Dr. Ani And Family

Dr. Ani And Family
lagi


__ADS_3

Karina langsung duduk di sebelah dokter Ani yang mulai menyantap makanannya.


" Aku tidak mengganggu kan pak zein.."


" Apa wajahku sangat tua sehingga kau selalu memanggilku pak?" zainal menjawab pertanyaan karina dengan ketus.


" Ya Alloh, gitu aja marah. Ntar ilang lo gantengnya" kata rina sambil terkikik-kikik


Dokter Ani melihat karina dan zainal sebentar kemudian menggelengkan kepalanya. Iapun melanjutkan makannya dengan tenang tanpa terganggu dengan perdebatan keduanya.


"eh... kok menu kalian sama sih kak? sayur asem. janjian ya..."


"enggak", jawab dokter Ani singkat


"jangan-jangan kalian berdua..... berjodoh..." goda rina pada dokter ani dan Zainal.


"amiin...." kata Zainal menanggapi godaan Rina


" cie cie....ada yang lagi kasmaran nih...."


"apaan sih rin....! cepet makan makananmu" kata dokter ani pada rina yang sibuk menggoda mereka.


"Boleh saya bergabung disini?" kata seseorang yang sudah berdiri di belakang zainal dengan membawa nampan makanannya. Mereka bertiga menoleh ke arah suara. Seseorang dengan wajah dingin itu menatap mereka menunggu jawaban dari ketiganya.

__ADS_1


"silahkan dokter!" dokter ani menjawab nya untuk menghilangkan atmosfer yang sedikit aneh.


Begitu melihat sosok dokter Ibrahim,karina langsung diam mengurungkan niatnya untuk menggoda kakaknya. Ia menyantap makanannya dengan menunduk.


"dokter ani, apa anda sudah punya pacar?" tanya zainal di tengah keheningan yang terjadi di meja tempat mereka makan meskipun keadaan disekitarnya ramai penuh kebisingan dengan orang-orang yang makan.


"waah.... daebak" kata rina sambil mengacungkan jempol pada zainal.


Zainal melirik rina sebentar kemudian


melihat gadis yang duduk di depannya sambil mengulangi pertanyaannya.


"Apa dokter ani sudah punya pacar?"


"ah syukurlah.... Apa dokter ani mau jadi pacar saya?" lanjut zainal


"uhuk uhuk.....uhuk......" karina yang kaget mendengarnya langsung tersedak makanan yang belum selesai di kunyahnya. Ia memegangi dadanya yang agak nyeri kemudian meminum air putih di depannya.


wajahnya tiba-tiba kaku ketika tahu muka dan baju dokter ibrahim yang duduk di depannya kotor terkena makanan yang keluar dari mulutnya saat terbatuk-batuk tadi.


"ma...ma...maaf maaf dokter saya tidak sengaja" kata rina sambil mengambil tisu dan membersihkan muka dokter baim yang memejamkan matanya karena kaget sekaligus menahan rasa kesalnya agar ia tidak sampai marah-marah lagi pada karina hari ini.


"aku bisa sendiri!" kata dokter baim dengan muka juteknya. ia mengambil tisu kemudian membersihkan muka dan bajunya. ia membuka jas dokternya yang juga sedikit kotor karena luapan lahar dari mulut rina kemudian melemparkan jasnya pada bunga yang ada di pojokan dekat tempat duduknya.

__ADS_1


"Bagaimana dokter?" lanjut Zainal sambil melanjutkan makannya.


"Apa ini tidak terlalu cepat? Kita bahkan baru berkenalan beberapa hari" jawab dokter ani


"kalau sudah lama kenal saya tidak akan meminta anda menjadi pacar saya tapi saya akan melamar anda dokter", kata Zainal dengan percaya diri.


"uhuk uhuk...." dokter baim tersedak mendengar ucapan zainal dan air yang sedang diminumnya muncrat mengenai wajah serta baju rina.


dengan bersungut sungut rina mengambil tisu dan membersihkan mukanya. Ia menatap tajam pada dokter baim yang diam tak bereaksi.


karena tak mendapatkan apa yang diinginkannya rina kemudian beranjak dari duduknya


"Aku duluan kak" katanya pada dokter ani.


"Selesaikan dulu makanmu!"


"Apa aku bisa makan dengan baju kotor seperti ini? " katanya dengan ketus


ia pun melangkah dengan cepat meninggalkan kantin menuju ruangan ganti karyawan.


Dokter ibrahim pun beranjak dari duduknya untuk menyusul rina hendak meminta maaf. Dia pergi begitu saja tanpa berpamitan pada Rina dan zainal. Keduanya menyaksikan interaksi dokter baim dan karina dengan rasa heran dan penasaran.


"Bagaimana dokter?" tanya zainal meminta kepastian.

__ADS_1


__ADS_2