
Zainal menunggu beberapa waktu untuk memastikan jika pasangan suami istri itu sudah tidak berada di ruang tamu.
Ia berdiri di ambang pintu sambil mengucap salam
"Assalamualaikum....."
"Waalaikum salam warahmatullah. Masuk Zein..!," bang Alif yang masih berada di dalam menjawabnya dengan suara agak keras . Zainal kemudian berjalan masuk dan menaruh parcel buah serta kue yang ada didalam kotak ke atas meja kemudian dia duduk manis di sofa yang jauh berbeda dengan sofa dirumahnya.
Tak lama setelah itu bang Alif keluar dengan baju santainya. Memakai kaos oblong dengan sarung, bukannya terlihat seperti pria tua tapi malah membuat bang Alif terlihat lebih sesuatu gitu. Ganteng-ganteng alim terus enak dipandang gitu, pokoknya nggak akan ada orang yang bosan melihatnya, berkharisma.
"Bang ..... gimana kelanjutannya Siti Zainab dulu. Aku sudah ketinggalan ceritanya banyak ...." Tanpa basa basi Zainal langsung mengungkapkan keingintahuannya saat bang Alif sudah duduk dihadapannya .
__ADS_1
"Sampai mana dulu?" Bang Alif seperti biasa menjawabnya dengan santai. Zainal yang lelaki saja suka berlama-lama dengan bang Alif apalagi istrinya. Wajahnya itu selalu berhias senyum dan ramah. Sepertinya bang Alif itu tak pernah marah, wajahnya itu loh terlihat sabar, berwibawa dan memancarkan aura kebahagiaan bagi setiap orang yang sedang memandangnya atau yang sedang berada di dekatnya.
"Zein....."
"Eeh.... iya bang....." ia malah fokus menelisik paras bang Alif dengan seksama sampai tak mendengar pertanyaan yang ditujukan padanya.
"Sampai mana ceritanya?" bang Alif menekuk sebelah kakinya ke atas sofa, setengah bersila dan kaki yang satunya dibiarkan tetap terjuntai ke bawah.
"Siti Zainab dan Abi Al ash hidup dengan damai dan sejahtera di rumahnya yang baru. Mereka dikaruniai seorang anak laki-laki yang bernama Ali bin Abi Al ash dan seorang putri yang bernama umamah.
Sampai suatu hari ketika Siti Zainab datang ke rumah ayahnya di saat Abi al-ash pergi berdagang, ia melihat ibunya yang demikian sibuk sampai tidak mengenali orang yang berada di depannya. Ibunya langsung masuk ke kamar ayahnya dan tinggal beberapa lama sebelum masuk ke kamar putri-putrinya.
__ADS_1
Siti Zaenab mendengarkan kata-kata ibunya yang sangat menakjubkan tentang turunnya wahyu kepada ayahnya kala berhalwat di gua hiro. Kemudian Siti Zainab juga masuk Islam mengikuti ibu dan adiknya Fatimah.
Siti Zainab dan Abi Al ash tetap bersama dalam waktu yang cukup lama meskipun Abi Al ash tetap memegang keyakinan nenek moyangnya. Kehidupan rumah tangganya sungguh memilukan karena perbedaan keyakinan.
Kesehatan Siti Zainab merosot karena suami yang diharapkannya masuk Islam tetap teguh dengan keyakinannya. Dan itu membuat Abi Al ash bersedih tapi ia belum bisa berpaling mengikuti keyakinan istrinya.
Mendung kelabu itu tidak cepat berlalu bahkan semakin hari semakin tebal. kaum Quraisy sudah mulai dengan aksi teror nya dan penganiayaan kepada para pengikut nabi Muhammad.
Saat Bani Hasyim di boikot di lembah Abu Tholib Siti Zainab tidak termasuk orang-orang yang terkena aksi boikot. setiap hari ia mencari kabar dan kadang mendapat laporan di rumah suaminya tentang keadaan keluarganya yang menderita dan terisolir di lembah abu Thalib.
Setelah masa pemboikotan berakhir tak lama kemudian aku Tholib meninggal dunia. belum selesai duka ayahnya, disusul ibunya Khadijah Al kubro juga meninggal dunia kembali keharibaan ilahi meninggalkan duka yang teramat dalam di hatinya maupun di hati ayahnya
__ADS_1