
Pagi-pagi setelah solat subuh Zainal merayu sang istri , meminta kembali menarik selimut dan bergelung di bawahnya. Mereguk manisnya cinta dengan sentuhan tanpa batas yang sudah sah, halal lagi berpahala. Saling berpacu untuk meraih puncak kenikmatan dengan diawali do'a sesuai yang diajarkan agama.
Hawa dingin yang menyelimuti pagi hari berubah menjadi panas di kamar mereka. Peluh dan suara-suara mendayu yang keluar dari bibir keduanya menjadi penanda jika dua orang insan itu sedang tidak berpijak di bumi melainkan sedang melayang di atas awan mencicipi setitik rasa dari surga yang tak bisa dijabarkan dengan kata-kata.
Sang istri sebenarnya sedikit keberatan saat si suami meminta melebur menjadi satu karena mereka harus berpacu dengan waktu. Tapi sebagai pengantin baru dia belum berani menolak permintaan suami seperti yang diwanti-wanti kakak iparnya. Dosa besar katanya jika sampai menolak suami, Malaikat dan seisi bumi akan melaknatnya.
Pun karena belaian lembut penuh sayang dan puja dari suami membuatnya ikut lupa diri. Menikmati dengan lebih berani, bergerak mengikuti kata hati, mengikis habis rasa malunya. Tidak seperti semalam, Ani hanya diam menerima segala perlakuan Zainal. Tidak berani bergerak untuk mengimbangi suami karena rasa malunya masih kuat bercokol di kepalanya. Jadilah hanya Zainal yang bergerak sendiri mencari posisi terbaik untuk dirinya dan juga untuk sang istri.
Kali ini Ani benar-benar di luar ekspektasi Zainal. Istrinya itu bahkan sudah berani mengeluarkan suara-suara indahnya saat Zainal memacunya. Sampai keduanya sampai di puncak kenikmatan dengan peluh di sekujur tubuh mereka diiringi hati yang mengucap syukur Alhamdulillah.
Zainal memeluk tubuh Ani yang hendak bergerak untuk memunggunginya karena malu yang tiada tara atas aksinya yang diluar kendali tadi.
" Apa ini istriku?" Zainal bertanya sambil menarik dagu si cantik bermata jernih agar bisa saling menatap. Dalam beberapa detik saja wajah Ani langsung merah merona. Ia pun segera bersembunyi di dada sang suami yang terasa hangat dan menenangkan.
__ADS_1
"Aku merasa menjadi guru yang berhasil mendidik muridnya. Baru semalam kuajari bagaimana cara bercinta pagi ini istriku sudah sangat mahir sekali...."
"Ishhh.... guru apa? Terlihat sekali kalau mas juga baru mengenal dan belajar tehnik-tehnik menyatukan raga dua insan seperti tadi malam. Masih amatir...!!" Kata Ani.
"Oh ya? Ayo kita buktikan siapa yang pro dan siapa yang masih amatiran?"
" Tidak mau!!" Ani sudah lupa dengan petuah kakak iparnya karena mereka harus segera bersiap menuju kediaman Zainal untuk mengadakan pesta pernikahan di rumah mempelai laki-laki.
"Ya baiklah... kita bisa melakukannya nanti malam lagi.." Kata Zainal dengan penuh arti sambil menaikturunkan alisnya yang tebal.
"Mas..... !!! bisakah ini tidak dibahas? Aku malu...!!:."
"Sayangku....cintaku .... kita ini suami istri. Jangan malu mengungkapkan isi hati hatimu pada suamimu ini. Kalau kamu tidak mau berterus terang aku tidak tahu apa yang kamu inginkan, apa yang membuat mu nyaman, apa yang kamu sukai, kemungkinan besar aku tidak bisa maksimal untuk memenuhi nafkah batinmu...!" Zainal berterus terang agar semua terkondisikan.
__ADS_1
"Mas.... bisakah kita membahas ini lain kali? Aku akan mempersiapkan diri dan hatiku dulu..." Cicit Ani malu-malu sambil menempelkan pipinya di dada bidang Zainal. Ia masih butuh waktu untuk bisa berterus terang dan berbicara secara gamblang tentang masalah nafkah batin seperti yang diinginkan suaminya.
"Baiklah.... aku akan menunggu tapi apa tidak sebaiknya sekarang kita mandi dulu? Takut orang-orang sudah menunggu" Katanya sambil mengelus lembut lengan istrinya yang putih mulus kemudian karena tak tahan ia menghisapnya sampai meninggalkan jejak keunguan.
"Mas....!! Sakit.,!" Ani mencubit perut suaminya.
"Abisnya gemes banget. Kenapa ini bisa putih mulus begini?"
"Mas mandi dulu gih! Biar aku beres-beres dulu" Kata Ani membagi tugas. Meskipun dia capek tapi hatinya bahagia.
Sepeninggal suaminya gadis yang sudah pecah perawan itu mengganti sprei yang tadi pagi baru saja digantinya. Itu artinya dia harus mandi sambil mencuci lagi agar dia tidak meninggalkan cucian kotor saat pergi ke rumah mertuanya.
Tiba-tiba wajahnya terasa panas mengingat semalam suaminya itu meminta izin melihat ke lembah surganya dan ia tak mengizinkannya karena malu yang tak terkira. Bagaimana mungkin hal paling krusial dari tubuhnya ingin diperiksa oleh suaminya.
__ADS_1
"Hufffhhhttt"