
Aku mendengar bunyi gemericik air dari dalam kamar mandi. Semalam ibu dan kak Zein menginap ditempatku karena kondisinya yang sangat lemah dan aku menginfusnya dengan memberikan cairan saline.
Cairan saline adalah jenis cairan infus kristaloid yang paling banyak digunakan dalam perawatan medis. Cairan saline ada yang mengandung natrium klorida 0.9 persen dan natrium klorida 0.45 persen yang larut dalam air.
Jenis cairan saline dengan natrium klorida 0.9% bertujuan untuk menggantikan cairan tubuh yang hilang akibat muntah, diare, perdarahan, asidosis metabolik, dan syok. Selain itu, cairan infus saline juga berfungsi mengembalikan keseimbangan elektrolit, dan berfungsi sebagai cairan resusitasi.
.
.
Ibuk masih ada disampingku, berarti yang di dalam kamar mandi adalah kak Zein. Aku bangun perlahan-lahan agar tidak mengagetkan ibuk yang masih lelap dalam tidurnya. Ku raih jilbab instanku dan pakai asal menutupi rambutku saja.
Aku berjalan ke depan melihat ke tempat praktekku untuk memastikan jika memang benar yang ada dalam kamar mandi adalah kak Zein.
Memang benar dia tidak ada diatas bed tempatku biasanya memeriksa pasien. Selimutnya tampak berserakan. Untungnya Infusnya tidak ada di situ. itu berarti infusnya masih menempel padanya. Aku kuatir saja jika dia mencabutnya secara paksa.
Aku kembali ke belakang. Ku bersihkan mukaku di wastafel dengan sabun pencuci muka kemudian aku berkumur dengan Listerine agar tidak bau padahal aku belum gosok gigi karena sikat dan pasta giginya ada di dalam kamar mandi.
Aku menunggunya di dekat kamar mandi, bersandar di dinding sambil berpikir banyak hal. Ingin sekali aku membantu membersihkan tubuhnya tapi itu tidak mungkin karena kami belum sah jadi suami istri.
Cukup lama dia berada di kamar mandi mungkin sedikit kesulitan karena infus nya.
Pelan sekali dia membuka pintunya sampai aku tak sadar tiba-tiba saja dia sudah berdiri disampingku.
"Sini.... " Aku hendak meraih infus yang dipegang tangan kanannya.
__ADS_1
"Aku sudah punya wudlu...." katanya sambil menjauhkan tangannya dari jangkauanku.
"Iya pak ustadz .... tau". Aku jadi ilfeel kan.
Ku pegang infus yang bagian atas agar kulit kami tak saling bersentuhan.
ishh dia ini, aku jadi gemes deh. Pingin ku uyel-uyel aja pipinya. Biar tahu rasa dia...
Hush.... pikiran.... jalan lurus ke depan. Jadi cewek kok pikirannya ngelantur nggak tahu aturan.
" Boleh Solat di sini kan? Aku sudah suci kok?"
Dia berhenti di depan kamar yang kupakai sebagai tempat solat.
"Disitu dingin kak! " kataku
"Di bed depan aja! solat sambil berbaring..! Badannya belum pulih benar... Ini juga masih pakai infus... Nanti sulit geraknya...."
"Aku sudah kuat jalan berarti aku kuat solat... sama berdiri... Ku lepas saja ya infusnya...?." Aku baru tahu ternyata dia keras kepala juga ya.
" Solat sama duduk kak! Denger nggak apa kata dokter?" Aku jadi emosi kan... Masih lemes gitu juga mau solat sama berdiri.
" Iya... baik bu dokter..! Saya akan patuh !" katanya
Aku mengatur tempat infusnya agar ia bisa leluasa solatnya.
__ADS_1
"Ada apa ini ? Jam segini sudah ribut saja?"
Ibuk ternyata sudah bangun dan mungkin terganggu dengan suaraku yang dari tadi ngegas .
"Maaf bu... Mas Zein... eh kak Zein mau solat sama berdiri padahal jalan saja masih pegangan sama tembok...." Aku mencoba membela diri di depan calon mertua.
Ibuk hanya geleng-geleng kepala sambil mengulum senyum.
Pagi harinya setelah aku melepaskan jarum infus dari tangannya aku memeriksanya lagi. Semuanya normal dan yang lebih mengherankan wajahnya kembali berseri seperti ketika dia sehat tak kelihatan kalau tadi malam kondisinya sungguh memprihatinkan.
Aku sebagai Dokter tentu saja bingung dengan keadaan ini. Apa yang sebenarnya terjadi pada tubuhnya?
Setelah kami sarapan bersama ibuk ke dapur dan dia menatapku dengan tatapan cemburu.
Ada apa dengannya?
"Kenapa tadi panggil mas Zein...? Kangen ya...?" Tanyanya.
"Hah..? Enggaklah. Salah sebut aja kak.... " Kataku jujur karena aku memang tak merindukan mas Zainal.
"Adik boleh kok balik sama dia...." Aku mengernyitkan kening ku menunggu perkataan selanjutnya.
"Asalkan... kalau aku sudah mati...."Katanya membuatku kesal saja.
"Ish... Ngomong apaan sih kak.....!" Aku mencubit lengannya dengan keras sampai dia mengaduh kesakitan.
__ADS_1
Akhirnya aku pun mengizinkan kak Zein untuk ke pondok dan menjalankan aktifitasnya seperti biasa karena memang kondisinya sehat dan normal. Bahkan wajahnya juga terlihat segar.