
"Saya terima nikah dan kawinnya Siti Aniyah binti Abu Dardak dengan mas kawin tersebut tunai" Aku mengatakannya dengan suara yang keras dan jelas sambil menjabat erat tangan Bang Alif yang bertindak sebagai wali pengantin putri.
"Bagaimana?" Bang Alif menoleh kepada dua saksi yang ada di sebelahnya.
"Sah"
"Sah"
"Alhamdulillahirobbil alamin...."
Bang Alif kemudian melanjutkannya dengan membaca doa sambil menitikkan air mata. Begitu pun diriku. Segala tanggung jawab tentang Ani yang tadinya di emban bang Alif kini otomatis beralih sepenuhnya ke pundakku.
Aku menangis tergugu sambil mengaminkan doa Bang Alif yang kini resmi menjadi abang iparku.
Semuanya orang yang berada di ruang tamu itu memberi ucapan selamat kepadaku dan kusambut dengan tersenyum penuh haru.
Hatiku terasa sesak karena pengantinku tak bisa bersamaku karena sedang melayani para pasien dan membantu mereka di rumah sakit. Harusnya pengantin merasa bahagia dihujani dengan berbagai kenikmatan yang tiada tara tapi kenapa nasibku bisa berbeda? Aku ingin melihatnya sekarang, memeluknya dan bahkan aku juga ingin mencium keningnya. Setelah lama aku menahan godaan untuk tidak menyentuhnya kini setelah sah aku ingin menumpahkannya.
Papa dan mama yang sedari tadi menemaniku bertanya kenapa aku tidak dipertemukan dengan istri baruku?
Aku bingung harus menjawab apa karena sampai saat ini aku masih belum bercerita kalau Ani sekarang sudah bekerja.
"Mana istrimu Zein? Kenapa kalian tidak segera dipertemukan?" Desak mama tak sabaran.
"Besok saja ma, biar jadi surprise!" Aku mencoba berkelit.
"Kan sudah sah Zein?" Mama masih ingin melihat menantunya sambil berkali-kali melihat tirai besar yang menjadi pembatas antara ruang tamu dan ruang tengah.
"Zein... Zein...!" Aku merasakan mama menepuk-nepuk kakiku.
"Iya besok saja ma.." Jawabku.
" Apanya yang besok Zein...?"
Aku mengerjapkan mata menyesuaikan pandangan yang masih membias samar. Mengedipkan kelopak mataku lagi dan mendapati wajah wanita yang telah melahirkanku tengah duduk di samping ku.
Mencoba mengingat apa yang terjadi dan baru menyadari jika aku tidur sebakda solat subuh tadi. Jadi semua itu tadi hanya mimpi? Ya Alloh lega rasanya.
"Zein apanya yang besok saja?" Mama menepuk lengan ku yang belum sadar sepenuhnya.
Bergerak bangkit dari tidurku dan duduk menghadap mamaku tercinta, "Menikahnya besok saja ma!" Jawabku absurd.
__ADS_1
"Lusa Zein.... Nggak sabar amat!" Kata mama ketus dan itu sudah biasa bagiku.
"Makasih ya ma, sudah merestui hubungan kami..." Kataku sambil memeluknya. Aku tak bisa membayangkan bagaimana seandainya mama masih bersikeras menolak Ani. Meskipun aku yakin menikah dengan orang yang dicintai kedepannya juga akan tetap ada masalah tapi dengan modal saling cinta semoga kami bisa menyelesaikan setiap masalah bersama-sama.
"Ayo sarapan! Calon pengantin kok tidur terus. Katanya nggak boleh tidur habis Subuh...?!" Ia mengalihkan pembicaraan tak menanggapi ucapan terimakasih ku.
Mama mengurai pelukanku dan segera beranjak pergi meninggalkan kamar.
Aku mengingat percakapanku kemarin dengan bang Alif. Aku bertanya padanya perihal menikah hanya melalui video call saja sedangkan kedua pengantin berada di tempat yang berbeda.
Bang Alif menjawab sebagian ulama memperbolehkannya dan sebagian ulama melarangnya. Bang Alif sendiri lebih cenderung tidak menyetujuinya karena jaringan internet itu kadang tidak stabil. Bisa saja saat wali mengucap ijab tiba-tiba koneksi internet terputus dan semisalnya.
Jika kedua pengantin berada di daerah yang berbeda lebih baik mewakilkannya karena itu ada tuntunannya. Nabi pernah melaksanakan pernikahan dengan Ummu habibah binti Abi Sufyan saat beliau berada di Madinah sedangkan Ummu Habibah berada di Habasyah, Etiophia.
Dan yang mewakili Rosululloh saat itu adalah orang yang bisa dipercaya yakni sepupu beliau, Ja'far bin Abi Thalib.
Begitulah yang dijabarkan oleh bang Alif kemarin.
Dan aku tak ingin pernikahan seperti yang ada dalam mimpiku terjadi karena itu aku harus bergerak cepat untuk mengatasi semuanya agar bisa berakhir sempurna.
Aku pun segera mengambil ponsel dan mencari nama dr. Ibrahim di sana.
"Iya pak Zein, ada yang bisa dibantu?"
