Dr. Ani And Family

Dr. Ani And Family
kantin


__ADS_3

Zainal melangkah ke arah resepsionis dan menanyakan keberadaan dr Ani. Setelah mendapatkan jawaban dia memberikan kotak besar yang dibawanya di meja resepsionis.


"silahkan dimakan bersama " kata Zainal kemudian segera berlalu menuju ke ruangan IGD, tempat praktek dr. ani.


Rina yang bergelar sebagai asisten dr Ani mengetahui keberadaan zainal yang baru datang dan menghampirinya.


"Siang pak zein, ada yang bisa saya bantu?", karina bersemangat menyapa Zainal.


"bisakah saya bertemu dengan dr. Ani?" Zainal menjawab pertanyaan karina dengan pertanyaan juga.


"baik tunggu sebentar!"


Karina kemudian menelpon orang yang dimaksud.


"Silahkan masuk, dr ani ada di dalam ruangannya!" kata karina sambil mempersilahkan dengan tangannya yang diarahkan pada ruang praktek dr. Ani


"terima kasih" jawab zainal singkat.


Zainal mengetuk ruangan itu sebentar kemudian masuk kedalamnya setelah mendapat izin dari orang yang berada di dalamnya.

__ADS_1


Dokter Ani terpana sesaat pada penampilan Zainal yang seperti eksekutif muda ditambah dengan wajah manisnya yang seperti madu yang menyehatkan badan bagi tiap-tiap orang yang meminumnya bukan seperti gula yang menyebabkan penyakit diabetes yang bisa menimbulkan berbagai macam penyakit lainnya dan pernah diklaim sebagai penyakit yang paling mematikan menggeser posisi kolesterol. beuh....


" Mari silahkan duduk! apa ada yang bisa saya bantu?"


Zainal menyerahkan kotak kecil yang berisi donat pada dr Ani.


"saya ingin mengajak dr Ani untuk makan siang. Dokter tidak sibukkan?" kata zainal to the point.


"ini untuk apa pak zain?" kata dokter ani sambil memegang kotak yang bergambar donat-donat itu.


..." kebetulan tadi saya melewati toko donat dan ingin membelinya. Jadi... apa kita bisa makan siang bersama dokter?"...


"No problem", jawab Zainal singkat.


"Baik tunggu sebentar!" jawab dokter Ani sambil mengetikkan enter, menyimpan data-data yang sudah selesai ditulisnya kemudian mematikan komputernya. Menutup buku catatannya dan mengembalikan semua peralatan tulisnya pada tempatnya.


Dokter Ani berdiri sambil mengumpulkan rambutnya menjadi satu dan mengikatnya dengan gelang karet tepat dibelakang kepalanya. Dia berjalan keluar terlebih dahulu. Zainal kemudian mengikutinya.


Saat tiba di meja Karina, dokter Ani tidak melihat sosoknya . Dokter Ani berhenti di meja resepsionis kemudian menanyakan keberadaan Karina.

__ADS_1


"Tadi di panggil ke ruangannya Dokter ibrahim dok", kata salah satu resepsionis.


"Oohhh.... nanti kalau dia bertanya tentangku tolong katakan aku ke kantin duluan!" pinta Dokter Ani


"baik dok. "


"Terima kasih donatnya pak!" kata para resepsionis sedikit berteriak pada Zainal saat keduanya berjalan meninggalkan mereka.


Zainal berjalan mensejajarkan langkahnya disamping Dokter Ani dengan jarak aman.


Sesampainya di kantin Zainal menuju kafetaria untuk umum dan memesan nasi, sayur asem, tempe, bebek plus sambel.


Sedangkan dokter Ani ikut antri di tempat karyawan mengambil jatah makan siangnya.


Zainal menunggu di tempat duduk yang berada di pojokan. Desain tempatnya sangat unik, pikir Zainal. Disamping Stand karyawan rumah sakit terdapat beberapa kios yang berjualan nasi untuk para pembesuk dan keluarga yang menunggui para pasien. Di depannya terdapat meja makan panjang yang lumayan banyak yang bisa dipakai siapa saja.


Zainal melambaikan tangannya saat melihat Dokter Ani sedang mencarinya.


Keduanya duduk berhadapan dan saling melihat makanan yang dibawa orang yang duduk di depannya. Kemudian mereka mulai menyantap makanan masing-masing dengan tenang sampai datangnya seseorang yang langsung duduk di sebelah Dokter Ani

__ADS_1


__ADS_2