Dr. Ani And Family

Dr. Ani And Family
baru


__ADS_3

Di dalam kereta api kelas ekonomi premium itu ia duduk tepat di samping jendela. Sebenarnya ia berencana naik kelas bisnis atau eksekutif tapi tiketnya sudah sold out semua. Entah karena ia membeli tiketnya satu hari sebelum keberangkatannya atau memang hari itu semua orang ingin naik kereta yang agak mahal agar perjalanan mereka lebih nyaman.


Ani mengeratkan pelukan tangannya pada tas ransel yang ada di pangkuannya. Ia menyandarkan kepala dan meraba lengan bajunya yang sedikit basah karena Rina menangis di sampingnya di sepanjang perjalanan mereka menuju ke stasiun. Sepanjang perjalanan Bang Alif hanya diam saja. Lukman yang dikenal orang-orang pendiam dan galak malah mencoba mencairkan suasana. Menghibur Rina agar mau berhenti menangis dengan menggodanya.


"Kamu nanti jadi cepet tua loh kalau nangis terus....."


"Kak.... nanti kalau aku berangkat ke rumah sakit sama siapa...?"


"aku anterin....."kata Lukman


"Kak... tega banget ninggalin aku...."


"Ani cuma cari suasana baru. Lebay kamu....!" Lukman masih saja menjawab pertanyaan yang tidak diajukan padanya.


"Ish.... apa sih bang.... kamu sekarang bawel banget tau nggak bang. Aku bicara sama kak Ani ya... ngapain Abang yang jawab terus...."


"Kapan aku bawel? Aku ini kan cool, makanya Lela langsung terpesona saat pertama kali melihatku."


"Narsis. huhuhu..... kak...." ia memandang Ani yang hanya tersenyum menanggapi ulah Rina.


"Apa aku ikut menyusul kakak saja ya? Tapi kan Kak Mia mau melahirkan... nanti siapa yang bantuin jagain dedek bayinya...?" ia mengusap ingusnya.


"Kenapa sih kak jauh amat pindahnya. Kakak kapan pulangnya?"


"Ini berangkat saja belum sudah tanya pulang..... ?" Lukman jadi kesel dengerin ocehan Rina yang nggak kelar-kelar.

__ADS_1


"Abang bisa diem nggak sih...? Ngomong terus dari tadi...!"


"Eh.... ini anak ya... yang dari tadi ngomong terus nggak habis-habis siapa ya....? orang apa bukan tadi.... Kayak nya tadi duduk dibelakang. Anaknya kecil, item gitu...."


"Bang..... bang alif.... bang Lukman tuh.... bikin kesel aja dari tadi...." Rina mengadu pada bang Alif.


"Ani akan mengamalkan ilmunya di tempat yang jauh. Kita berdoa saja disepanjang perjalanan ini semoga semua baik-baik saja dan selalu dalam perlindungan Yang Maha Kuasa."


Lukman langsung diam tak mengeluarkan kata-kata sampai mereka sampai di stasiun kereta api. Sedangkan Rina masih saja asyik menangis di lengan Ani.


Rina menangis lagi saat Ani berpamitan di batas maksimal para pengantar. Lukman memegang kepala Ani sambil menyuruhnya untuk menjaga diri dengan baik kemudian mengusap rambutnya. Abang Alif memeluk adiknya tanpa kata, agak lama kemudian melepaskannya dan menahan lengan Karina yang masih belum merelakan kakaknya pergi.


"Nanti aku akan telpon kalau sudah sampai.... ok?" Ani tersenyum dan menjewer pipi Rina


Ia pun segera melenggang pergi karena air matanya sudah di pelupuk mata takut saudara-saudaranya akan melihatnya menangis.


Hatinya bingung menghadapi semuanya.


Kata orang menyembuhkan patah hati adalah dengan mencintai orang lain lagi. Zainal adalah pengalaman pertama nya dan tentu saja ini menyakitkan meski ia tampak biasa saja. Perpisahan itu menyisakan sesuatu yang menyiksa jiwanya.


Bukannya tak ada lagi yang mendekatinya tapi ia masih trauma dengan penolakan orang tua. Kalaupun ia ingin merajut kasih kembali ia ingin mengenal sosok orang tua nya terlebih dahulu. Memastikan mereka menyukainya barulah dia akan berkenalan dengan anaknya. Itu keinginannya sekarang.


