Dr. Ani And Family

Dr. Ani And Family
Ibrahim dan Karina


__ADS_3

Setelah Ani sampai di depan gerbang rumah sakit ia langsung keluar setelah mengucapkan terima kasih pada dua orang yang sudah mau mengantarnya.


Dokter Ibrahim memandang Karina dengan tersenyum penuh arti. Sang istri menelan salivanya tak berani menatap mata sipit suaminya. Ia hanya fokus melihat jalanan di depan untuk mengusir ketakutan.


Dokter Ibrahim meraih tangan Karina kemudian menciumnya dalam waktu lama dengan satu tangannya yang lain masih fokus mengemudi. Tangan Karina menjadi dingin karena perlakuan suaminya. Ia mengusap tengkuknya yang tiba-tiba bergidik ngeri.


"Sayang.... panggil aku Baim!" Kata dokter Ibrahim lemah lembut tapi di telinga Karina itu terdengar seperti keputusan hakim yang sedang menjatuhkan hukuman eksekusi pada tersangka. Keringat dingin membasahi keningnya menandakan ketakutan yang luar biasa.


"Sayang.... aku akan menghukummu nanti!" Bibirnya yang menyeringai tertangkap oleh ujung mata Karina dan ia mencoba meredam degup jantungnya yang ingin berlari sejauh mungkin dari pria berparas dingin di sampingnya.


"Kau boleh memilih hukumanmu sendiri!"Kata nya lagi sambil mencium tangan Rina yang semakin terasa dingin. Gadis itu hanya diam membeku tak kuasa menjawab atau menolak ucapan suaminya.


Gadis yang selalu ceria itu tenggorokannya seakan tercekat ribuan batu yang membuatnya tak mampu berucap walau hanya satu kata.


Cup


Tangan kecil Karina di cium lagi oleh dokter Ibrahim, kini bahkan telapak tangannya yang halus di arahkan untuk menyentuh pipi lelaki berwajah oriental itu.


Sepanjang jalan dokter Ibrahim tak sekalipun melepaskan jemari istrinya sampai mereka tiba di depan rumah peninggalan Belanda milik keluarganya.


Ibrahim memilih memarkirkan mobilnya di halaman rumah pak Dirman karena melihat acara ruwah ngaturi di rumah bang Alif sedang berjalan.


Ibrahim menarik tangan Karina yang hendak keluar dari dalam mobil. Sorot matanya penuh damba.


"Berikan aku makanan pembuka!" Suaranya serak dan dalam membuat dada sang istri berdebar-debar bingung rasa apa yang tengah bersemayam di dada.


"M-mas.... acaranya sudah dimulai, a-aku aku juga be-belum solat Isya'. A-aku aku harus harus bantu-bantu di dapur dulu....." Karina tergagap menanggapi suaminya yang kini menyunggingkan senyum manisnya.


"Baiklah aku akan meminta semuanya nanti...." Ibrahim mencium kening Karina sekejap kemudian melihat reaksi kucing kecilnya yang tengah mengerjap-ngerjapkan matanya. Lucu dan menggemaskan. Kalau saja sedang tidak berada di rumah kakak iparnya pasti dokter Baim akan memanggul istrinya dan melemparkannya ke tempat tidur mereka.


Karina baru tahu kegilaan suaminya setelah mereka menikah. Sejak saat itu dia tidak berani membantahnya apalagi mengerjainya seperti dulu saat mereka masih bujang.


Karina dan suaminya menuju rumah bang Alif lewat samping, jalan yang berada di tengah antara kedua rumah dan mereka kemudian masuk melalui pintu belakang.

__ADS_1


Ibrahim menggenggam tangan istrinya dengan erat seolah tidak mau berpisah. Wajah sang suami nampak sumringah meskipun mulutnya terkatup rapat. Berbanding terbalik dengan wajah sang istri yang ketakutan, matanya bergerak ke sana kemari seolah ada banyak musuh yang sedang mengintainya dan siap membidikkan pistol ke kepalanya.


Laila yang sedang menggendong El merasa aneh dengan gelagat Karina yang tak seperti biasa. Adik iparnya ini selalu menciumi El dan Maryam setiap kali bertemu. Dia akan menggoda mereka sampai bayi-bayi lucu itu menangis dan akan tertawa bahagia karena berhasil 'menganiaya' makhluk-makhluk mungil tak punya dosa.


"Kamu kenapa?" Tanya Laila perhatian pada gadis paling kecil di keluarga suaminya.


"Kenapa kak?" Tanya Ibrahim sambil mengamati istrinya. Punggung tangannya di taruh di kening sang istri untuk mengecek apakah istrinya sedang demam atau tidak.


"Ng-nggak kenapa-napa kok....!" Rina menarik kedua ujung bibirnya agar terlihat tersenyum dan itu terlihat sekali kalau dipaksa.


