Dr. Ani And Family

Dr. Ani And Family
SMP


__ADS_3

"Emmm... itu... tapi.... anu..." Laila merasa sungkan jika harus meninggalkan tamunya untuk mandi.


"Nggak papa , kakak mandi aja!" kata Karina menyahut.


" ehm ehm..." Lukman yang duduk di teras berdehem dengan keras dan itu membuat Laila langsung berdiri meninggalkan ketiga tamunya.


Sepeninggal Laila, lagi-lagi Ani dan Karina saling berpandangan. mereka merasa kalau ada sesuatu diantara abangnya dan Laila, gadis yang baru mereka kenal.


Karina kemudian membersihkan luka yang ada di lengan,buku-buku jari dan di wajah Doni dengan antiseptic.


Doni menatap wajah gadis manis di depannya, terlihat menggemaskan. Ada rasa bahagia dan sesuatu yang berdebar di dadanya saat melihat Karina. Tanpa disadari Karina , Doni menatapnya sambil


tersenyum malu-malu.


Ani meminta Doni melepaskan seragam putihnya agar bisa memeriksanya. Doni merasa malu pada gadis berkepang pinggir yang sudah duduk di depannya sambil merapikan alat-alat yang tadi dipakainya.


"Lepas aja! kita sudah biasa kok lihat orang telanjang!" kata Karina dengan ekspresi datarnya.


"Maksudnya?", Doni kaget mendengar pernyataan gadis manis itu.


" Terkadang kami memeriksa sekujur tubuh pasien apalagi kalau di meja operasi. Sudah buruan! nanti kamu telat lho sekolahnya!" kata Karina.


" Hah......kamu dokter juga?" kata doni termangu mendengar kata-kata Karina.


" hehe...kita belum kenalan ya? Aku Karina seorang perawat . Panggil aja kak Rina!" kata karina sambil melepas sarung tangannya dan menaruhnya di plastik terpisah.


Ani kemudian memakai stetoskopnya dan memeriksa dada dan perut Doni. Ada sedikit memar yang berwarna keunguan di sekitar paru-parunya.


"Apa ini sakit?" tanya Ani sambil sedikit menekan luka memarnya.


"Sedikit" jawab Doni


"Kalau batuk atau bersin , sakit?"


"Enggak"


"Yakin?"


" Iya beneran enggak sakit kok kak dokter..."

__ADS_1


" Kalau makan kunyah yang benar dan pelan-pelan agar tidak sampai tersedak biasanya akan terasa nyeri di daerah itu. Ini di pukul ya?" tanya Ani sambil menunjuk dada doni.


"Nggak kena langsung kok kak dokter. Aku menahannya dengan tangan ku" kata Doni.


Ani melihat sosok anak muda itu dengan tersenyum kemudian memeriksa punggungnya apa ada cedera tulang atau yang lainnya sambil berkata," panggil kak Ani saja!"


" Kamu kelas berapa dek?" tanya Karina dengan senyum cerianya.


"kelas 9" jawab Doni sambil cemberut karena panggilan Karina. Ia kecewa karena ternyata gadis itu jauh lebih tua darinya.


.


Seorang ibu yang berbadan tambun berjalan mendekat ke arah Lukman. wajahnya dipoles make up berlebihan. Bukannya tampak elegan tapi malah terlihat aneh dan apa ya namanya ..... lali aku....wes pokoke gitu lah


"Permisi masnya.... saya mau nagih uang kos-an sama Laila. Masnya ini calonnya Laila ya? Oh ya perkenalkan saya yang punya rumah ini, panggil saja saya Santi!" katanya sambil mengulurkan tangannya.


Lukman tak menjabat tangannya hanya berdiri kemudian menganggukkan kepalanya.


"Berapa bu?" tanya Lukman langsung.


Doni yang mendengar suara pemilik rumah itu kemudian keluar rumah sambil mengkancingkan bajunya.


"Yang bulan ini kan belum?" kata bu Santi


"Kan batasnya akhir bulan, ini masih pertengahan bulan lho Bu.,"kata Doni lagi


"Udah.... mumpung ada calon kakak ipar kamu. Lumayan kan kamu sama kakak kamu nggak usah pusing mikirin bayar kos-kosan bulan ini.


"Nanti akhir bulan saya bayar Bu...."kata Doni.


"Berapa bu?" tanya Lukman sambil mengeluarkan dompetnya.


" Cuma 800 ribu kok mas...." kata bu Santi.


"jangan bang!" kata Doni sambil menarik-narik lengan kemeja Lukman.


Lukman mengeluarkan delapan lembar uang bergambar proklamator RI sambil memejamkan matanya ia berkata dalam hatinya, ya Alloh engkau tahu ini tidak kudapatkan dengan mudah , aku niat bersedekah karena Mu semoga engkau memberi jalan kemudahan untukku dan memberi keberkahan pada harta yang ada padaku. Kemudian ia mengangsurkan uang itu pada Bu Santi.


" Maaf ya mas nya, soalnya saya butuh bayar ini itu. Oh ya... mas nya namanya siapa?"

__ADS_1


"Saya Lukman bu".


"Oh ya, makasih ya mas Lukman , saya permisi dulu ya! sering-sering aja main ke sini nggak papa yang penting jangan lama-lama. Bisa-bisa digerebek warga nanti. Mari mas Lukman", kata bu Santi sambil mencium uang yang ada di tangannya.


" Iya silahkan Bu..."


" Nanti kurangi dari gajiku saja bang!" kata Doni


"Gampang. Kamu sudah sarapan?" tanya Lukman


"Belum ini aku mau buat mi. Abang mau mi rasa apa? aku buatin...."


Lukman menghela nafasnya pelan. kemudian memberikan uang 50 ribu pada Doni.


" Beli makanan sana, jangan makan mi terus...!"


" Nggak tiap hari juga kok bang. Ini kebetulan aja pas ada abang"


"Buruan cari sarapan, terus sekolah yang bener!" kata Lukman sambil menaruh uangnya di saku kemeja putihnya Doni.


"Bang , masak Abang nggak ada perasaan dikit gitu sama kakakku? Dia memang mata duitan tapi dia baik kok bang."


Lukman mengusap kening Doni ke atas menahan rambut poninya agar tidak menutupi keningnya kemudian


cetakk....


"aaaahhh" Doni mengerang kesakitan karena Lukman menyentil keningnya dengan amat sangat keras.


Ani dan Karina yang sejak tadi masih membereskan peralatannya langsung berlari ke teras.


"Kenapa?"


"Ada apa bang?"


"Hem...," Lukman hanya menjawab hem saja,


" Sudah berangkat sana !" kata Lukman pada Doni.


Tiba-tiba semua mata melihat kehadiran Laila yang berbeda dari biasanya.

__ADS_1


__ADS_2