Dr. Ani And Family

Dr. Ani And Family
Melamun


__ADS_3

"permisi....." Ani memberanikan diri mendatangi pria yang dipanggil ustadz tadi.


"iya....?" Ia menoleh pada arah suara yang sepertinya ditujukan padanya.


"Apa ini.... mau menuju ke .... ponpes masyarakat Merapi Merbabu?" Ani menggunakan isyarat dengan ibu jarinya untuk menunjuk mobil pick up yang ada di dekat mereka.


"Iya benar. Ada yang bisa dibantu?"


"Eem... itu... kalau boleh saya mau ikut nebeng..." Ani menggigit bibirnya karena takut jika ia mendapatkan penolakan. Yang dipikirkannya sekarang adalah tidur di stasiun di bangku-bangku yang ada. Itu akan lebih aman jika ia tidak bisa pulang ke tempat barunya hari ini.


"Mbak nya mau kemana?"


Ani menunjukkan alamat rumah sekaligus tempat prakteknya disana.


Pria yang dipanggil ustadz itu kemudian melihat para penumpang mobil pickup. Sepertinya sedang mencari kemungkinan agar bisa membawa Ani ikut serta dalam rombongannya.


"Tunggu sebentar dokter...." pria itu meninggalkan Ani yang sedikit terkejut karena dipanggil dokter.


"ah... iya. Dia pasti tau dari alamat ku.." Ani bergumam sendiri danntersenyum cerah. Ia mendapat secercah harapan bahwa ia akan mendapatkan tumpangan.


Pria itu berbincang dengan orang yang duduk di kursi depan dan dengan segera orang itu berpindah tempat dan duduk di belakang, di bak mobil pickup bersama para santri yang baru kembali dari rumahnya masing-masing karena liburan sudah berakhir.


Melihat para remaja itu Ani ingat pada Doni yang baru berangkat ke pondok Tebu Ireng yang ada di Jombang beberapa hari yang lalu.


Mungkin Doni seusia mereka. Dua rumah mereka pasti terasa sepi karena dua nyawa pergi. Tapi sebentar lagi akan hadir makhluk kecil yang akan menyemarakkan kehidupan keluarganya.

__ADS_1


" Bu Dokter..." pria itu menjentikkan jarinya didepan Ani yang sedang melamun dan menerawang kehidupan keluarganya saat ini.


"iya iya.... iya gimana?" Ani tergagap karena wajah pria itu terlihat tepat didepannya. Ternyata tampan juga. Putih bersih wajahnya. Hidungnya minimalis bibirnya tipis dan matanya sayu hampir mirip seperti pria-pria Korea yang terlihat cantik.


"Mari dokter.... hari hampir gelap. Saya akan sedikit ngebut nanti biar bisa solat Maghrib di rumah"


Ani berjalan membuntuti pria yang berjalan didepannya kemudian menganggukkan kepalanya saat melewati para remaja lelaki yang duduk di bak pickup. Pria yang di panggil pak ustadz itu kemudian membukakan pintu mobil untuk Ani dan mempersilahkan dia untuk duduk di samping tempat duduk pengemudi.


Selama di perjalanan dua orang yang sedang duduk di depan hanya beberapa kali saja bertukar kata. Selebihnya mereka hanya saling diam, berselancar di dunia yang berbeda.


Adapun para penumpang yang duduk berdempetan di bak belakang , mereka tampak saling bercerita tentang banyak hal sepulangnya dari kampung halaman masing-masing. Tak ada gurat payah di wajah mereka meski baru saja menempuh perjalanan dari tempat yang jauh bahkan lebih jauh dari Ani.


Memang benar masa muda adalah masanya bergembira. Tak ada beban di pundak mereka. Yang ada hanya kebahagiaan dengan menyusun cita-cita untuk masa depan dan mengisi hari-hari nya dengan canda dan tawa.


Ani melihat ke depan ke arah jalanan tapi hatinya sedang mengingat bagaimana awal mulanya dia bisa memantapkan hati untuk tinggal di daerah yang bahkan baru dilihatnya sekali.


