Dr. Ani And Family

Dr. Ani And Family
sarung


__ADS_3

Laila segera bergeser dari tempatnya berdiri sehingga Lukman bisa membuka pintu ruangan itu dan berjalan keluar diikuti oleh Doni dan Zainal.


Saat di depan ruangan direktur mereka dengan serempak menghentikan langkahnya karena Lukman tiba-tiba berhenti. Ia menoleh ke belakang menatap Zainal dengan tajam.


Seakan tahu jika tatapan Lukman mengandung pertanyaan, kenapa kau mengikutiku. Zainal gugup dan berkata "A.. aku juga belum solat dhuhur. Aku juga mau ke musolla bang..."


"Kalian jalan dulu!" kata Lukman sambil menggerakkan lehernya ke arah musolla. Lukman juga menatap tajam ke arah Laila yang ternyata juga mengikuti mereka.


"A... aku juga mau ikut solat" katanya sedikit takut sambil memberikan senyum terpaksanya pada Lukman.


Lelaki berkulit sawo matang itu tak bereaksi, mukanya tetap datar dan garang.


Saat ketiganya sudah meninggalkannya beberapa langkah, Ia kemudian mengetuk pintu disampingnya. Lukman masuk ke dalam ruangan direktur setelah mendapatkan izin.


.

__ADS_1


.


Ketika sampai di musolla Zainal langsung menuju tempat wudlu. Sedangkan Doni masih duduk di serambi musolla menunggu Lukman. Doni senang saat melihat lukman datang sambil membawa tas kain yang besar.


Lukman memberikan tas itu kepada Doni setelah mengambil sarung dan kopyah hitam dari dalam tas kain itu.


"Pakai ini!" kata Lukman dengan suara baritonnya.


Doni melihat isi tas itu, di dalamnya ada kemeja dan sarung.


"Untuk solat. Kamu tadi jatuh ke comberan kan? " lukman ingat sewaktu dia memukul Doni, remaja lelaki itu jatuh terhuyung-huyung di comberan.


"Tapi lukaku kalau kena air pasti perih bang!" Sahutnya meminta keringanan agar di perbolehkan izin tidak solat lagi.


"Sini biar ku tambah lagi!" Kata Lukman sambil mengepalkan tangannya lalu meniupnya. Doni pun langsung lari terbirit-birit ke arah kamar mandi. Ia ingat bagaimana tadi Lukman sudah menghajarnya hingga babak belur .

__ADS_1


Lukman pun melepas sepatu ketsnya dan berjalan menuju kamar mandi sambil membawa sarung dan meninggalkan kopyahnya di pagar serambi masjid.


.


Zainal keluar dari arah tempat wudlu pria paling awal. Sudah tidak ada orang lain selain mereka di musolla itu karena jam sudah menunjukkan pukul 13.45. Zainal menunggu Lukman untuk berjamaah. Ia duduk berselonjor di serambi musolla sambil melihat hp nya, berharap ada pesan atau panggilan dari gadis yang hari-hari ini sering memenuhi kepalanya. Tapi sama sekali tidak ada notifikasi dari nomer baru. ia menghela nafasnya dan menghembuskannya dengan keras.


"pfffftthhh....."Zainal tertawa sambil menutup mulutnya saat melihat Doni yang baru keluar dari tempat wudlu. Ia yang tadi berpenampilan preman kini terlihat lucu dengan kemeja dan sarung yang dipakainya.


Doni memalingkan mukanya. Ia juga merasa malu memakai pakaian seperti itu karena sudah lama sekali ia tak solat. Kecuali pada hari raya, Terakhir kali ia solat mungkin saat kelas 7 saat ada praktek solat untuk pelajaran agama.


Sebenarnya keinginan untuk solat sering terlintas dalam benaknya apalagi ketika melewati masjid yang di dalamnya orang-orang sedang melaksanakan solat berjamaah. Tapi ia malu tidak tahu bagaimana harus memulainya.


Ia merasa bahagia ketika Lukman memaksanya solat meski sebelumnya ia dihajar sampai babak belur oleh pria itu. Ia menyadari kesalahannya justru ia merasa mempunyai seorang kakak laki-laki yang menghajarnya ketika dia salah dan mengingatkannya saat dia lalai.


Beberapa saat kemudian Lukman keluar dari tempat wudlu dan mendatangi mereka sambil merapikan rambutnya dengan tangan. Ia tampak sangat mempesona dengan tatapan tajamnya, rahangnya yang keras, rambut dan wajahnya yang basah ditambah lagi sarung yang melekat pada kakinya membuatnya sangat berbeda.

__ADS_1


Zainal dan Doni yang cowok saja merasa iri dengan aura yang terpancar dari wajah Lukman.


__ADS_2