Perjalanan yang memakan waktu sekitar delapan jam terasa sangat membosankan. Karena itu ia membunuh waktu dengan tidur di sepanjang perjalanan dan berharap ketika dia membuka matanya ia sudah berada di Yogyakarta.


.

__ADS_1


.


.


Begitu turun dari kereta ia segera mencari musolla karena ia hendak solat Dhuhur dan asar di jamak ta'khir. Hampir setengah lima ia sampai di Yogyakarta dan setelah itu ia akan melanjutkan perjalanannya.


Ia memilih solatnya di jamak ta'khir karena saat duhur dia masih ada di kereta dan Ani memilih untuk memanfaatkan ruksoh atau keringanan yang ada dalam ajaran Islam.


Ia berniat solat jamak ta'khir saat waktu duhur ketika masih di dalam kereta.


*****((((()))))*****


Jamak memiliki arti kumpul, maknanya mengumpulkan dua shalat dalam satu waktu, yang awalnya dilaksanakan di waktu yang berbeda.


Menjamak shalat adalah salah satu bentuk keringanan (rukhsah) yang diberikan oleh syariat Islam kepada para pemeluknya dikarenakan beberapa sebab yang membolehkan shalat untuk dapat di jamak. Sebab-sebab itu bermacam-macam seperti bepergian, hujan dan sakit, dengan berbagai ketentuan-ketentuan yang dijelaskan secara rinci dalam kitab fiqih


Sedangkan syarat pelaksanaan jamak ta’khir hanya ada satu yaitu melakukan niat jamak ta’khir pada saat waktu shalat yang pertama. Misalnya, saat masuk waktu maghrib, seseorang harus berniat bahwa shalat maghribnya akan dilaksanakan di waktu isya’. Maka dalam jamak ta’khir ini tidak disyaratkan muwalah, mendahulukan shalat yang pertama ataupun kedua dan juga tidak disyaratkan niat jamak pada saat melaksanakan shalat. Penjelasan demikian tertera dalam kitab Fath al-Qarib: وأما جمع التأخير، فيجب فيه أن يكون بنية الجمع، وتكون النية هذه في وقت الأولى، ويجوز تأخيرها إلى أن يبقى من وقت الأولى زمن لو ابتدئت فيه كانت أداء، ولا يجب في جمع التأخير ترتيب، ولا موالاة ولا نية جمع على الصحيح في الثلاثة. “Adapun (Syarat) jamak ta’khir maka wajib untuk melaksanakan niat jamak di waktu shalat yang pertama. Boleh mengakhirkan niat jamak ini sampai masih tersisa zaman dari waktu shalat yang pertama yang mana jika shalat dimulai pada saat itu maka menjadi shalat ada’ (bukan qadha’). Tidak wajib dalam jamak ta’khir ini melakukan shalat secara tartib (berurutan), tidak wajib pula muwalah dan niat jamak menurut pendapat yang sahih dalam ketiganya.” (Ibnu Qasim Al-Ghazi, Fathul Qarib al-Mujib, hal. 44)


******((((()))))*****


Kesalahan Ani kali ini adalah memilih perjalanan saat pagi hari sehingga sampai di sana hari sudah menjelang Maghrib dan kendaraan menuju ke tempat tinggalnya yang baru di kaki gunung sangat langka. Ia sudah mencoba berkali-kali untuk memesan ojek atau taksi online tapi tak ada tanggapan sama sekali. Ada beberapa tukang ojek yang mangkal di stasiun itu tapi ia sedikit khawatir karena jika memakai jasa mereka tentu saja tidak bisa dilacak keberadaannya. Bagaimanapun juga itu adalah wilayah asing baginya tentu saja ia merasa khawatir meski ia bisa bela diri.


Berkali-kali ia melihat sebuah mobil pick up Yang sedang parkir dan sepertinya akan menuju ke kaki gunung Merapi Merbabu. Ia ingin bertanya tapi rasanya sungkan. Dan lagi semua yang duduk di bak mobil pickup itu laki-laki remaja. Sepertinya mereka adalah santri dari pondok pesantren Merapi Merbabu. Memang belum ada yang dikenalnya tapi ia merasa yakin saja.


Seorang pria berbaju amat sangat sederhana datang dari dalam stasiun dan bertanya," sudah semua?"

__ADS_1


"sudah ustadz...."


Mendengar hal itu Ani pun segera mendekati pria itu.


__ADS_2