"Maksudnya?" Tanya dokter Ibrahim adik ipar Ani.
"Anda sudah tahu kan dokter kalau kakak ipar anda akan menikah? Kenapa malah menawarkan pekerjaan padanya? Apa anda punya maksud terselubung? Owh... jangan-jangan anda masih menyimpan rasa pada calon istri saya?" Kataku sarkas.
"Jangan mengada-ada ya pak Zein. Saya melakukan hal itu murni untuk menolong para pasien. Mungkin mereka yang berdomisili di dekat situ bisa datang ke rumah sakit saya tapi kasihan untuk para manula, ibu hamil dan lainnya. Dan tolong camkan perkataan saya ini, saya sudah tidak punya perasaan apa-apa pada kakak ipar saya. Jadi jangan pernah membicarakan hal ini terlebih di depan istri saya" Rupanya dia ikut tersulut emosi.
"Ok fine tidak masalah! Sekarang urus cuti untuk calon istriku selama tujuh hari ke depan. Aku tidak mau mendengar penolakan!"
" Ohoho.... belum jadi ipar saja sudah berlagak rupanya!"
"Oh ya satu lagi, mulai sekarang panggil aku abang karena sebentar lagi kita akan menjadi saudara periparan...!" Senyum sinisku mengembang karena posisiku sebentar lagi akan lebih dituakan oleh dokter Ibrahim yang umurnya jauh lebih tua dariku.
"Apa??! Mimpi saja pak Zainal!" Katanya tak terima.
Ahaha.... kenapa jadi menyenangkan bertengkar di usia seperti ini. Aku akan punya banyak saudara dan aku bisa bertengkar dengan mereka. Makin tak sabar aku untuk menikah.... Hahay.
"Bagaimanapun aku akan tetap jadi abangmu dik Baim... Ahahaha...." Tawaku menggema di dalam kamar pribadiku.
__ADS_1
"Tertawalah sepuasnya tapi jangan harap istri anda hadir saat hari pernikahan nanti...!"
"Naudzu billah mindzalik., jangan kurang ajar kamu ya dik Baim!!" Dalam kondisi was-was aku masih bisa menyelipkan canda untuk membuatnya marah.
"Cih sombongnya, belum jadi kakak juga! Mohon maaf tuan Zainal saya orang sibuk yang banyak pekerjaan jadi tidak bisa menanggapi celotehan anda".
Dan satu detik kemudian sambungan telpon langsung di putus dari seberang.
"Shittt.... berani beraninya dia! Aku akan membuat perhitungan nanti!"
Senyumku mengembang membayangkan sebentar lagi aku akan menindasnya. Tak masalah saat kecil aku kesepian tak punya saudara sebentar lagi aku akan punya abang, kakak perempuan juga adik laki-laki dan adik perempuan," Mantap. "
Sekitar pukul setengah sembilan aku berangkat ke kantor tapi terlebih dulu aku datang ke rumah sakit Sakinah tempat Ani bekerja sekarang. Lokasinya tak jauh dari rumah kami.
"Silahkan pak Zein! Apa ada yang bisa saya bantu?" Pak Samsul sebagai pemimpin rumah sakit Sakinah menyambut kedatanganku di dalam ruangannya.
"Maaf mengganggu waktu sibuknya pak Sam."
"Tidak perlu sungkan pak Zein. Kita sudah lama saling mengenal hanya waktu sibuk saja yang membuat kita jarang bisa bertemu. Oh ya saya mendapatkan undangan pernikahan anda pak Zein. Saya ucapkan selamat !" Katanya sambil menjabat tanganku.
"Terima kasih pak Sam. Kedatangan saya kali ini juga karena hal itu"
Pak Samsul mengerutkan keningnya, "Apa ada yang bisa saya bantu pak?" Tanya beliau ramah.
"Kebetulan calon istri saya baru bekerja di rumah sakit ini dan kami akan menikah dua hari lagi. Jadi kalau boleh saya ingin anda memberi izin dia cuti barang lima atau tujuh hari."
" Maaf, apa calon istri anda itu dokter Ani pak Zein?"
"Iya benar..."
" Wah.... saya minta maaf karena tidak membaca undangan itu dengan benar sampai nama dokter Ani terlewatkan. Jadi anda akan bersaudara dengan dokter Ibrahim?"
"Bagaimana anda tahu pak Sam?"
"Dokter Ani bekerja di sini itu yang merekomendasikan adalah dokter Ibrahim, sahabat saya. Tadi dia telpon minta agar kami bisa memberikan cuti untuk kakak iparnya yang sebentar lagi akan menikah. Ternyata dokter Ani adalah calon istri anda".
Aku tersenyum mendengar usaha dokter Ibrahim, ternyata dia respect padaku juga.
"Jadi bagaimana dengan permohonan saya tadi pak Sam"
"Akan kami usahakan ya pak Zein. Tapi kemungkinan besar maksimal hanya tiga hari saja"
__ADS_1
"Iya baiklah, tiga hari saja juga tidak masalah"
Yang penting saat ijab kabul dia ada sedang untuk honeymoon bisa menyusul kapan-kapan.