
Didepan rumah Laila ada satu mobil Jeep dan dua sepeda motor di sampingnya. Ada dua orang laki-laki yang berjaga di depan pintu. Lukman menjagang sepeda motornya dengan terburu-buru. Ternyata benar Doni dan laila sedang dalam bahaya. Saat ditelpon tadi ia sempat mendengar Laila yang kaget dan ketakutan dan itu membuatnya semakin gusar.
Lukman berjalan dengan penuh amarah. wajahnya merah bersungut-sungut membuat dua orang penjaga yang berbadan tegap itu beringsut ketakutan hanya karena sorotan tajam mata Lukman dan aura yang dibawa olehnya. Lukman langsung menendang salah satu orang yang terlihat seperti menantangnya sambil berkacak pinggang dan berjalan kearahnya. Tanpa kata Lukman langsung menendangnya dan lelaki itu langsung terpental dan meringis kesakitan karena membentur kursi yang ada di teras.
Lukman menggerakkan kepalanya ke kanan dan kekiri sampai terdengar bunyi kretek. kemudian dia juga menggerakkan badannya ke kanan dan kekiri sebagai pemanasan sebelum menghajar para preman.
"si - siapa kamu? j-ja ja jangan ikut campur !" kata lelaki yang satunya lagi dengan rasa takut tapi tetap saja ia maju sambil mengepalkan tangannya bersiap memukul dengan ragu-ragu. Lukman mendekatkan wajahnya ke lelaki yang semakin ketakutan itu. tangannya yang mengepal bergetar sambil menelan ludahnya melihat pandangan mata Lukman yang tajam seperti ingin menghabisinya.
Lukman hanya menekan jari telunjuknya ke dahi lelaki yang ketakutan itu dan badannya langsung jatuh berdebum. Teman-temannya yang sedang mencari barang berharga di rumah itu keluar sebelum Lukman masuk ke dalam rumah. Mereka mengeroyoknya dan menggiring Lukman ke tempat yang lebih luas.
Sementara itu Doni yang berada di ruang tamu berdiri ketakutan sambil mencoba melindungi Laila yang berdiri di belakangnya.
__ADS_1
"Tidak ada barang berharga dari rumahmu yang bisa dibawa. Aku sudah memberimu waktu dan sudah sabar menunggu. "kata seorang lelaki yang sebenarnya tampan tapi penampilannya terlihat sangar dengan rambut jabriknya yang berwarna warni serta tato di lengan kanan dan kirinya. Juga baju dan celana Levis yang sobek dimana-mana.
"Biarkan kakakmu yang membayarnya dengan bekerja padaku. Dia cukup cantik...," lelaki itu mengamati Laila sambil menghisap rokoknya
"minggir kau...."katanya lagi sambil mengarahkan kepalanya ke ke arah kiri menyuruh Doni minggir agar ia bisa melihat Laila dari atas sampai bawah.
Lukman yang berada di halaman sedang bertarung dengan mengesankan. Ia bisa dengan gesit menepis serangan demi serangan meski tak luput dari sabetan pisau para preman dan beberapa kali terkena pukulan karena mereka main keroyokan.
"hyat......"
Ani menendang salah satu lelaki yang mengeroyok abangnya kemudian segera masuk ke dalam formasi lingkaran yang dibuat para preman setelah salah satu temannya jatuh terjungkal. Ani dan Lukman berdiri saling memunggungi, mereka mengambil ancang-ancang dan siap menghajar para preman. Ani menangkis sabetan pisau yang diarahkan padanya kemudian meninju wajah pelakunya.
__ADS_1
Lukman juga menghajar satu persatu lelaki yang menyerangnya hingga mereka berjatuhan dan tinggal satu orang yang masih bertahan.
"hyaaaa........."
Ani melakukan tendangan memutar dengan kekuatan penuh yang mengakibatkan lelaki itu jatuh terhuyung-huyung mengenai sepeda motor mereka.
"aaaaaa....." ia memekik kesakitan karena punggungya mengenai stang sepeda motor
bruakk...... sepeda motor itu roboh mengenai temannya dan lelaki itu jatuh terjengkang. para preman itu menggelepar di tanah sambil mengerang kesakitan ditangan, kaki, tubuh dan kepala mereka dibuat nyut-nyutan oleh Lukman dan Ani. Rasanya untuk sekedar duduk saja mereka tak punya kekuatan, rasanya tulang mereka copot semua.
Pisau-pisau mereka sudah diamankan oleh Zainal yang bergerak pelan-pelan ketika pertarungan sedang berlangsung tadi.
__ADS_1
Dari dalam rumah keluarlah lelaki sangar yang menjadi ketua dari aksi pengeroyokan itu. Ia menodong Doni dengan senjata apinya dan mendorong Laila yang tangannya dibelenggu dibelakang tubuhnya