
Zainal
"Bismillahirrahmanirrahim..... subhanalladzi sakkhoro lana hadza wa makunna lahu muqrinin wa inna ila ronbina lamunqolibun...."
Aku mulai mengayuh sepedaku menuju ke rumah bang Alif. Hari ini aku memakai kaos dengan bawahan celana training, sepatu kets putih dan topi berwarna hitam yang bisa melindungi kepalaku dari sengatan panasnya matahari.
Hatiku riang gembira karena Mamaku sudah berkata tidak akan menjodoh-jodohkan aku lagi. Bahkan secara tak langsung mama mempersilahkan aku jika aku ingin kembali menjalin hubungan dengan Ani.
Aku ingin memberitahukan hal itu pada bang Alif. Aku akan mengatakan bahwa setelah aku berpasrah diri dan menerima takdir yang digariskan Alloh padaku ternyata aku tak perlu bersusah payah karena Alloh bekerja dengan tangan Nya. Dengan begitu mudahnya Dia membolak-balik kan hati mamaku.
Semoga masih ada kesempatan untukku meminang Dokter kesayanganku dan menjadikan dia istriku. Sebelum janur kuning melengkung bukankah masih ada sedikit harapan?
Aku sangat bersemangat pagi ini. Mengayuh sepeda gunungku dengan menikmati suasana pagi di jalanan. Jika menggunakan kendaraan bermotor butuh waktu sekitar 30 menit untuk sampai ke sana. Jika naik sepeda mungkin 45 menit atau lebih.
Hawa dingin menyeruak saat aku keluar dari pagar rumahku. Dingin tapi segar apalagi setelah mengayuh beberapa lama sinar matahari mulai terasa hangat masuk ke dalam pori-pori kulitku.
Aku tersenyum saat sudah sampai di gerbang rumah bang Alif. Turun dari sepeda dan menuntunnya ke pekarangan yang luas dan hijau itu. Rumah yang terkesan kuno tapi selalu membuatku ingin kembali lagi dan lagi.
Dari tempatku berdiri aku bisa melihat seorang wanita yang berjilbab sedang duduk di depan stroller bayi dan ada lelaki yang berdiri disampingnya melihat bayi itu. Itu bukan bang Alif. Lalu siapa?
Aku berjalan pelan-pelan menuju teras yang berada lebih tinggi dari pekarangan rumah itu. Samar-samar aku seperti mendengar suaranya. Suara dokter ku. Semakin kakiku naik aku semakin menajamkan mata dan telingaku.
"Mana senyumnya Mar?"
Ani...... Ani ku. Aku tercekat melihatnya. Aku masih berdiri di tangga sambil menatap gadis cantik yang sedang duduk di depan troller bayi sambil berbicara pada bayi yang sedang menggerak-gerakkan tubuhnya seperti seseorang yang naik sepeda, mancal-mancal. Kaki ku serasa terpaku di tangga.
Ani ku sekarang sudah berkerudung. Masya Alloh... makin cantik dan menenangkan.
__ADS_1
Lelaki tampan itu menowel-nowel pipi Maryam.
Siapa dia? Bukan sainganku yang bernama zein
itu kan?
Oh noo.... lelaki itu sangat tampan, wajahnya kekorea-korea an, seperti opa-opa di drama korea. Tentu saja aku kalah telak jika dibandingkan dengannya.
"Bu dokter nanti ingin punya anak berapa?"
Hah.... apa maksud dari pertanyaan lelaki itu?
Ya Kariim, sudah sedekat itu mereka. Dan lihatlah wajah Ani yang bersemu merah mendengar pertanyaan lelaki yang berdiri tak jauh darinya.
"Kalau ustadz pinginnya berapa?" Ia mendongakkan kepalanya ke arah orang yang dipanggilnya ustadz dengan wajah malu-malu tapi sedikit menantang.
No no no....
kata-kata itu tercekat di tenggorokanku saja. Semoga itu hanya pradugaku saja. Iya ini hanya perasaanku saja. Mereka hanya teman biasa. Iya hanya teman.
Aku mencoba untuk meyakinkan diriku sendiri.
Rina keluar dari ruang tamu dan melihatku yang masih saja terpaku di tangga melihat Ani.
"Kak....." Panggilnya pada Ani.
"Hem...?" Ani menoleh pada Rina yang sedang menatapku sehingga Ani ikut melihat ke arahku.
__ADS_1
Deg.....
Mata kami bertatapan....
Ada rasa yang tak bisa ku jelaskan....
Aku......
An.....
Di....
Ani berdiri kemudian menoleh pada pria disebelahnya.
"Loh.... ada tamu kok di biarin saja...." Kak Mia kini sudah berada di antara mereka. Sambil mengambil Maryam yang ada stroller kak Mia berkata," Ayo masuk om Zainal. Maryam sudah selesai berjemur...."
Aku menapakkan kakiku yang terasa berat untuk kembali melangkah lebih mendekat.
"Om Zainal.... ini ustadz Zainuddin, calonnya Ani...." kata kak Mia yang kini memanggilku om, itu terdengar seperti peringatan untukku.
Aku tak bisa menyembunyikan raut wajahku yang syok ketika mendengar perkataan kak Mia
Ustadz Zainuddin itu mengangsurkan tanggannya padaku mengajakku bersalaman.
Oh..... rasanya aku ingin menulikan telingaku mendengar kabar yang tak pernah ku inginkan.
Hancur lebur sudah harapanku.
__ADS_1