
Setelah prosesi akad nikah sah dan doa juga sudah selesai di baca, Laila yang tadinya berada di dalam dengan para wanita diminta keluar oleh bang Alif.
Kak Mia menggandengnya keluar kemudian ia didudukkan disamping Lukman. Laila hari ini tampak anggun dengan pakaian yang longgar dan tertutup dan juga tampak manis dengan balutan kerudung yang menutup sebagian kepalanya karena hanya kerudung panjang yang ditautkan di atas pundak kanan kirinya.
Lukman dan Laila tampak kikuk, mereka duduk bersebelahan dan diam saja menanti perintah akan disuruh apa.
"Berikan maharnya, sudah sah kok. Dipegang juga sudah boleh sekarang !" kata bang Alif pada Lukman yang terlihat diam saja dengan wajah yang masih sedikit tegang
Lukman meraup mukanya dengan tangan kirinya kemudian memiringkan badannya sedikit dan memberikan uang satu juta yang sudah disiapkannya kepada Laila , istrinya sebagai maharnya. Laila pun menerima maharnya begitu saja tanpa melirik Lukman.
__ADS_1
"Salaman dulu untuk membatalkan wudhu!" kata kak Mia sambil memegang tangan Laila dan diarahkan pada Lukman. Pengantin laki-laki itu tampak gugup saat melihat uluran tangan istrinya. Ia menghadapkan badan sepenuhnya menghadap pada Laila kemudian menerima uluran tangan gadis cantik yang kini sudah sah menjadi istrinya.
Bang Alif memegang tangan kiri Lukman dan diletakkannya di ubun-ubun Laila. Bang Alif kemudian menyuruh Lukman untuk mengikutinya membaca doa, doa agar seorang istri diajuhkan dari perilaku dan akhlak yang buruk.
Sepasang suami istri itu saling mencuri pandang saat melepaskan tangan mereka setelah selesai berdoa. Pak Dirman kemudian menyerahkan kotak kecil dari dalam sakunya pada Lukman sambil berkata,
"Ini untuk istrimu dari mendiang ibumu. Dia berpesan agar memberikan ini untuk menantunya dan memintaku untuk mengatakan , tolong dampingi Lukman dalam suka dan duka dan raihlah surga bersama-sama semoga kita ditakdirkan untuk berjumpa kelak di akhirat ditempat yang mulia." Pak dirman mengatakan wasiat istrinya sambil mengusap air yang menggenang di mata tuanya.
Semua yang hadir pun ikut terbawa suasana haru terutama yang berada di ruang tamu.
__ADS_1
"Sudah-sudah.....ini hari bahagia jangan menangis lagi" kata pak Dirman sambil merengkuh gadis yang sedang menangis di depannya. Laila merasa mendapatkan orang tua lagi. Ia merasa terharu dan bahagia karena kini ia memiliki keluarga.
"Pasangkan cincin istrimu!" kata pak Dirman pada Lukman yang dari tadi diam saja, bingung harus berbuat apa.
Lukman memasangkan cincin di jari manis Laila dan ternyata pas. Entah itu suatu kebetulan ataukah insting seorang ibu nyatanya cincin itu pas ditangan Laila . Mata Laila berbinar bahagia dan Lukman sempat melihatnya. Ia pun mengulum senyum melihat senyum istrinya.
"Mari bapak-bapak silahkan di nikmati hidangan yang ada , mohon maaf ala kadarnya. Persiapannya buru-buru soalnya!" kata bang Alif mewakili keluarga
Bang Alif berembuk dengan Lukman dan pak Dirman membicarakan pernikahan sebaiknya dilaksanakan tanggal berapa? Kemudian bang Alif seperti memberikan beberapa opsi dan meminta Lukman untuk membicarakannya dengan istrinya yang sudah duluan masuk ke dalam.
__ADS_1
Para warga asyik berbincang sambil memakan hidangan yang ada di rumah yang biasanya sepi karena tidak aktifitas semacam ini semenjak Laila dan Doni mengontrak di daerah sini.