Dr. Ani And Family

Dr. Ani And Family
lebay


__ADS_3

"Abang mau ngantar kakak?",tanya Doni pada Lukman.


"Hem...." Lukman mengeluarkan suara tanpa membuka mulutnya sambil memalingkan muka.


"Aahh..... aku jadi terharu..... makasih bang...." Doni yang merasa sangat bahagia kemudian memeluk Lukman dengan erat merasakan perhatian dan kasih sayang dari orang lain selain kakaknya.


"Lebay...."kata Lukman sambil membuang muka tapi tak mencoba membalas ataupun melepaskan pelukan Doni.


Doni melepaskan pelukannya dari Lukman dan mengusap sudut matanya yang berair.


"Duh sweetnya...." kata Karina sambil mengusap kepala Doni.


"Kamu kok nangis ....?" Karina memiringkan kepalanya ke arah Doni yang sedang mengusap matanya.


"Enggak kok, ngapain cowok nangis?"katanya berkelit dan mencoba menetralkan hatinya yang berbunga-bunga karena Karina memperhatikannya tapi ia juga kesal karena gadis manis itu memperlakukannya seperti seorang anak kecil.


Laila sudah selesai mandi dan memakai seragam kerjanya, hanya saja kali ini ia memakai celana panjang hitam bukan rok sepan seperti biasanya. Ia berdiri di bibir pintu menyaksikan keuwuan Lukman dan adiknya dengan rasa terharu.


"Wow..... cantiknya kakak ku. lihat bang! kakakku cantik kan bang?" Doni berdecak kagum saat melihat kakaknya yang terlihat anggun tidak seksi seperti biasanya. Ia menggoyang-goyangkan lengan Lukman dengan semangat


Semua mata melihat Laila yang tampil sederhana.

__ADS_1


Lukman yang penasaran pun melihat ke arah Laila. Ia melihatnya sekilas dari atas sampai bawah.


Rambutnya masih basah dan berantakan belum disisir rupanya tapi wajahnya terlihat fresh meski belum tersentuh make up seperti biasanya. Laila tadi keluar saat mendengar kegaduhan yang terjadi di terasnya. Ia lupa kalau belum menyisir rambut apalagi memakai make up nya.


Sungguh itu terlihat menggemaskan di mata Lukman yang kini hatinya berangan-angan sedang mencubit pipi gadis itu. Padahal ia hanya melihat sekilas saja tapi bayangannya melekat di otaknya. Dan apa itu? dia memakai celana panjang? Rasanya hatinya benar-benar bahagia karena Laila ternyata bisa berubah juga.


Nanti, hanya aku yang boleh melihat seberapa seksinya kamu. Eh,... Lukman tersadar dari kicauan di dalam hatinya kemudian melangkah menuju mobilnya


"Ayo berangkat!", kata Lukman.


"Kak ayo kak buruan...." kata Karina kepada Laila sambil masuk ke ruang tamu mengambil box peralatan medis yang sudah dirapikannya tadi.


" Eh... tapi aku belum siap-siap..." Laila ikut panik karena Laila dan Ani terlihat buru-buru.


"Abang lagi mode garang kak, jangan bikin dia kesal ya kak..." Karina mengatakannya sambil bergegas berjalan ke arah mobil.


Doni yang ikut panik kemudian segera berlari masuk ke kamar kakaknya untuk mengambil tas dan sepatu milik kakaknya.


Ani menggandeng tangan Laila dan membukakan pintu depan di samping pengemudi. Laila menatap Lukman dengan kesal tapi tak berani protes apalagi bersuara.


Lukman yang seperti acuh tak acuh dan terlihat hanya memandang ke arah depan menahan bibirnya agar tak terbuka. Rasanya ia ingin meledakkan tawanya karena ulah Laila yang hanya menatapnya tanpa bersuara

__ADS_1


'Kau pasti kesal dan mau marah kan.....' Ia mengusap wajahnya agar bibirnya tak terbuka untuk tertawa dan menyalahi otaknya. 'Tetap cool....'


"Ini kak, ayo naik buruan!" kata Doni yang sudah membawakan tas dan sepatu kakaknya.


ceklek brum brum brum.....


Laila naik juga akhirnya meskipun bersungut-sungut dan sumpah serapah sedang dia ucapkan dalam hatinya untuk Lukman yang bertindak seenaknya saja.


'Dasar culun


tua


tak tau diri


seenaknya saja


awas kau ya'


Laila memonyongkan bibirnya membuatnya terlihat semakin comel dan menggemaskan.


"Oh iya minum obat yang ada di meja ya, pakai juga salepnya. Kalau masih terasa nyeri kamu minta diantar ke rumah sakit saja sama bang Lukman . ok?" Ani menjelaskannya lewat jendela mobil pada Doni yang mengangguk bahagia serasa punya keluarga besar yang memperhatikannya. Banyak yang sayang padaku sekarang, batinnya kegirangan.

__ADS_1


"Sekolah yang bener ya adik kecil... jadi anak pinter! Jangan lupa sarapan dulu biar semangat!" Karina melongokkan kepalanya di jendela di belakang kakaknya.


Doni yang semula tersenyum kemudian merengut ketika Karina berbicara seolah-olah dia adalah anak kecil


__ADS_2