
Selama satu minggu mereka tidak berkomunikasi sama sekali. Keduanya merasa gengsi. Ani merasa sudah berusaha untuk minta maaf dan membujuk Zainal yang saat itu sedang ngambek ketika Zainal mengantarnya pulang.
Zainal ingin Ani yang menelponnya terlebih dahulu atau setidaknya kirim pesan saja untuk merayunya sampai dia memaafkannya atau paling tidak sampai ia tersenyum kembali.
Harapannya pupus sudah. Mengharapkan kekasihnya itu untuk menghubunginya terlebih dahulu itu seperti mengharapkan bintang jatuh dari langit..
Biasanya Zainal tidak suka tipe cewek yang suka cari perhatian dengan kirim-kirim pesan, foto, apalagi yang suka telpon tapi nggak ada urusan yang perlu dibahas. Menurutnya itu hanya membuang-buang waktu dengan sesuatu yang tidak jelas.
Dan sekarang ia malah ingin kekasihnya itu menghubunginya duluan. ishh...... kenapa saat bersama Ani sifatnya sekarang berubah jadi manja. Ingin disayang-sayang, dimanja-manja bahkan ia yang punya prinsip tidak ingin menyentuh gadis selain istrinya nanti sekarang jadi sering kebablasan meski tidak bersentuhan langsung seperti saat ia mendorong lengan Ani atau seperti waktu itu ketika melihat Ani menangis sewaktu di rumah sakit ia malah merentangkan tangannya agar Ani memeluknya, untungnya Ani memilih menumpukan lengannya di punggungnya.
Ada apa dengan dirimu Zainal?
.
.
.
Sore itu Zainal menuju rumah Ani karena ingin ikut pengajian bang Alif dan niat lainnya adalah untuk melihat kekasihnya karena ia sudah tidak bisa menahan rindunya. Melihat fotonya melalui media sosial saja tak akan sama dengan bertatap muka. Ia bertekad akan mempertahankan hubungannya dengan Ani bagaimanapun caranya. Dia juga akan berusaha semaksimal mungkin untuk membuat hati ibunya luluh.
Apapun yang terjadi aku tak akan melepaskanmu. Hanya aku yang akan menikah denganmu, kau hanya akan menjadi milikku seutuhnya- tekad Zainal dalam hatinya.
Zainal tiba di depan rumah Ani saat sola-sola, kira-kira sepuluh menit sebelum adzan Maghrib. Ia langsung memarkirkan mobilnya di parkiran masjid dan hanya menoleh ke rumah Ani sekilas saja barangkali bisa melihat sekelebat bayangan dari sosok yang sudah mengobrak abrik hatinya seminggu ini.
__ADS_1
Kali ini Zainal tampil tidak seperti biasanya. Ada peci hitam menutupi sebagian rambut dan kepalanya. kemeja yang biasanya di masukkan ke dalam celana kini dibiarkannya diluar menutupi sebagian celananya. Hal itu membuat Zainal tampak alim dan berkharisma.
Zainal mengikuti solat berjamaah dan pengajian bang Alif dengan khusyuk. Setelah pengajian usai dia mengeluarkan kotak-kotak yang berisi kue dari dalam mobilnya yang dia siapkan untuk para jamaah. Sebagian ada yang langsung memakannya di serambi masjid dan ada pula yang membawanya pulang karena Isyak masih kurang beberapa menit lagi.
Para jamaah kusak kusuk penasaran dengan sosok Zainal yang beberapa kali sempat ikut solat dan mengikuti pengajian di masjid kampung mereka.
Sambil berbincang di serambi bang Alif menjawab rasa penasaran para jamaah dengan mengenalkan Zainal sebagai teman adiknya Ani.
"ooohh...... pacarnya bu dokter......?"
"Calonnya neng Ani to....."
"Cocok ya ustadz.... kalau sama Bu dokter?"
Merekapun bercakap-cakap dengan akrab sampai waktunya adzan Isyak.
.
.
Setelah solat Isyak para jamaah meninggalkan masjid dan tinggallah anak-anak dan para remaja yang berkumpul di serambi masjid. Dan seperti biasa bang Alif masih meneruskan solat sunnah, dzikir dan wirid nya di masjid. Sedangkan Zainal menunggunya di serambi pojok sambil menyaksikan anak-anak dan remaja yang kini sedang belajar Hadrah atau terbangan sambil solawatan.
Setelah bang Alif keluar Zainal mendekatinya.
__ADS_1
"Habis ini ada acara apa enggak bang?"
"Nggak ada, kenapa?"
"Aku mau kesana , tanya-tanya sama Abang. Bentar ya bang!" Zainal menuju mobilnya kemudian mengambil satu kresek buah-buahan dan membagikannya kepada anak-anak dan para remaja yang ada di serambi masjid.
"makasih banyak bang....."anak-anak bersorak gembira karena mendapat rejeki buah-buahan yang termasuk makanan istimewa dan mahal untuk mereka.
"Sama-sama " Zainal merasa bahagia karena melihat kegembiraan yang terpancar dari mata mereka.
Zainal segera mengambil parcel buah-buahan dan satu kotak kue dari dalam mobilnya kemudian segera menyusul bang Alif ke rumahnya.
Saat mendekati pintu ia tak melanjutkan langkahnya karena mendengar sesuatu yang membuatnya iri.
"mmuuuuuuuuaahhhh....... muah muah......mas kamu kok makin ganteng sih mas. Aku jadi gemes deh iiiiihhhh...." Mia menciumi wajah suaminya yang baru pulang dari masjid.
"Iya..... nanti dilanjutkan di kamar ya!!! kenapa nggak pakai kerudung? "
"Kan nggak ada orang?"
"Kalau tiba-tiba ada orang masuk gimana? buruan masuk Zainal mau kesini!" bang Alif menghadiahi kecupan di kening istrinya agar istrinya itu mau
menuruti perintahnya dengan senang hati.
__ADS_1
Zainal yang mendengarkannya dari balik tembok hanya bisa menelan salivanya dan berharap semoga bisa segara menghalalkan kekasihnya dan dia berjanji akan lebih romantis daripada bang Alif dan Kak Mia.