
Laila langsung membik-membik. Air mata sudah menggenang di pelupuk matanya dan bibirnya sudah siap untuk menangis.
"Sst.,. sst... sstt.... jangan nangis...jangan nangis...ya! Mas minta maaf.....! Kelepasan tadi... Ya sudah kita tidur, biar mas nggak ganjen, nggak caper sama cewek-cewek ya....?" Lukman meraih kepala laila agar berbantalkan lengannya.
"Bukan gitu.... Maksudku nggak gitu."
pasrah aja lah! batin lukman. Tadi bilang katanya aku begitu, sekarang katanya nggak begitu. terserah dirimulah sayangku..,
"Mas itu jangan lihat cewek-cewek.... biar mereka tahu kalau mas itu sudah punya istri....."
"Iya... baik nyonya Lukman..,. akan saya ingat.,"
"Nggak boleh jauh-jauh dari aku...."
"iya...."
"Aku nggak bercanda mas.... jangan iya iya terus.....!!!"
"Baiklah akan saya ingat nyonya Lukman...."
Lukman membelai rambut Laila lalu mencium kening istrinya itu lagi. Laila pun memilih tempat di ketiak Lukman yang menurutnya punya bau yang enak dan menenangkan jiwa raganya.
Lukman bersyukur karena sekarang laila sudah cinta mati sama dirinya.
Bucin kalau istilah anak jaman sekarang.
"Ingat nggak waktu aku ngajak nikah kamu dulu?"
"Memangnya kenapa?" Tanya Laila sambil mendongakkan kepalanya.
"Dulu tuh kamu kayak kepaksa nikah sama aku.... kalau tahu sekarang nggak mau lepas sama aku, pasti dulu aku nggak akan malu-malu waktu pertama kali jadi suamimu..."
__ADS_1
"Malu.....? Kapan kamu malu mas?"
"Ya....waktu malam pertama...."
"Ish... malu apanya coba?!!" Laila mencebik mengingat bagaimana sikap Lukman dulu.
"Emang dulu kamu nggak ada rasa suka padaku sama sekali yank?" Tanya lukman penasaran saat ingat bagaimana dulu laila seakan membencinya dan menikah dengannya karena terpaksa.
"Suka sih tapi kan kamu dulu nyebelin banget mukanya mas. Sebel jadinya...."
"Kalau sekarang masih nyebelin nggak?" Tanya lukman lagi.
"Enggak.... sekarang ngangenin....." Jawab Laila jujur dan itu membuat Lukman terbang ke awan merasa seolah-olah menjadi suami idaman istrinya.
"Makasih ya....sudah mau menerima aku sebagai suamimu meski saat itu aku masih sangat jelek, miskin..... dan sampai sekarang belum kaya-kaya juga...." Kata Lukman sambil menangkup kepala istrinya agar mereka bisa salinh bertatapan dengan mesra.
Laila memandang suaminya dengan rasa bahagia karena ingat Lukman selalu ada untuknya saat ia butuh pertolongan dan kini semakin menyayanginya.
Lukman tersenyum mendengarkan penuturan istrinya dengan seksama kemudian mengusap perut buncit istrinya," Terimakasih sudah bersedia menjadi ibu anak-anakku....." Lukman kemudian mengusap air mata di wajah Laila. Ia kemudian mencium bibir istrinya dan memagutnya agak lama. Laila memejamkan matanya mengikuti kata hatinya. Ia begitu menikmati ciuman yang semakin lama semakin menuntut itu.
Lukman melepaskan tautan bibirnya kemudian mengusap bibir istrinya yang basah dan Laila membuka matanya yang kini sudah berkabut nafsu dan gairah. Seolah ia tak mau berhenti sampai di situ saja.
Lukman bukannya tak tahu itu tetapi ia lebih menekan hasratnya agar tak menyakiti istrinya yang sedang hamil tua.
