
"Lama banget sih bang...?" Lukman bertanya sedikit kesal pada abangnya yang baru sampai. Hampir satu jam menunggu abangnya tak juga datang-datang padahal perjalanan dari rumahnya ke rumah Doni bisa ditempuh sekitar dua puluh menit saja.
"Kan keramas dulu... Masak mau jadi saksi pernikahan dalam keadaan junub. Jangan merengut gitu! Habis ini kan kamu bisa merasakannya!" bisik bang Alif ditelinga Lukman.
Lukman hanya menyeringai mendengar kata-kata bang Alif. Ia mengangkat karpet dari bagasi mobil yang tadi dimintanya dari Karina karena di rumah calon istrinya itu tidak ada karpet.
Ia masuk kedalam ruang tamu sambil bermonolog,
Bikin kepalaku traveling saja lihat rambut kamu setengah basah gitu bang. Seenak apa ya ....Jakun Lukman terlihat naik turun menelan ludah karena pikirannya ke mana-mana.
Doni yang ikut mengangkat karpet yang dibawa bang alif penasaran melihat rambut bang Alif yang setengah basah.
__ADS_1
"Dingin-dingin kayak gini abang habis keramas bang?" tanya Doni penasaran karena malam ini udara terasa lebih dingin dari biasanya.
"Iya, tadi di rumah panas. Habis olahraga soalnya" Jawab bang Alif.
"Malam-malam olahraga bang?" tanya Doni penasaran.
"Iya. Ayo ini ditaruh dimana karpetnya?" tanya bang Alif mengalihkan rasa penasaran cowok remaja yang beberapa bulan ini dekat dengan keluarga nya agar berhenti bertanya.
Zainal dan pak Dirman mengangkat kursi yang hanya beberapa biji itu ke luar, ke halaman rumah tetangga. kemudian menggantinya dengan karpet yang sudah dibawa oleh bang Alif sekeluarga.
Ani dan Zainal tadi datang dengan membawa kue-kue dan nasi tiga puluh kotak. Ani juga mengambil uang satu setengah juta dari ATM Lukman yang tadi memintanya untuk menarik uang dari ATM nya. Ani kemudian menata kue-kue yang dibawanya tadi dalam piring-piring.
__ADS_1
Sedangkan Mia sedang berada di dalam kamar dengan Laila. Meski usia Mia lebih muda dari Laila, Karina dan Ani tapi ia lebih dewasa dari mereka bertiga. Mungkin karena menjadi istri bang Alif yang seorang ustadz sehingga ia bisa membawa diri seperti apa yang diajarkan oleh suaminya. Ia bahkan sudah seperti ibu dan kakak untuk Ani dan Karina. Sedang Laila menganggapnya seperti seorang ustadzah.
"Kamu yakin mau menerima Lukman sebagai suamimu?" tanya Mia dengan hati-hati pada Laila.
Laila yang sedari tadi menundukkan kepalanya karena segan pada istri bang Alif itu hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawabannya.
"Ketika ijab Qabul sudah sah diucapkan maka kamu adalah milik suamimu. Kamu wajib menghormatinya, mentaati semua perintahnya selagi itu bukan maksiat pada Alloh. Aku juga baru wacana saja, prakteknya juga belum bisa." Kata Mia sambil mengelus perut buncitnya.
Laila mendengarkannya saja sambil meresapinya.
"Mari niatkan pernikahan ini sebagai bentuk rasa takut kita kepada Alloh agar tak terjerumus kedalam sesuatu yang melanggar perintahNya dan sebagai bentuk ittiba' pada Nabi, mengikuti Sunnah rosul. Semoga setelah menikah nanti kita menjadi manusia yang lebih baik lagi"
__ADS_1
Laila hanya menganggukkan kepalanya saja lalu mencium tangan Mia.
"Hei ngapain cium tangan aku? Aku ini hanya mengingatkan karena kita akan menjadi saudara. Jangan berlebihan seperti itu!" Mia melepaskan tangannya dari Laila kemudian memeluk Laila dan mengusap punggungnya. Mia kemudian berkata lagi ," Ayo kita lomba untuk berbenah diri !"