Dr. Ani And Family

Dr. Ani And Family
Draft


__ADS_3

Ani dan abang nya Lukman tengah berpacu dengan waktu agar bisa sampai di rumah tepat waktu. Jam segitu adalah puncaknya kemacetan di jalan karena semuanya berpacu agar bisa segera di tempat tujuan masing-masing. Bahkan kerap kali kecelakaan lalu lintas terjadi antara jam enam sampai jam tujuh pagi.


Anak-anak yang berangkat sekolah juga para pegawai yang menuju ke tempat kerjanya masing-masing. Semuanya berlomba agar bisa menyalip semua kendaraan dan saling menyalakan klakson kendaraan masing-masing membuat jalanan kota menjadi semakin riuh.


Lukman yang mahir mengendarai kuda besinya bisa meliuk-liuk melewati kendaraan yang memang sedang padat-padatnya. Ani hanya perlu mengencangkan pegangannya pada pinggang sang abang sambil memejamkan mata dan membaca solawat karena sudah dua kali Lukman melakukan jumping dan melompati beberapa kendaraan di depannya dengan cara melayang beberapa detik di udara.


Aksi liar dan berbahaya itu tentu saja membuatnya menjadi pusat perhatian dan setelah para pengguna jalan itu sadar barulah sumpah serapah keluar dari para pengendara karena jantung mereka seakan copot saat menyaksikannya.


Barulah Ani bisa bernafas lega saat sampai di gapura gang kawasan rumahnya. Ia melihat jam tangannya yang menunjukkan pukul tujuh lebih lima belas menit. Keren, batinnya. Karena biasanya dia baru tiba di rumah hampir jam delapan karena kemacetan dan lain sebagainya.


Lukman melajukan sepeda motor trail yang tadi di pinjam dari tetangganya ke arah samping rumahnya dan menyandarkannya segera.


Sementara itu Ani langsung berlari masuk ke dalam rumahnya tak perduli pada tatapan orang-orang yang sudah berada di situ sejak pagi dan siap membantu jalannya acara akad nikahnya.


Para tetangga tentu saja heran kenapa pengantinnya berlari-lari dengan wajah kusut seperti itu sedangkan periasnya sudah datang sejak jam setengah enam pagi.


Ani segera menuju ke kamarnya melewati semua tatapan heran yang menyambut kedatangannya. Ia tak perduli karena yang ia pikirkan sekarang adalah mandi kilat agar semua bisa tepat pada waktunya.


Masuk ke dalam kamarnya ternyata sudah ada perias yang sedang memberikan sentuhan akhir untuk bu Jannah. Ia melihat sekilas wanita yang akan menjadi ibunya ini terlihat berbeda dari biasanya nampak bersinar dan lebih muda. Ani hanya melemparkan senyumnya sesaat setelah itu dia langsung berlari menuju kamar mandi.


Ternyata setelah mengecek daerah kewanitaannya ia sudah bersih dan dia pun butuh waktu lebih lama untuk mandi besar karena dia harus menyela-nyela semua lipatan dalam tubuhnya agar air bisa mensucikannya dengan sempurna.


Ia membutuhkan waktu sekitar lima belas menit sudah untuk menyelesaikan ritual mandinya. Calon pengantin wanita itu segera memakai bathrobe dan membungkus rambutnya dengan handuk kemudian segera keluar dari kamar mandi.


Para perias yang sedang makan itu menghentikan suapannya begitu melihat calon pengantinnya sudah siap untuk di rias.


"Silahkan lanjutkan dulu sarapannya, saya akan mengeringkan rambut saya dulu!" Kata Ani sambil mengulas senyum. Para perias kiriman mama mertuanya itu pasti kelaparan setelah merias ibunya dan saat berangkat juga pasti belum sarapan seperti dirinya.

__ADS_1


Setelah memperhatikan seisi kamar ternyata bu Jannah sudah tidak ada sana dan yang baru disadarinya ternyata kamarnya sekarang sudah di rias sedemikian rupa layaknya kamar pengantin pada umumnya.


Ani segera mengurai handuk di kepalanya dan mengeringkannya dengan hair dryer. Menyela-nyela rambutnya agar tak kusut dan kering sempurna.


