
Lukman memapah Laila dengan sangat hati-hati. Kandungan Laila terlihat sangat besar sampai-sampai orang mengira kalau anaknya kembar. Kalau dibandingkan dengan kehamilan kak Mia memang terlihat sangat Kontras. Perut kak Mia tidak terlalu besar sedangkan perut Laila terlihat sangat besar dengan postur tubuhnya yang tinggi dan perut yang menonjol ke depan seperti membawa sekarung beras
Berjalan pun sekarang ia harus menekan pinggangnya agar nafasnya terasa lega dan sedikit mengurangi beban perutnya.
Mata orang-orang tertuju pada pasangan itu saat mereka mulai menaiki tangga. Bukan hanya karena mereka seperti anggota keluarga pengantin tetapi mereka juga ingin melihat kemesraan yang dilakukan seorang suami pada istrinya yang sedang hamil besar. juga percekcokan suami istri yang berujung manis dan romantis.
"Aku gendong ya yank....?"
"Nggak mau. Jalan saja biar dedeknya cepet keluar" Kata laila menolak dengan sedikit ketus.
"Aku gendong dulu nanti kalau sudah diatas jalan lagi?" Lukman menatap wajah istrinya dengan perasaan sayang.
"Ish.." Laila berhenti melagkahkan kakinya dan menatap suaminya dengan jengkel. "Kan disuruh dokter sering jalan kaki biar jalan lahirnya kebuka....?" Laila sedikit menaikkan suaranya dengan memberengut.
"Tangganya banyak sayang, biar kamu nggak capek.... Aku kuat kok gendong kamu. Lihat otot-otot ku!" Lukman memamerkan lengannya yang menonjol pada istrinya.
"Oh mau pamer... Biar dilihat sama cewek-cewek....?" Laila mulai emosi karena sejak tadi ia cemburu melihat suaminya dilihat para gadis tamu undangan.
Lukman dan Laila bertengkar di tangga yang ketiga, ada yang cemburu dan yang satunya tak merasakan aura kecemburuan itu.
"Astaghfirullahaladzim.... ngomong apa sih la?" kebiasaan Lukman kalau marah pasti manggil Laila nggak pake yank tapi langsung sebut namanya.
"Ya udah ayo jalan pelan-pelan.....," Lukman memilih untuk mengalah dan tidak berdebat dengan istrinya yang sepertinya sedang bad mood.
Lukman meraih pinggang Laila tapi istrinya itu menepis tangannya. Ia menarik nafasnya agar kembali bersabar dengan emosi sang istri. Jika dulu laila sangat takut ketika suaminya sudah terlihat marah dengan hanya menyebut namanya saja tapi tidak dengan sekarang.
__ADS_1
Begitu kehamilannya memasuki usia sembilan bulan Laila sering sekali ngambek tanpa alasan yang jelas. Ia kerapkali marah sambil menangis. Saat suaminya memanggil namanya saja raut wajahnya langsung berubah dan beberapa menit kemudian dia akan menangis dalam waktu yang lama dan tentu saja Lukman yang kelimpungan. Maka sekarang Lukman menekan emosinya sekuat tenaga karena menyadari jika sang istri berubah seperti itu juga karena andilnya.
Lukman memandang wajah istrinya yang kesulitan naik tangga dengan mengeratkan geraham nya.
"Kenapa, mas mau marah?" Tanya Laila sambil memandang suaminya dan mengerucutkan bibirnya.
"Hehe....enggak kok..," Ia langsung menarik sudut bibirnya agar istrinya melihat jika dia tersenyum.
Lukman kemudian meraih pinggang istrinya lagi dan mengeratkan pelukannya. Meski laila berusaha menyingkirkan tangan besar yang ada di pinggangnya tapi tangan suaminya itu sama sekali tak bergeser.
Tiba-tiba Laila berhenti berjalan sambil mendesis. Tangan kanannya memegang lengan suaminya dengan erat sambil memejamkan mata merasakan otot-otot kakinya seperti tertarik dengan rasa sakit yang tak bisa dia ungkapkan.
Bergegas Lukman mengangkat istrinya dan menggendongnya menuju ke kamar hotel yang disediakan untuknya. Ia langsung menuju ke kamar hotel yang tadi sudah dipakainya sebelum acara berlangsung.
Itu adalah fasilitas dari keluarga dokter ibrahim untuk keluarga menantunya. Semula, keluarga dokter Ibrahim yang kaya raya itu sedianya akan menanggung segala keperluan pernikahan putranya itu karena saking bahagianya anak sulungnya yang sudah berumur itu sudah bersedia menikah.