Ia pun mencari informasi selengkapnya agar sedekahnya tepat sasaran. Saat melihat misi pesantren ia melihat rancangan kesehatan yang diprioritaskan untuk para santri maupun masyarakat di sekitarnya. Ia kemudian segera menghubungi nomer yang tertera di artikel itu dan menanyakan apakah masih membutuhkan tenaga medis atau tidak.


Ani segera mengurus cutinya dan datang langsung ke Jawa tengah. Ia ingin melihat secara langsung kondisi masyarakat disana. Ia juga mendonasikan bantuan dari keluarganya melalui ustadzah di sedang bertugas di sana.


Tak disangka hatinya langsung terpaut di tempat itu dan ia pun mendaftarkan dirinya menjadi tenaga medis disana. Ia sudah tahu konsekuensi nya. Gaji yang lumayan besar yang tiap bulan ia terima pasti akan hilang. Tapi sekarang ia hanya ingin hatinya tenang dan lebih mendekatkan diri pada Tuhan Sang Pencipta semesta alam.


Tak masalah tak dapat gaji dan berbagai tunjangan yang sesuai profesinya. Ia benar-benar ingin mendedikasikan ilmunya untuk meraih pahala sebesar-besarnya kali ini. Toh ia masih punya tabungan yang bisa dipakai untuk satu tahun ke depan. Ia akan kembali ke tempat asalnya satu tahun lagi, begitu rencananya.


Ia mengurus semuanya secara cepat dan waktunya memang sangat tepat. Setelah ia melakukan sumpah dokternya yang kedua ia pun sudah siap melepaskan berbagai tawaran yang datang padanya karena hatinya sudah mantap untuk mengabdi di kota lain yang masih ada di dalam negri.

__ADS_1


Bahkan Dokter Ibrahim juga menyayangkan keputusan nya dan mencoba membujuknya agar ia mau mengambil spesialis dengan pembiayaan dari rumah sakit. Beasiswa full.


Masalah hati memang rumit. Bagaimanapun menggiurkannya tawaran yang datang dari berbagai arah jika hati tetap teguh dengan keputusan yang diyakini jiwa raganya tak akan tergoyah.


.


.


Setelah melewati kota dengan segala hiruk pikuknya kini pemandangan alam yang indah ada di depan mata. Pohon-pohon yang hijau disegala sisi. Hawa dingin yang merayapi kulit dan kabut yang menghalangi pandangan tampak sangat mengagumkan. Itu adalah lukisan Tuhan yang keindahannya tiada bandingan.


"Masya Alloh...." Ani bergumam sambil melihat suguhan alam yang terbentang luas sejauh mata memandang dan tidak bisa ia lihat di daerah asalnya. Gunung-gunung yang menjulang kokoh menancapkan kekuatan nya untuk menjadi pasak bumi.


Seperti firman Allah dalam surat Al anbiya'


"Dan telah Kami jadikan di Bumi ini gunung-gunung yang kokoh supaya Bumi itu (tidak) guncang bersama mereka dan telah Kami jadikan (pula) di Bumi itu jalan-jalan yang luas agar mereka mendapat petunjuk.


Pak ustadz yang sedari tadi diam saja itu melirik gadis yang duduk disebelahnya saat ia mendengarkannya bergumam.


Sekilas pandangannya ia bisa melihat gadis yang duduk disampingnya itu cantik, berkulit putih, wajah nya sangat sempurna menurut pandangannya. Bentuk tubuhnya proporsional. Rambutnya panjang.


Seandainya saja ia menutup aurat pasti cocok sekali untuk dijadikan istri, pikirnya. Tapi ia seorang dokter, apa ia mau dengan pria sepertiku yang tak punya penghasilan tetap ini.


'Eh.... kenapa aku mikirnya jauh sekali. Namanya saja belum tahu... sudah mengada-ada.'


Ia meraup wajah nya agar tersadar dari lamunannya

__ADS_1


" Astaghfirullahaladzim" katanya


__ADS_2