Ia menggigit bibirnya karena mengingat baru saja di kamar mandi ia mengenakan da**m*n yang senada warnanya. Ia membelinya secara online untuk mempersiapkan malam pertamanya. Sebelumnya dia tak pernah berfikir hal semacam itu penting. Yang penting memakai kain yang nyaman untuk menutupi aset pribadinya tanpa harus melihat model dan warnanya. Tapi sekarang ia akan menjadi seorang istri dan ingin menikmati malam pertamanya dengan sesuatu yang spesial yang tak akan terlupakan, untuk dirinya sendiri dan untuk suaminya, Zainal.


Tampa ia sadari wajahnya merona karena pikirannya sendiri dan itu tak luput dari perhatian para perias yang ada di situ.


"Calon pengantinnya mikir apa ini sampai wajahnya merah merona kayak gini.....?" Kata salah satunya sambil berdiri di belakang Ani dan mulai menyisir rambutnya.


Ani langsung salah tingkah dibuatnya dan benar saja ia melihat pantulan wajahnya di cermin yang terlihat semburat merah di pipinya. Gadis cantik itu segera menutup wajah dengan kedua tangannya. Malu sekali rasanya.


Sementara Ani mulai dirias, di kediaman pak Dirman sendiri semua sudah siap untuk melaksanakan ijab qobul untuk pria yang sudah beruban itu dengan Bu Jannah yang masih berada di rumah bang Alif.


Ya, meskipun sedikit merepotkan tapi bang Alif mengusahakan agar keinginan ayah yang disayanginya bisa terlaksana. Melaksanakan ijab qobul di rumahnya sendiri. Untungnya pak penghulu dan pak mudin adalah orang yang mengenal bang Alif dengan baik. Mereka menghormatinya karena ilmu dan adab nya. Dan bang Alif adalah satu ustadz yang mereka segani sehingga ketika bang Alif menjelaskan keinginan ayahnya mereka hanya bisa mengiyakan dan menyanggupinya sebagai bentuk menghormati guru.


Ani dan Zainal sendiri juga ingin melaksanakan ijab qobul secara terpisah dengan ayahnya. Alasan mereka tidak ingin terkesan seperti perkawinan massal. Haha.... iya juga ya.


Tinggallah Zainal yang masih berada di ruang tamu di kediaman bang Alif bersama mamanya. Ia sedang menunggu gilirannya untuk mengucap ijab qobul sebagai sumpahnya kepada Tuhan semesta alam. Ia berjanji dengan sepenuh hati akan setia pada pernikahan yang akan ia jalani bersama sang kekasih dan bersama-sama mereguk kebahagiaan bukan hanya di dunia saja tapi sampai ke akhirat dan semoga bisa bersama sampai ke surga bersama anak cucunya.


Berkali-kali ia mengusap wajahnya dengan tisu saking nervous nya.


"Mama mau lihat mantu mama dulu Zein!" Kata wanita yang sedari tadi duduk di sampingnya.


"Sini saja mah! Nanti kan bisa?" Kata Zainal sambil memegang ujung baju mamanya seperti anak kecil yang tidak mau berpisah dengan ibunya.


Mama nya mencebikkan bibirnya,"Bilang aja takut Zein Zein....! Santai aja! "

__ADS_1


"Nggak seringan itu ma. Itu sumpah Zainal pada Alloh. Sumpah yang disamakan dengan sumpah para nabi pada Tuhannya."


Mamanya mengangguk sambil menitikkan air mata. Ia terharu melihat putra satu-satunya yang tidak pernah ia ajari tentang agama kini tumbuh menjadi pria baik yang faham agama. Ia sungguh bersyukur sekarang.


Ani yang masih dirias di kamar samar-samar mendengar percakapan antara calon suami dan calon mertuanya. Dadanya berdegup kencang. Antara takut, tegang juga bahagia membuncah jadi satu di dalam dadanya.


Ia memegangi dadanya untuk meredam suara jantungnya agar tak terdengar oleh orang-orang di sekelilingnya.


Sebentar lagi statusnya akan berubah


!


!


!


Satu bab lagi Dokter Ani and family akan berakhir. Akan aku kasih tambahan chapter tapi upnya seenak udel ya. Dan sebagai gantinya ada Laila dan majnun yang ceritanya tentang perselingkuhan Lukman.


Aku tunggu saran dan kritik nya di sana. Makasih semuanya!



""""""""""""""""":::::::::::::::"""""""""""""""""""""


Buat Susilawati, tolong pilih salah satu dari ini


__ADS_1



terus chat aku alamat kamu. Setelah itu aku kirim hadiahnya ke rumah kamu. Ok. makasih.


__ADS_2