zein terbujur didepan kami. Ingin sekali rasanya aku menangis didadanya. Menumpahkan hasrat yang selama ini kami jaga. Tapi hatiku mengatakan agar aku tetap berada di jalur yang benar meski nyawanya tak lagi di jasadnya. Tetap menghormatinya seperti ketika ruh dan jasadnya belum terpisah.
Aku duduk dengan badan yang lemas tak bertenaga di rumah ibu dan kak Zein. Setelah mendengar kebenaran tadi badanku sempat limbung dan tak sadarkan diri. Antara sadar dan tidak aku mendengar suara orang-orang yang sibuk membawaku dari tempat praktekku dengan membopong tubuhku ke rumah ibuk. Dan disinilah aku sekarang. Tak kuat berdiri apalagi berjalan .
Aku hanya melihat hiruk pikuk yang sedang terjadi di ruang tamu yang tak seberapa besar itu. Mereka menaruh kak Zein di atas dipan papan. Pakaiannya compang camping penuh dengan tanah. Wajahnya yang tadi pagi masih menggodaku kini tertutup debu begitupun dengan rambutnya. Tato di lengannya bahkan terlihat karena pakaiannya yang terkoyak.
Mulutku juga terasa kelu tak mampu berucap sesuatu. saat para tetangga dan anggota keluarga besar pondok datang bertakziah dan mengucapkan belasungkawa pada kami aku tak mampu membalas ucapan mereka. Bahkan untuk memgangkat tanganku untuk bersalaman dengan mereka saja aku harus mengerahkan segenap kekuatan yang ku punya. Sungguh aku tak sanggup melakukannya. Entah Kesedihan macam apa ini yang bisa merenggut kekuatan fisikku sampai aku dibuat linglung tak berdaya.
Air mataku bahkan tak keluar dan yang saat ini bisa kulakukan hanya menatapnya nanar. Mungkin saat ini ruh nya masih berada di dekat jasadnya dan ia juga sedang melihatku dan ibu yang amat sangat sedih kehilangan dirinya.
Aku menghembuskan nafasku dengan menyebut nama Alloh dalam hatiku. Aku ingin melihatnya sebelum jasadnya dikebumikan. Aku ingin melihatnya sampai akhir karena ini kali ketiga aku kehilangan orang yang kusayang.
__ADS_1
"Keluarganya dokter sudah dihubungi?" Tanya istri ustadz Salim padaku yang sedang menyandarkan diri pada dinding di pojokan ruang tamu.
Aku menggerakkan bibirku mengucapkan 'belum' tapi tak ada suara yang keluar dari mulutku.
"Bu Dokter..... ikhlaskan kepeprgian ustadz Zein! Beliau pasti juga sedih jika melihat dokter seperti ini.... Bu Dokter juga harus menguatkan ibunya Ustadz. Beliau juga pasti terpukul dengan musibah ini tapi ketentuan Alloh itu tak ada yang bisa menolaknya...."
Aku yang sedari tadi hanya menatap jasad kakak kemudian menoleh ke arah ustadzah Indah. Tiba-tiba aku seperti mendapat kekuatan untuk menggerakkan tubuhku. Aku memeluk ustadzah Indah dan tangisku pun pecah seketika.
Aku meraung-raung memanggilnya dalam pelukan istri ustdaz dan beliau dengan sabar mendengarkanku dan mengusap punggungku tanpa menyanggahnya apalagi mencela dan memarahiku.
Kemudian ibu datang dan mengusap punggungku.
__ADS_1
"Sabar ya nak...., ikhlaskan kakakmu itu agar jalannya dimudahkan dan terang benderang dipenuhi cahaya oleh Sang pemberi kehidupan".
"Bu......" Aku berbalik memeluk ibu. Seorang ibu yang sejak pertama kali aku datang ke sini selalu setia menemaniku dalam setiap hal. Berbagi dan senantiasa menolongku pada saat aku membutuhkannya.
"Kenapa kakak meninggalkanku seperti ini bu? Kenapa kami harus diikat sedemikian rupa jika akhirnya kami harus berpisah? Kenapa Alloh mempertemukan kami jika akhirnya harus begini?"
Lagi-lagi aku tak sadarkan diri. Badanku luruh tak bertenaga. Setelah itu aku hanya mendengar keriuhan dan tak ingat lagi apa yang terjadi selanjutnya.
Aku bisa mendengar suara orang-orang yang sibuk memberi minyak angin dan memijat telapak tanganku agar aku segera siuman tapi aku tak punya kekuatan bahkan untuk sekedar membuka mata saja aku tak bisa.
Saat terbangun di tengah malam aku langsung tahu bahwa aku sedang berada di rumah ibu. aku teringat bahkan aku belum solat maghrib dan isyak. Suasana sudah sepi dan aku melihat jam dinding sudah menunjukkan pukul 1 dini hari.
__ADS_1
"Bu...." Aku memanggil ibu yang berada di sampingku. Beliau masih terjaga, tidak lagi menangis tapi wajahnya terlihat sembab matanya melihat ke segala arah.