Dr. Ani And Family

Dr. Ani And Family
paksa


__ADS_3

" Apa ibu masih ingat ini?" pak dirman membalik layar laptopnya agar semua orang yang hadir bisa melihatnya.


Di layar laptop terlihat foto bu carla yang tampak lebih muda memegang arloji dan diatasnya terdapat tulisan besar menggunakan huruf kapital TERSANGKA 34 dan dibawahnya tertulis Siti maysaroh.


Melihat hal itu bu Carla yang punya nama asli Maysaroh langsung pucat pasi. Beberapa tahun yang lalu dia pernah mencuri jam tangan di swalayan ini tapi naas ia ketahuan. Saat itu ia hanya diperingatkan tanpa harus membayar denda seperti peraturan yang seharusnya yaitu membayar sepuluh kali lipat dari harga barang yang di curi. Melihat pelakunya adalah orang yang sudah berumur dan mengaku tidak punya siapapun sehingga pihak swalayan berbaik hati melepasnya hanya dengan peringatan saja.


"Bagaimana kalau kita lanjutkan di pengadilan bu Carla...oh maaf bu Siti Maysaroh maksud saya?" tanya pak Dirman dengan menekan suaranya mencoba mengintimidasi orang yang tadi sudah menipunya dengan mengatakan namanya adalah Carla.


Bu Carla buru-buru berjalan ke arah pak Dirman kemudian duduk bersimpuh di lantai sambil memegang kaki pak Dirman.


"Maafkan saya pak....! Tolong ampuni saya! Saya salah saya khilaf..... tolong jangan bawa saya ke penjara ! Tolong maafkan saya pak! " bu Carla mengatakannya sambil menangis entah itu air mata penyesalan atau air mata buaya karena dulu dia juga berjanji begitu tapi kini ia kembali lagi dengan tampilan yang sedikit berbeda dan trik yang berbeda pula.

__ADS_1


"Jangan begitu bu! " Kata pak Dirman sambil berdiri dan bu Carla pun melepaskan tangannya dari kaki pak Dirman, " Mari ikut ke ruangan saya!" lanjut pak Dirman.


Pak dirman meninggalkan ruangan itu diikuti oleh bu Carla yang berjalan menunduk sambil meremas kedua tangannya.


Tinggallah keempat anak muda yang berada di ruangan itu. Lukman menatap Doni dengan tajam membuat bulu kuduk remaja itu berdiri. Remaja itu menggerakkan kepalanya perlahan ke arah lukman. Saat mata mereka bertemu Doni langsung begidik ketakutan.


"Kau.... ikut aku!" Lukman memberi perintah sambil berjalan ke arah pintu dan dengan kesadaran penuh Doni pun langsung beranjak mengikuti pria berbadan tegap yang dikaguminya meskipun ini pertama kalinya mereka bertemu.


"Tidak boleh. Mau kau bawa kemana adikku? Apa kau mau mencari tempat yang sepi untuk memukulinya lagi?" Hardik Laila.


Lukman memejamkan mata perjakanya. Ia lelaki normal yang bisa tegang hanya karena memandang. Ia pun menarik nafas dengan kuat kemudian menhembuskannya perlahan Hu..... Alloh, dalam hati ia berdoa agar diberi kekuatan untuk menahan godaan dan nafsunya.

__ADS_1


"Aku belum solat, mau ke musolla. Kalian muslim kan?", Matanya melihat ke atas melihat cicak yang sedang tertawa mengejeknya.


" Iya lah kami ini orang islam, tulen. Sejak bayi kami ini sudah beragama Islam tapi solat kan nggak boleh dipaksakan, harus datang dari keinginannya sendiri," bantah Laila.


"Ooh begitu.... Kalau adikmu sakit keras dan tidak mau makan kau akan membiarkannya mati kelaparan atau kau akan memaksanya untuk makan?"


"Ya harus dipaksa makanlah" Katanya senewen.


"Solat juga sama, harus dipaksa . Kalau nunggu ikhlas ya sampai matipun nggak akan kelaksana. Minggir!" Bentak Lukman pada Laila.


Laila tak bergeming mendengarkan ceramah singkatnya lukman meski nadanya sedikit kasar. Hatinya mencair karena sudah lama tak ada orang yang mengingatkannya untuk beribadah pada Tuhan.

__ADS_1


Lukman mendorong kening Laila dengan jari telunjuknya sambil berkata, "Apa kau minta ku cium dulu agar mau minggir dari sini, aku tidak keberatan melakukannya di depan mereka...." Lukman menyeringai membuat gadis cantik itu menelan ludah karena takut


__ADS_2