Dr. Ani And Family

Dr. Ani And Family
nenek


__ADS_3

" dokter.... dokter.... istri saya dok..!" seseorang dari kamar pasien berteriak panik. Ani yang sedang duduk di depan bangsal sambil menyandarkan kepalanya kaget dan segera berlari ke arah suara.


"istri saya tidak bernafas dokter..." kata kakek yang kini berdiri sambil mencabut selang infus dan selang oksigen dari hidungnya. Ia melihat istrinya yang duduk disebelah tempat tidurnya tidak bereaksi saat dia memanggil dan menepuk-nepuk pundaknya


"nenek.... nenek bisa mendengarku? nenek..... " tanya ani dengan suara lantang sambil menggoyang tubuh nenek dengan pelan.


"ambilkan monitor!" perintah Ani pada perawat yang sudah berdiri disitu. Ani kemudian memeriksa denyut nadi di leher nenek.


"Dia tidak bernafas, kita pindahkan ke tempat tidur!" Ani dan para perawat yang sudah berkerumun disitu memindahkan nenek ke atas tempat tidur


" satu dua tiga!"


"sayang.....sayang bangun sayang" kakek itu merintih sambil mencoba memeluk istrinya tapi ditahan oleh para perawat


"sambungkan monitornya dan siapkan perlngkapan untuk inkubasi!" kata Ani melanjutkan perintahnya.


Ia membuka jaket nenek kemudian meletakkan telapak tangannya di dada nenek dan tangan yang lainnya menumpu diatasnya. Ani menekan dada nenek sebanyak 100/120 kali permenit.

__ADS_1


"Ambilkan defribilator, cepat!" teriaknya sambil terus memompa dada nenek dengan segenap kekuatannya


"heh.....heh...... heh.....hheh.....heh..... " suara deru nafas Ani terdengar keras seiring dengan gerakan tangannya yang terus menekan dada si nenek


Si Kakek melihatnya dengan tatapan mata yang kosong.


"periksa detak jantung" Ani berhenti kemudian memeriksa denyut nadi di leher si nenek. denyut nadi belum kembali


Ani kembali memposisikan dirinya untuk melakukan CPR lagi. Telapak tangannya menekan dada si nenek beberapa kali.


Ani tak menghiraukan perkataan kakek, Ia terus menekan dada si nenek.


" Hentikan dokter, biarkan dia pergi dengan tenang!" kata kakek lebih keras sambil memegang erat tangan Ani. Ia mengatakannya sambil berlinang air mata.


Ani menghentikan gerakannya kemudian turun dari bed dan memandangi nenek dengan mata berkaca-kaca.


Ruangan menjadi hening tak bersuara. Perawat, pasien dan Semua orang yang berada di ruangan itu menjadi saksi jika malaikat pencabut telah datang dan mengambil nyawa nenek.

__ADS_1


kemudian isak tangispun mulai terdengar memenuhi ruangan. Hati setiap orang menjadi berkabut dan ikut bersedih atas apa yang terjadi. Tak ada yang beranjak dari tempatnya masing-masing. Mata mereka masih melihat nenek yang sudah tak bernyawa lagi dan terbujur di atas bed rumaj sakit.


.


.


Zainal membuka ice cream bucket yang ada ditangannya kemudian menaruh stick es krim dan memberikannya pada Ani.


Ani sudah tidak menangis lagi tetapi hidungnya masih saja meler.


"Bukankah seorang dokter sudah terbiasa menyaksikan kematian seseorang?" Zainal mulai membuka suara. Sejak tadi ia diam saja mendengarkan Ani bercerita sampai kekasihnya itu bisa menguasai keadan hatinya dan berhenti menangis.


Ani menyendok es krimnya beberapa kali. Hatinya sudah menghangat karena bisa mencurahkan perasaannya pada sang kekasih. Ditambah lagi es krim vanilanya yang manis dan lumer.


Ani menarik nafasnya dalam-dalam kemudian menghembuskannya.


" semalam, setelah aku selesai memeriksa kakek yang mengalami gangguan pernafasan aku keluar menghirup udara segar di depan bangsal sambil duduk melihat langit dan tumbuhan yang ada di sekitar situ. Nenek itu mendatangiku dan duduk di sebelahku.

__ADS_1


__ADS_2