Nafas Laila tak beraturan dengan mata merah yang berkabut gairah dan mendamba episode panas dari suaminya, pria yang dicintainya, ayah dari anak yang ada dalam kandungan nya
"Ma,...s...!", suaranya mendesah pelan. Ia menarik-narik baju sang suami berharap suaminya mengerti apa yang kini diinginkannya.
Laila mengecup bibir lukman sekali. Dua kali dan lagi," sayang..... pingiiin..." rengek Laila manja.
Ia sadar saat mengucapkannya meski setelah nya nanti dia pasti akan merasa sangat malu karena memintanya lebih dulu. Sekarang kepalanya sudah pening serasa mau meledak jika hasratnya tak segera dipenuhi. Sekujur badannya pun sudah panas karena darahnya sudah mendidih ingin menyalurkannya dengan bergulat bersama sang suami.
__ADS_1
"Yank.... nanti perut kamu sakit...."Lukman mencoba membujuk istrinya karena biasanya setelah mereka mereguk indahnya surga dunia di kasur, paginya Laila akan merasakan sakit perut yang hebat. Lukman tak tega jika mengingatnya.
"Enggak..... aku nggak akan ngeluh....." Laila merengek meyakinkan suaminya. Ia seakan lupa bagaimana dirinya saat kesakitan setelah malamnya bersenang-senang. Yang penting sekarang dia menginginkan suaminya dan mencicipi nikmatnya surga.
"Baby....."
"Pakai cara lain ya..."
"Nggak mau, maunya yang itu ....." Rengek laila sambil melirik pusaka Lukman. Matanya tergenang air dan siap menumpahkannya.
"Katanya suami istri itu tempat bercocok tanam. Kapan saja boleh didatangi. Fungsinya seperti baju untuk menutupi aurot dan memperindahnya. Kalau zina itu dosa besar tapi kalau berhubungan suami istri itu pahalanya sangat besar seperti orang yang berjihad. Allohu akbar....!!!!" Laila bahkan meneriakkan takbir dengan mengepalkan tangannya. Kata-kata Laila yang absurd dan kemana-mana membuat suaminya mati kutu. Mungkin saking berhasratnya sampai-sampai istrinya itu mengeluarkan semua jurus yang dia punya.
Lukman memandang wajah Laila dengan seksama,"Ini beneran istriku?" Tanya lukman sambil tersenyum menggoda membuat Laila salah tingkah.
"Jangan lihat kayak gitu.... " Laila menyelundupkan kepalanya di dada Lukman karena malu.
"Ngapain dulu aku insecure waktu deketin kamu? Tahu kalau begini...," Lukman suka sekali menggoda istrinya.
"Kenapa memangnya kalau aku seperti ini....? Aku kan mintanya sama suami aku. Nggak ada yang salah kan...."
"Kenapa istriku jadi mesum begini ya....." Lukman memegang dagunya, pura-pura sedang berpikir.
"Mas...!! ini juga karena kamu mas. Kamu yang ngajarin aku kayak gitu. Kan jadi ketagihan...." Laila memelankan suaranya di akhir kalimatnya.
Lukman mencoba mengalihkan pembicaraan agar istrinya lupa dengan keinginannya. Bukannya Laila lupa dia malah memainkan mainan kesukaannya yang ada pada Lukman dan sontak membuat Lukman membelalakkan matanya. Ia yang sedari tadi mencoba menekan hasratnya tak kuasa untuk menolak rayuan maut sang istri.
"Janji besok nggak kesakitan perutnya ya.... " Kata Lukman sambil memulai aksinya.
"hehem" Laila mengangguk dan raut mukanya langsung ceria karena keinginannya terpenuhi.
Malam itu adalah malam pertama dokter Ibrahim dan Karina tapi ada pengantin lama yang tidak mau ketinggalan . Mereka juga mereguk manisnya malam pengantin di hotel yang sama. Dengan kondisi sang istri yang hamil besar tentu saja mereka harus mencari posisi yang saling menyenangkan kedua belah pihak.
__ADS_1