"Kak Lala tenang saja! Suaminya ini seorang dokter. Aku yang akan mengobatinya. Iya kan sayang?" Tanya Ibrahim sambil merangkum wajah mungil sang istri.


Gadis polos bermata bulat itu mengangguk dengan cepat agar nanti ia bisa selamat.


"Iya ya...!" Laila yang kadang telmi dengan polosnya langsung percaya. "Oh ya, Kata kak Mia tadi bilang, nanti kalau pulang yang ini dibawa ya! Yang satu buat mertua kamu dek" Kata Laila sambil menepuk-nepuk pantat semok El yang tertidur di pundaknya kemudian berlalu meninggalkan mereka berdua.


"Ani sudah berangkat?" Tanya bang Alif ketika acaranya sudah selesai.


"Zainal yang bilang sama aku.," Jawab Bang Alif santai.


"Hah....?" Rina makin syok mendengarnya. Kalau tahu begini untuk apa juga harus sembunyi-sembunyi main petak umpet pakai lompat jendela segala, rutuknya.


"Kalian tidak menginap?" Tanya Bang Alif pada Rina dan suaminya.


"Tidak bang. Kami sedang punya misi besar ..." Kata dokter Ibrahim sambil merapatkan pundak Karina pada tubuhnya.


Bang Alif memicingkan mata pada pria berpostur tinggi besar dan berkulit putih itu. Dokter Ibrahim menelan ludah sambil mengusap belakang lehernya karena merasakan hawa dingin yang merayapi kulitnya.


Buru-buru ia mengajak istrinya untuk segera berpamitan agar tak mendapat tatapan menakutkan dari abang iparnya.


"Kamu tahu kan bagaimana caranya memperlakukan seorang wanita?" Bang Alif berbisik di telinga dokter Baim yang membuat tangan pria berkulit putih itu gemetaran. Ia tak mampu menatap wajah bang Alif dan memilih segera berpamitan pada ayah mertuanya yang juga ikut berdiri tak jauh dari situ.


"Salam sama papa dan mama ya nak!" Kata Pak Dirman sambil menepuk pundak menantunya dengan lembut.

__ADS_1


"Baik yah nanti saya sampaikan..." Kata dokter Baim sambil mencium tangan mertuanya.


Bang Lukman membantu memasukkan oleh-oleh yang disiapkan oleh kak Mia untuk mertua Karina ke dalam bagasi si hitam yang selalu siap mengantar majikannya yang kejam.


Di dalam mobil dokter Baim diam seribu bahasa membuat istri yang duduk disebelahnya merasa aneh. Berbagai pikiran buruk menyambangi otak kecilnya. Ia takut kejadian malam-malam sebelumnya terulang lagi.


Sebelum menikah dokter Ibrahim yang merupakan atasannya juga pemilik rumah sakit tempatnya bekerja terkenal sebagai pria dingin bertangan malaikat karena selalu berhasil menyelesaikan operasi-operasi besar yang di pimpinnya.


Ia sangat acuh pada semua orang dan terkenal sangat pelit bicara kecuali di saat-saat tertentu yang membutuhkan pengarahan langsung darinya.


Pada awalnya pria kaya dengan sejuta pesonanya itu tidak pernah terlihat dekat dengan wanita pun sampai dia mulai tertarik pada dokter yang berada dalam bimbingannya. Dokter Ani.


Dari situ dia mulai melakukan pendekatan-pendekatan untuk melancarkan tujuannya. Mendekati seseorang yang menyita perhatiannya karena merasa mempunyai sifat dan watak yang sama dengannya.


Yang semakin memantapkan niatnya karena melihat dokter Ani juga tidak punya pacar sama seperti yang dituturkan mata-matanya. Ia juga mendengar dari orang kepercayaannya bahwa di rumah sakit sudah beredar gosip jika dirinya dan gadis yang diincarnya sedang menjalin hubungan karena kebersamaan mereka yang tampak kompak. Saat seminar, rapat atau bahkan saat di ruang operasi.


Ia bahkan tersenyum bahagia saat mendengar karyawannya mengatakan jika mereka berdua tampak serasi saat bersama.


Tak disangka ternyata dia kalah cepat dengan seseorang yang bernama Zainal. Yang baru beberapa hari saja bertemu dan langsung menembak gadis cantik berkulit putih itu dan meminta jadian dengannya.


Awalnya dia kecewa karena selalu bodoh dalam hal cinta sehingga membuatnya selalu kalah dalam melangkah.


Dia yang biasa berinteraksi dengan adik si dokter malah punya kesenangan sendiri saat menggodanya. Gadis kecil bernama Karina itu tidak masuk ke dalam kriterianya tapi semakin sering dia mengerjainya semakin ketagihan jika sehari saja tidak melihat Karina.


.


.


.


.


Besok Zainal menikah.... tak sabar nunggu malam pertama

__ADS_1


__ADS_2