
Bu Jannah dan Ani sedang berjalan berdua menyusuri jalanan yang berkabut. Udara dingin pegunungan merasuk diantara kulit dan pori-pori. Keringat yang tadinya membasahi tubuhnya kini menguap begitu saja. Ani bersedekap untuk menghangatkan badannya juga membetulkan hodienya .
Ia harus menyesuaikan diri dengan cuaca baru yang akan membersamainya kira-kira setahun kedepan.
Ani tak bisa berhenti melihat kiri kanan. Matanya dimanjakan oleh keindahan alam yang membentang sejauh mata memandang. Bagaimana warna hijau dedaunan yang beraneka ragam dengan kabut yang menutupinya samar-samar. Buah yang bergelantungan di pohon dan kuncup bunga yang belum mekar sempurna. Ditambah biru putihnya awan yang berjalan perlahan berarak-arakan. Semuanya membuatnya berdecak kagum dan tak berhenti bergumam
"Masya Alloh....."
"Bu dokter..... nanti saya akan menyuruh anak saya untuk bantu angkat-angkat...."
"Eh... Nggak usah Bu. Yang berat-berat sudah selesai saya geser-geser, tinggal bersih-bersih saja. Bu ... panggil Ani saja! Kalau boleh.... anggap saja anak sendiri. Kalau salah tolong diingatkan kalau perlu dimarahi juga..!" Tak nampak bagaimana wajah Ani saat mengatakannya karena sebagian wajahnya tertutup hodie.
Bu Jannah menghentikan langkahnya dan melihat Ani yang berjalan mendahuluinya. Ia ingin memastikan kalau telinganya tak salah dengar.
Ani yang merasa Bu jannah tak berjalan disisinya kemudian menoleh dan melihat ke belakang, Bu Jannah sedang menatapnya dengan pandangan haru campur bahagia.
"kenapa Bu..?"
" Dokter tadi bilang apa?"
"oh.... panggil Ani saja!"
"Lalu...?"
"kalau boleh anggap saja saya ini anak ibu....!"
Bu jannah kemudian memeluk Ani, bahagia tak terkira sampai menitikkan air mata. Keinginannya untuk punya seorang putri akhirnya tercapai juga. Dalam benaknya ia sudah membayangkan akan melakukan berbagai macam hal bersama. Memasak, mengobrol dan menyisir rambutnya. Terbersit pikiran untuk menikahkannya degan putranya agar Ani terikat dengannya sampai bila.
__ADS_1
.
.
.
Terdengar bunyi berdebum sangat keras dan menggema ditempat yang tak begitu luas diantara bukit dan pohon yang bisa memantulkan suara.
Orang-orang yang sudah mulai beraktifitas berlarian menyongsong ke arah suara bahkan matahari masih malu-malu menampakkan cahaya nya. Ani yang memakai celana training bergegas berlari mengikuti beberapa pria yang menuju ke bawah jurang meninggalkan Bu Jannah yang berlari kecil karena nafas tuanya yang tak bisa diajak kompromi.
Saat akan menuruni tebing ada seorang lelaki yang berusaha menolongnya tapi ia hanya berterima kasih saja tak menanggapi tangan sang pria yang hendak membantunya .
Seseorang nampak jatuh menggelepar dibawah dahan pohon yang cukup besar. Ia merintih kesakitan dengan kepala yang tak bisa digerakkan. Sepertinya kepalanya terkilir. Beberapa pria yang sudah berada di tempat itu mengangkat dahan pohon mangga yang menimpanya.
Sekilas Ani mengamati keadaan, sepertinya dia jatuh dari pohon kelapa yang menjulang tinggi diatas mereka. Tapi dahan pohon yang menimpanya adalah dahan pohon mangga.
Belum selesai dia menganalisa keadaan yang terjadi ia dikejutkan dengan tindakan beberapa pria yang hendak mengangkat pria yang terjatuh tadi setelah mereka berhasil menyingkirkan dahan yang menimpanya.
"Tunggu tunggu...!!! tolong jangan diangkat ! ini sangat berbahaya! saya akan menelpon ambulance. " Ani merogoh saku kiri dan kanannya. Ini adalah ranah dokter ortopedi dan dia tidak bisa melakukannya. Sangat berbahaya untuk menggerakkan badannya. Sebaiknya telpon ambulance dan ikuti petunjuknya.
Perkiraan Ani sementara, lelaki itu juga mungkin mengalami hematoraks dan harus dibawa ke rumah sakit untuk pemeriksaan lebih lanjut oleh dokter ahli. Disamping juga karena ditempatnya tidak ada peralatan yang memadai.
Ia tak mendapati hapenya. Ia lupa tak membawa benda penting itu. Ia pun bergegas untuk naik ke atas dan menuju tempat tinggal nya untuk mengambil hapenya.
"Dia lompat lagi? Dia pikir dia monyet atau apa? Kalau aku nggak ada gimana? sudah mampus kali.." Terdengar suara bariton yang penuh kesombongan. Sekali mendengar orang akan tahu dia orang yang ditakuti didesa itu.
"Tolong pak Kardi..." kata pria yang masih tergeletak di tanah yang penuh dengan dedaunan.Ia masih tak berani menggerakkan kepalanya.
__ADS_1
Orang yang dipanggil pak Kardi tadi segera berjongkok dan memegang kepalanya.
"Jangan pak! " Ani kembali ke tempat kejadian sambil berteriak.
Pak Kardi menyipitkan matanya," siapa ini?" ia bertanya dengan menunjuk Ani menggunakan dagunya pada orang-orang yang ada disekitarnya.
"Saya dokter baru disini pak" jelas Ani.
"cih...." ia membuang ludahnya kemudian meneruskan aksinya. Ia menggerakkan kepala orang yang kesakitan tadi dengan paksa sampai terdengar bunyi kretek dan teriakan yang cukup kencang.
"aaaahhhh....." lelaki itu berteriak sangat keras hingga memekakkan telinga semua orang.
Lelaki yang baru saja berteriak itu kemudian duduk dan menggerakkan kepalanya ke kanan dan kiri seolah tidak terjadi apa-apa padanya.
"sudah nggak sakit lagi..." Ia berteriak karena saking bahagianya.
Ani yang melihat itu tercengang dengan kehebatan pak Kardi. Seperti seorang ahli ortopedi.
Pak Kardi tersenyum sinis seolah-olah mengejek Ani.
Ia merasa menjadi manusia bodoh sekarang dihadapan banyak orang. Ini hari pertamanya dan dia gagal menunjukkan jika dokter adalah penolong nyawa manusia.
Lelaki yang jatuh tadi kemudian mencoba menggerakkan kakinya dan lagi-lagi pak Kardi menolongnya dengan tangan ajaibnya.
"Mari lewat sini dokter..." Ani menoleh dan mendapati ustadz yang menolongnya kemarin ada disampingnya. Ia di tunjukkan jalan untuk naik ke atas melalui tangga yang terbuat dari tanah yang dipahat sedemikian rupa.
" Sabar dokter..... Disini masih banyak yang percaya dukun. Kalau sudah sangat parah barulah mereka mau pergi ke rumah sakit....."
__ADS_1
Ani menghela nafasnya. Perjalanannya ternyata tak semulus harapannya.