Dr. Ani And Family

Dr. Ani And Family
Kufu


__ADS_3

Saking paniknya Ani sampai tak sempat memperhatikan bagaimana rumah Zainal. Begitu masuk ke dalam rumah, Zainal memintanya untuk melepas sandal jepitnya kemudian menyodorkan sandal rumah yang halus dan empuk agar dipakainya.


Ani bengong melihat keadaan rumah Zainal. Rumahnya sangat luas dan megah. Sangat elegan meski dilihat dari berbagai sisi. Pencahayaan yang tepat dengan desain dan ornamen internasional modern membuat setiap mata akan betah berlama-lama menatapnya.


Ani menyapukan pandangannya ke seluruh arah. Membandingkan rumahnya dengan rumah yang saat ini diinjaknya. Ia menelan salivanya karena sekarang Ia baru menyadari bahwa Zainal memang benar-benar orang kaya. Ia merasa berbeda jauh dengan Zainal, tidak sekufu ini namanya, batinnya.


"Ayo masuk" , Zainal bisa melihat wajah Ani lebih tegang daripada sebelumnya.


"Nggak ada orang....?".


"Ada.... ayo masuk dulu!".


"Pulang aja yuk...!", Ani semakin deg-degan.


"Lah...? kan sudah sampai kenapa pulang?".


"Tapi mas....??"


Zainal terpaksa memegang bahu Ani dari belakang karena ia tak mau bergerak dan sedikit mendorongnya ke depan agar Ani mau berjalan.


Meski hatinya mobat mabit tapi ia mengikuti gerakan tangan Zainal yang mendorong bahunya kemudian mendudukkannya di sofa yang cantik, halus , lembut, empuk bahkan mungkin sayang jika harus diduduki.


"Tunggu sebentar aku panggil papa sama Mama dulu..!"


Ani tak sanggup berkata apa-apa ia hanya mengangguk sambil *******-***** jari-jemarinya. Ia melihat meja besar dan panjang didepannya yang penuh dengan aneka kue kering dalam toples-toples yang indah.


Seorang pelayan membawa minuman dan buah-buahan dalam piring buah. kemudian mempersilahkan tamu majikannya itu untuk menikmatinya.


"Terimakasih..." kata Ani sambil tersenyum. Kemudian dia bergumam pelan"huffft...... aku ini seorang dokter harusnya bisa menangani kecemasan seperti ini...., Bismillah .....Lahaula wa la quwwata Illa Billah.....".


"Ini ya....." suara seorang pria berumur mengagetkan Ani yang sedang menetralkan pikirannya. Ia langsung berdiri dan menautkan kedua tangannya didepan perutnya. Ia berdiri menunggu pria yang seumuran dengan ayahnya itu berjalan mendekat.

__ADS_1


Zainal berjalan di belakang sosok yang terlihat hangat dengan badan tinggi besar setinggi Zainal. Pria itu menyalami Ani sambil memperkenalkan dirinya


"Saya ayahnya Zainal yang manja ini" katanya.


Ani kemudian menerima jabatan tangan orang tua sang pacar dengan sedikit membungkukkan badan meski ia tahu itu belum diperbolehkan.


"pa... kenapa menjelek-jelekkan anak sendiri?" kata Zainal sambil duduk disebelah Ani yang masih berdiri.


Seorang wanita yang masih tampak cantik diusianya datang dari dalam rumah sambil menatap Ani dari atas sampai bawah.


"Ini mamaku di...." kata Zainal kemudian. Ani mengulum senyum mengulurkan tangannya meminta jabat tangan pada seorang ibu yang menyambutnya dengan wajah yang dingin. Ani mencium tangan wanita itu cukup lama. Ia merasa menemukan seorang ibu setelah lama menjadi yatim piatu.


"Ehm.." wanita itu berdehem dan menarik tangannya untuk menyangkal hatinya yang juga tersentuh dengan perlakuan gadis di depannya.


"Santai saja nak....! anggap saja rumah sendiri" sang ayah yang melihat kecanggungan gadis itu mencoba untuk mencairkan suasana. "Bagaimana kabarnya pak dirman?. Sudah lama saya tidak bertemu dengannya?" tanya sang ayah setelah semuanya duduk saling berhadapan


"Iya Alhamdulillah, ayah saya sehat pak"


"Itu....anu Bu, ayah itu sebenarnya paman saya. Ayah kandung saya sudah lama meninggal". Ani menatap wanita yang suaranya terdengar ketus itu takut-takut.


"Anak yatim?"


"I-iya..."


"Ma....", Zainal menyela diantara keduanya agar keadaan bisa berjalan kondusif.


"Diam dulu Zen!", bentak mamanya.


"Lalu ibu?", tanya sang mama lagi.


"Ibu saya juga sudah lama meninggal"

__ADS_1


"Yatim piatu?", tegasnya.


"Iya.., benar Bu...". Ani tergagap menjawabnya.


"Berapa umurmu?"


"Dua puluh lima". Ani mulai merasa kurang nyaman karena dia seperti diinterogasi di depan polisi.


"Zein .... mama mau bicara!"


Sang ibu langsung beranjak dari duduknya menuju ke ruang makan dan Zainal mengikutinya dari belakang setelah sebelumnya meminta Ani untuk santai dan menikmati hidangan yang ada di atas meja.


"Apa sih ma?", Zainal tahu mamanya pasti tidak setuju karena dari tadi tidak bisa bersikap ramah pada Ani.


Mamanya itu orang yang keras kepala dan tidak bisa menyembunyikan perasaannya. Kalau suka itu akan nampak diwajahnya dan kalau tidak suka semua orang juga bisa melihat dan merasakannya.


"Kamu dengar sendiri kan dia itu yatim piatu usianya juga lebih tua darimu"


"Nggak ada masalah kan mah?"


"Jangan-jangan dia itu hanya mau morotin kamu! "


"Aku yakin gak seperti itu mah. Aku sudah mengenal keluarganya".


"Kalian kan baru beberapa bulan saja jadian. Bisa saja itu terjadi Zein...!"


"Kita juga sudah mengenal pak Dirman lama kan mah? Beliau selalu jujur pada kita...."


"Ya... mungkin aja kan? Bisa jadi dia menggerakkan anaknya untuk bisa mendapatkan keuntungan lebih besar lagi"


"Aku jamin itu salah dan juga... praduga mama terlalu berlebihan..."

__ADS_1


"Pokoknya Mama enggak setuju. kamu itu anak satu-satunya mama Zain. Mama nggak mau kamu salah pilih"


__ADS_2