Dr. Ani And Family

Dr. Ani And Family
donat


__ADS_3

sampai di rumah sakit, dr ani turun dari motor duluan dan langsung masuk ke dalam rumah sakit. sedangkan rina menuju tempat parkir.


Saat turun dari bebeknya, rina masih memikirkan kakak iparnya. Apa jangan-jangan kak Mia sedang hamil? Aku dan kak Ani sudah suci hampir 15 hari tapi kak Mia belum haid juga. Belakangan kak Mia sering melow dan sedikit manja. Aku harus memastikannya dengan kak Ani nanti. pikirannya terbang melayang sampai tak sadar dia sudah sampai di pintu masuk Rumah sakit.


"eh kontak bebekku mana?" ia bergumam sendiri sambil merogoh saku-sakunya untuk mencari kunci motor maticnya. dia juga mencarinya di dalam tas tapi rina tidak menemukannya.


Rina berbalik arah, kembali ke parkiran sambil berlari-lari kecil. sesekali ia memutar badannya karena hatinya sedang bahagia membayangkan dirinya menjadi aunty.


Ketika dia berbelok tubuhnya oleng karena menabrak seseorang yang sedang terburu-buru. Untungnya orang itu sigap menangkap tubuh Rina sehingga dia tidak terjatuh. Tangan Rina refleks mencengkeram baju orang yang sedang memeluknya. Beberapa detik keduanya saling berpelukan. Rina yang menyadari dadanya sangat menempel pada dada seorang pria segera mundur sambil menyilangkan kedua tangannya di dadanya.


Pria itu menyadari baru saja dadanya menyentuh buah **** seorang gadis. Ia kemudian mengalihkan perhatiannya agar sang gadis tak malu. Ia melihat kesal ke arah kotak yang jatuh gara-gara insiden yang baru saja terjadi. Isinya sudah berhamburan tak karuan.


Dr. baim mendesis sambil menggeretakkan giginya dan matanya yang tajam melihat ke bawah.


Rina baru sadar ternyata orang yang menabraknya adalah dr. Ibrahim.


Rina pun melihat ke arah pandang dr. Baim. Ulala... donatnya jatuh berserakan, batin Rina. Mereka berdua secara spontan berjongkok memunguti donat yang sudah hilang dari bentuk aslinya apalagi topingnya.

__ADS_1


Secara tak sengaja kedua tangan mereka bersentuhan saat mengambil donat yang berwarna hijau, keduanya menoleh dan saling memandang.


Rina langsung menarik tangannya dan bergegas berdiri. Ia sedikit membungkuk dan meminta maaf.


" Maaf dokter, saya akan mengganti donatnya nanti", dan iapun segera berlari ke arah parkiran untuk mengambil kunci motornya. Ia tak menghiraukan teriakan dr Baim yang memanggilnya.


" Hei, kau tak perlu menggantinya....! kau dengar itu? lupakan saja!"


Rina menggerutu dalam hatinya karena dr baim memanggilnya hei, pikirnya dr baim pasti sangat tidak menyukainya.


Ia melihat tangannya yang baru saja bersentuhan dengan dr. baim.


" Pak, permisi mau numpang cuci tangan!"


" Silahkan non," kata pak kebun itu sambil tersenyum pada Rina.


" kenapa pak?"

__ADS_1


" Sepertinya dr. baim akan menikah!"


" oh ya? benarkah? baguslah jadi dia bisa tersenyum. tidak bemuka batu seperti sekarang. Apa bapak tau calonnya?" Rina tak sadar, ia menanggapi perkataan pak kebun dengan panjang lebar dan muka yang serius


" itu hanya prasangka saya saja non!"


"Yah kirain betulan pak. Kalau dr baim menikah kan pasti ada pesta besar? anak tunggal gitu loh!"


setelah Rina berlalu pergi, pak kebun menggaruk kepalanya. Dia berpikir mungkin adegan dr baim dan non rina hanya suatu kebetulan saja malahan dia yang melihatnya yang terbawa perasaan. Baper kata anak jaman now. Hehe


.


.


.


Saat jam makan siang di meja dr ibrahim ada sekotak donat yang sama seperti yang dia beli tadi pagi. Dia yakin itu pasti dari karin. Ada kertas kecil yang diletakkan diatasnya.

__ADS_1


Saya minta maaf untuk yang tadi pagi dokter, sepertu itu bunyi tulisannya.


__ADS_2