
Ani mengerjap-ngerjapkan matanya untuk mencari kesadaran dan mengembalikan nyawa pada tempatnya. Ia menoleh pada Zainal yang sedang membuka pintu untuk keluar dan melihat lukman kakaknya berdiri di sana.
zainal keluar dari mobil sambil nyengir kuda dengan tangan yang mengusap-usap tengkuknya. Pandangan lukman seakan ingin mencabik-cabik dirinya.
Lukman mendekati Ani yang baru turun dari mobil kemudian mencengkeram kepalanya dengan satu tangan.
" Lain kali kalau sedang di mobil berdua dengan pria kamu tidak boleh tidur ! Mengerti ? "
Ani mengembungkan pipinya karena tak bisa menggerakkan kepalanya yang sedang dikuasai oleh tangan abangnya
"ngantuk tadi bang.." cicit Ani
"pokoknya nggak boleh! lelaki itu hidung belang, kecuali abang. Ingat itu .....!
ada kotoran di matamu, hii.... cewek kok jorok gitu..!" kata Lukman menggoda Ani sambil mengacak rambutnya.
" aba....ngg..... !" geram Ani kemudian mengejar abangnya ke halaman rumah disebelah. Bangunan rumah jaman kolonial juga. Tampak tua tapi terawat. Bangunan khas Belanda dengan lantai yang tinggi beberapa kaki tapi sudah mendapat sentuhan tambahan disana sini yang membuatnya lebih asri
Seperti garasi dan penempatan beberapa kursi di bawah undak-undakan dan gazebo di sudut depan setelah melewati gerbang. Ditambah lagi tanaman sayuran dalam polybag yang tertata rapi dengan banyak variasi di sepanjang jalan. Ada tomat, cabai, selada, bayam merah, kemangi, lidah buaya dan banyak lagi yang lainnya.
Zainal berjalan santai mengikuti kekasihnya yang sedang berlari mengejar abangnya. Ia melihat sisi Ani yang lain, tampak manja saat dengan abangnya. senyumnya mengembang melihat tingkah keduanya. Sungguh menyenangkan mempunyai saudara.
__ADS_1
Zainal adalah anak tunggal yang hidup dikeluarga kaya. Ayahnya sibuk bekerja dan ibunya wanita sosialita yang punya banyak acara dengan kawan-kawannya. Jadilah dia sendirian dengan segudang les yang dibebankan padanya.
Enaknya punya saudara, bisa saling berbagi, saling menjahili... batin zainal.
Ani berhenti untuk bersalaman dengan seseorang yang sedang duduk sambil meresapi minumannya. Orang itu tampak sudah rapi dengan setelan kemeja dan celana kainnya dan siap untuk berangkat kerja. Orang yang biasa dia mintai untuk mengerjakan banyak hal tanpa rasa segan karena dikantor pria itu hanya seorang bawahan, ia adalah pak dirman.
Ani mencium tangan lelaki yang sudah beruban itu sambil mencoba mengadukan abangnya, " yah...!" rengeknya manja
"wlekkk...." lukman yang berdiri dibelakang kursi pak dirman menjulurkan lidahnya.
Mendapati anak-anaknya yang sudah dewasa dan terkadang masih ribut pak dirman kemudian menoleh ke anak lelakinya sambil memanggil dengan menggunakan isyarat jari telunjuknya. Dan saat Lukman sudah mendekatkan mukanya pak dirman langsung menyentil kening anak bujangnya itu dengan keras menggunakan jari tengahnya.
' cettakkk'
pak dirman tak menghiraukannya. Ia malah membelai rambut anak gadisnya yang tiba-tiba memeluknya sambil menaruh kepalanya di pundak sang ayah.
" Makasih ayah," kata Ani sambil menarik badannya dan berdiri seperti sedia kala
zainal kikuk melihat muka pak dirman yang dulunya takut-takut gimana.... gitu tapi sekarang nampak sedikit pongah saat berhadapan dengan Zainal. Tak ada lagi rasa takut-takut atau rasa malu-malu seperti dulu yang tak bisa menolak saat Zainal memerintahkan untuk mengerjakan sesuatu karena sifat malas dan manjanya zainal.
Kini pak Dirman benar-benar seperti seorang ayah yang protektif pada anak gadisnya dan memberikan tatapan mengintimidasi pada pria yang dibawa putrinya.
__ADS_1
Zainal berjalan mendekat ke arah pak Dirman kemudian menyalaminya seperti yang dilakukan oleh Ani, mencium tangan pak Dirman untuk yang pertama kalinya. Ia salah tingkah, harus duduk atau kah berdiri saja?
Pak Dirman menahan senyumnya karena melihat tingkah atasannya yang biasa memerintahnya kini bersikap kikuk dan salah tingkah. Bahkan muncul ide jahilnya untuk mengerjainya, kapan lagi coba?
"Nggak usah duduk! langsung berangkat aja anterin ayah!" kata lukman sambil menatap zainal.
" Abang nggak sopan, masak ada tamu kayak gitu! " kata Ani yang merasa malu pada zainal
"Ayah tadi mau berangkat kerja kan? bareng calon mantu aja yah"
" abang apaan sih bang "
" namanya calon itu belum tentu jadi An, tenang saja!"
"Apa an cobak..?" kata Ani mencebik
Zainal sebenarnya ingin duduk dan ngobrol sebentar dengan Ani tapi ia tak enak hati dengan keluarga kekasihnya. Ia melihat jam tangannya, masih ada waktu sebenarnya tapi ia sedang mencoba mengambil hati calon mertua dan kakak iparnya.
" Baiklah. Mari kita berangkat pak!" kata Zainal pada pak Dirman yang tampak menikmati perannya. Ia sama sekali tak menolak.
" Ayah berangkat dulu ya!" katanya berpamitan sambil mengambil tasnya kemudian Ani dan lukman menyalaminya.
__ADS_1
Kini zainal yang berjalan di belakang pak dirman seolah-olah ia adalah supirnya