
Ani
Ada kerja bakti sosial yang akan diikuti oleh para santri dan beberapa ustadz yang akan mendampingi. Dan ustadzku, Ustadz Zainuddin salah satu pembimbingnya.
Entah kenapa hari ini dia cerewet sekali bercerita tentang ini dan itu. Bilangnya sakit tapi wajahnya malah sebaliknya tampak sehat dan segar bugar.
Setelah sarapan bersama ustadzku itu berpamitan pada ibu lalu memeluknya sambil minta maaf berkali-kali.
"Zein minta maaf ya bu... selama ini belum bisa nyenengin ibu. Belum bisa bahagiain ibu. Satu-satunya yang bisa aku banggakan cuma calon mantunya ibu.... Maafin Zein ya bu...!!"
Mataku terasa panas dan tiba-tiba saja ada air yang menggenang di mataku. Kenapa sih kak Zein hari ini lebay sekali. Kan aku jadi mewek...
Aku menunduk menangis melihat adegan mengharukan di depan mataku. Aku jadi ingat umi.
Semoga kita bisa berkumpul lagi di surga nanti umi.....
"Hu.....hu.....uu.... hiks.." Aku tak bisa lagi menahan air mataku dan menangis terisak-isak.
"Kok adek yang nangis...." Kak Zein melepaskan pelukannya dari ibuk dan mendekat kepadaku.
" Ini semua gara-gara kakak..... huhu.... aku kan jadi ingat sama umi... huhu...." Aku malah jadi seperti anak kecil yang sedang merajuk.
Diam-diam ibu meninggalkan kami berdua yang sedang berada di teras. Beliau pulang ke rumah sambil membawa rantang-rantang yang tadi di bawa ke tempatku.
"Adek kan bisa manja-manja sama ibuk. Anggap saja ibuk itu seperti umi. Di sayang dihormati....".
Aku masih belum bisa menghentikan tangisku, masih menunduk sambil mengusap air mata dan ingusku dengan ujung jilbabku.
__ADS_1
" Jangan nangis lagi ! Boleh nangis kalau ingat dosa-dosa kita. Kalau cuma ingat aku nggak usah nangis sampai kayak gitu..!." Katanya dengan nada menggodaku.
Aku mendongak melihatnya kemudian refleks tanganku bergerak memukul lengannya.
Sebel.... orang lagi sedih malah di godain begitu.
"Mau pukul lagi nggak? Mumpung aku lagi baik ini... Abis ini adek nggak akan bisa pukul kakak lagi lho...."
"Ogah.... hus hus berangkat sana! Sudah ditungguin murid-muridnya tuh. Malah disini pacaran.... Ustadz macam apa itu?" Aku pura-pura ngambek padahal aku juga masih berharap bisa berduaan dengannya lebih lama lagi.
"Iya maaf... Aku memang bukan guru yang baik. Karena itu adek harus doain aku terus biar aku jadi orang yang beruntung dan di sayang sama Alloh....!"
Aku menganggukkan kepala pertanda setuju.
" Adek jadi anak yang solihah ya! Jadi gadis cantik yang baik hati.... Jangan lupa selalu doaian kakak ya!" Ia menatapku lekat dan itu membuatku heran. Biasanya kami hanya sekilas berpandangan kemudian saling memalingkan pandangan kami tapi kali ini ia seperti ingin memandangku lama-lama.
"Kakak pergi dulu ya. Nitip salam buat mas Zein kamu..." katanya sambil pergi menuju rumahnya.
"Apa sih kak? Kakak nggak jelas deh..?"
Orang ini kenapa sih sering banget nyebut-nyebut nama mas Zainal?
Ia yang sudah berjalan memunggungiku kemudian berbalik badan menghadapku sambil berjalan mundur,"Jangan suka marah-marah sayang...! Assalamualaikum my dear...."
Ih.... sayang? kok sayang.., Ini orang kenapa jadi menyebalkan sekali sih? Belum juga menikah sudah panggil sayang.
"Waalaikumsalam warahmatullah...!" Aku menjawabnya dengan ketus lalu beranjak pergi masuk ke dalam tak mau melihatnya lagi karena aku sedang kesal dan dalam mode merajuk.
__ADS_1
Setelah berada di dalam rumah aku mengintipnya. Aku kesal tapi entah kenapa aku ingin melihatnya lagi.
Ternyata sudah ada mobil pickup didepan rumah ibuk. Mobil yang membawa beberapa santri dan ada satu lagi mobil yayasan untuk mengantar mereka ke tempat tujuan.
Dia sedang salim sama ibuk kemudian segera naik mobil di bagian depan. Ia bagian menyupir rupanya.
Tin tin.... Terdengar bunyi klakson dari mobil yang dikendarainya.
"Bu dokter pergi dulu ya... Assalamualaikum...." Ia berteriak dan langsung mendapat deheman dari para santri dan ustadz lain. Aku tentu saja malu bukan kepalang. Meski tidak terlihat tapi kan aku dengar.
"Ehm..."
"Bu dokter ustadz berangkat dulu...."
Terdengar sahutan dari sana, mungkin sesama ustadz yang saling menggoda.
"waalaikumsalam warahmatullah..." jawabku yang hanya bisa ku dengar sendiri karena aku masih dalam posisi pengintaian "Aneh sekali sih dia hari ini pingin kupites-pites rasanya..."
"Dokter-dokter.!!!! tolong dok!!!!"
Belum juga hilang dag dig dug dalam hatiku sudah ada pasien saja rupanya.
Aku tergesa-gesa menuju ke depan dan melihat seorang ayah yang sedang menggendong anaknya yang kira-kira berumur 9 tahunan.
Hari itu entah kenapa pasiennya banyak sekali, tumben-tumbenan banyak orang sakit di desa ini.
-----?????!!!!!?????-----
__ADS_1
Aku lagi cari bacaan yang bagus yang bukan ceo-ceo an. Yang seperti kisah nyata gitu.... Ada yang bisa ngasih rekomendasi nggak? Novel yang ada NT, yang sudah end. Judulnya apa, penulisnya siapa? Kasih tahu ya, please!!! Lagi bete aku...