Dr. Ani And Family

Dr. Ani And Family
dzon


__ADS_3

" cepat buka mulutmu atau aku akan memaksamu dengan ...."


BRRRAAAAKKKK......!!!!!


Pintu yang tidak tertutup rapat itu terbuka dengan posisi Ani yang hampir terjatuh. Ani mengira pintu itu tertutup dan mendorongnya dengan keras sehingga membuatnya hampir saja terjengkang.


Ibrahim tidak melanjutkan perkataannya karena terkejut. ia keheranan melihat tingkah laku Ani yang tidak seperti biasanya.


Rina yang baru saja memegang sendok hendak menyendok makanannya langsung menaruh sendoknya kembali.


"kaaakk.... kau tidak apa-apa?" Karina segera menghampiri Ani yang badan dan pipinya sudah menempel sempurna pada pintu .


Ani pun segera menegakkan badannya ketika melihat apa yang dilihatnya tidak seperti apa yang ada dalam pikirannya. Tadi ia mengira dr baim sedang memaksa untuk mencium karina. Ternyata ia salah. dr baim sepertinya memaksa rina untuk makan. Ia menelan salivanya untuk menetralkan wajahnya sambil memegang pipinya yang terasa perih dan panas.


Zainal yang sedang berjalan santai mencari keberadaan Ani langsung berlari ketika ia mendengar suara dentuman pintu. Firasatnya mengatakan Ani sedang terjatuh atau kenapa-napa


"Di... kau tidak apa-apa?" Zainal yang melihat Ani baru menegakkan badannya mengira Ani baru saja terjatuh tapi ia tak mencoba menolongnya dengan memegang tangan Ani atau semacamnya. Ia hanya bisa melihat Ani dengan raut muka khawatir.


Karina segera membawa kakaknya ke tempat duduk yang tadi ditempatinya. Ada dua kotak makanan yang ada di meja itu.


Ani merasa malu pada dirinya sendiri karena berprasangka buruk pada dr baim dan rina hanya karena kata-kata ambigu yang didengarnya tadi.


Zainal pun ikut duduk di sofa single yang paling dekat dengan Ani meski belum dipersilahkan oleh pemilik ruangan.


Ibrahim kemudian datang membawa es yang sudah dibungkus kain. Ia mengangsurkannya pada Ani yang sedang menatap Karina.


Zainal dengan sigap mengambil kain itu tapi Ibrahim tak melepaskannya begitu saja. Mata kedua pria itu saling menatap dengan tajam tanpa melepaskan pegangan mereka pada bungkusan kain itu.


Zainal kemudian menggunakan tangan kirinya untuk memukul tangan Ibrahim agar mau melepaskan tangannya dari kain yang sedang mereka perebutkan.

__ADS_1


"cih " ibrahim mengatakannya tanpa mengeluarkan suara sambil seolah-olah membuang ludahnya ke samping setelah melepaskan pegangan tangannya. Ia kemudian duduk di kursi kerjanya yang agak jauh dari sofa.


Zainal kemudian menempelkan kain yang berisi es tadi pada pelipis Ani yang tampak merah. Ia melakukannya dari tempat duduknya karena Ani seolah lupa dengan keberadaannya.


"Rin kau tidak apa-apa kan?" tanya Ani pada Rina setelah mencoba menatap wajah adiknya itu untuk mencari kebenaran yang tampak disembunyikan oleh Rina dan dr Ibrahim.


"kau ini kenapa kak? Aku tidak apa-apa, aku baik-baik saja"


" kalau begitu ayo kita pulang sekarang" kata Ani sambil berdiri dengan memegang tangan Rina.


"Tidak boleh!" kata Ibrahim, membuat ketiga orang yang ada disitu menatapnya bersamaan.


"Di.... "zainal ikut berdiri sambil mencoba mengalihkan perhatian Ani agar tidak menatap Ibrahim lama-lama dengan mengangsurkan bungkusan es yang ada di tangannya. sedangkan Tangannya yang lain menunjuk pipinya sendiri agar Ani tahu letak memarnya. Ani pun menerimanya dan menekan kain itu di pipinya.


"Memangnya kenapa dokter?" tanya Ani masih dengan tangan menekan kain es pada pipinya dengan posisi berdiri.


" saya bisa melakukannya, saya yang akan periksa anda dokter"


"NOO..." Zainal dan Ibrahim menjawab bersamaan


"No di, no..." - zainal


" gadis kecil ini yang melakukan kesalahan kenapa dokter ikut-ikutan mendapat hukuman?"-ibrahim


" di... biarkan mereka menyelesaikan masalahnya sendiri, aku antar kamu pulang. Kamu harus istirahat!"


" dr baim bohong mas....mana ada siku kecil karina bisa membuat perut orang kesakitan sampai harus endoskopi segala"


"aku mengatakan mungkin saja..... bisa saja kan. Dia gadis kecil yang punya kekuatan seperti hulk"- Ibrahim

__ADS_1


Rina yang mendengar kata-kata dr baim langsung menatapnya dengan tajam tapi orang yang ditatapnya cuek saja merasa tak bersalah.


" dokter, anda terlihat baik-baik saja ..." -Ani


Ketiganya mengamati Ibrahim yang nampak sehat segar bugar


"Ah aaakhh.... perutku..." Ibrahim mengaduh sambil memegang perutnya dengan kedua tangannya


" kenapa perut anda dokter? apa terasa sakit....?" Ani bertanya dengan nada mengejek karena tahu jika Ibrahim sedang berpura-pura.


"i..iya tadi sakit sekali... akh... perutku


" tapi sekarang sudah tidak sakit lagi kan?"-ani


" akhh... perutku.... sakit...., " Ibrahim mengaduh kembali kemudian memalingkan mukanya dari mereka bertiga dan berkata dengan sangat pelan,"sedikit"


"kaak... kakak pulang saja! sebentar lagi aku akan menyusul. OK?"


"Tapi rin....."


"ayo di...." zainal berjalan menuju pintu dengan pelan agar Ani segera mengikutinya


" aku bisa mengatasinya, tenang saja!" bisik rina sambil memeluk kakaknya


Ani menatap Ibrahim dengan tajam, kemudian menaruh kain es yang sejak tadi dia pakai untuk mengompres lukanya di meja yang ada di depannya. Ia kemudian mengancam Ibrahim," anda jangan macam-macam pada Karina dokter!"


"Justru aku yang takut padanya dokter... aku tidak mau mukaku penyok...!"


karina melengos mendengar perkataan dokter gila. Ia mendengus kesal'''''

__ADS_1


__ADS_2