Lukman menaruh tubuh istrinya diatas tempat tidur dengan hati-hati.
"Sayang.... jadi anak pinter ya nak! Jangan bikin bunda kesakitan... ya sayang ya...! Lukman mengelus perut buncit istrinya yang masih mendesis kesakitan.
Kini Lukman paham kenapa surga itu ada di telapak kaki ibu. seorang lelaki hanya menitipkan benihnya pada sang istri setelah itu selama 9 bulan bahkan lebih hanya sang istri yang menderita.
Lukman ingat bagaimana saat satu bulan pertama istrinya hamil. Setiap pagi Laila muntah-muntah, tidak berselera untuk makan. Badannya lemah sampai kira-kira dua bulan hal itu terjadi.
Menginjak bulan ketiga setiap malam kaki laila mengalami kram. Dia akan menjerit di tengah malam karena rasa sakit yang luar biasa. Sebagai suami Lukman ingin meringankan beban istrinya dengan cara memijitnya tapi saat kakinya baru dipegang saja Laila justru berteriak kesakitan. Jadilah dirinya hanya melihat istrinya merasakan rasa sakit itu dengan menatapnya penuh sayang.
__ADS_1
Bulan ke lima nafsu makan Laila sudah membaik tapi ia sering sekali ke kamar mandi karena dorongan kebelet pipis yang terus menerus seperti orang anyang-anyangen sampai Lukman menyarankannya untuk memakai pampers tapi Laila menolaknya.
Bulan ke tujuh perutnya yang sudah membuncit tentu saja mengurangi kegesitannya dalam bergerak. Tidur terlentang sakit, miring pun sakit. Berjalan susah. menunduk nggak bisa.
Lukman hanya bisa memijat atau memenuhi keinginan sang istri meskipun kadang aneh untuknya.
Seperti tadi sebelum acaranya dimulai Laila mengacak rambut lukman yang sudah disisir rapi. Lukman yang dari dulu kurang memperhatikan penampilannya hanya pasrah saja.
Stelah rambut suaminya diacak-acak bukannya terlihat jelek malah terlihat semakin macho saja. Laila kemudian mengambil sisir dan sebagian rambut lukman diarahkan ke depan membentuk poni dan itu malah seperti model rambut orang korea. Rambut suaminya diarahkan ke kanan, kekiri, di belah tengah, diarahkan ke belakang semua, tapi suaminya masih saja terlihat tampan. Ia jadi frustasi kemudian mengacak rambut suaminya lagi dengan hati yang kesal. Ia tidak mau ada gadis yang melirik suaminya.
Lukman menatap wajah istrinya yang sudah tidak kesakitan lagi, mengusap keringat di kening sang istri kemudian melepaskan jilbabnya.
"Maafin aku ya yank.... aku yg sudah membuatmu seperti ini " kata Lukman setelah sesaat mencium kening istrinya yang terasa sedikit asam di bibirnya.
Laila menatap suaminya dengan jengkel. Raut mukanya tertekuk- tekuk berharap suaminya paham kalau dia sedang cemburu tanpa ia harus mengutarakannya. Gengsi.
"Kenapa?"
"Au ah..."
Lukman ikut naik ke pembaringan lalu memeluk istrinya yang memunggunginya,"Ngomong dong...! Ingat apa bang Alif tadi kan? Nggak boleh berharap pasangannya mengerti tanpa ia harus bicara. Alloh saja yang Maha tahu menyuruh kita mengucapkan surat alfatihah secara lisan di dalam solat kita. Bukan dalam hati..... Itu Alloh yang maha tahu. Sedangkan aku ini manusia biasa yang banyak dosa. Aku tidak tahu isi hati kamu apa. Ngomong dong....!Kenapa...hum?"
Laila berbalik menghadap Lukman dan tentu saja mereka tidak bisa berpelukan seperti dulu lagi karena terhalang perut buncit Laila. Lukman membenarkan rambut istrinya dan membelainya.
"Kenapa sih tadi mas caper sama cewek-cewek? Sadar dong.... mas itu sudah punya istri, mau jadi bapak, masih aja keganjenan?"
__ADS_1
"Caper....? ganjen....? kapan aku kayak gitu?" Lukman menaikkan volume suaranya dan itu membuat istrinya takut. Meskipun ia sudah berusaha lebih sabar pada istrinya tapi kadangkala masih saja ia kelepasan saat bicara.