
"mas.... ini uang apa?" Laila masih duduk bertumpu pada satu kakinya saat Lukman masuk ke kamar.
"Hem.... oh itu...."Lukman yang baru pulang dari musolla kemudian duduk di bibir kasur dan Laila mengikutinya, duduk disebelahnya sambil membawa kresek yang ditemukannya tadi.
" aku membayar hutang Doni dua puluh lima juta dan si ketua preman itu mengembalikan yang lima juta padaku.."
"kok bisa.. kenapa?"
"aku mengembalikan rokoknya yang tertinggal disini waktu aku. sama minta maaf karena aku menghisap rokoknya tanpa minta izin dulu sama dia. Hatiku kalut waktu itu jadi ada rokok langsung saja kusikat..."
"ngapain minta maaf.... dia kan udah jahat sama kita" Laila berbicara dengan memanyunkan bibirnya. kalau ada karet mungkin bibirnya itu bisa dikuncir atau dikepang barangkali.
Ia masih merinding ketika mengingat si ketua itu mengendus-endus telinga dan lehernya. Saat ia ingat biasanya dia akan membasuh telinga dan lehernya dengan air atau tisu basah.
"Sini.... "Lukman meminta Laila agar lebih mendekat padanya. Ia kemudian meraih tangan kanan Laila dan diusap-usapnya jemari istrinya yang lentik dan halus.
".Dulu ada seorang pemuda bernama Idris yang sedang berjalan dipinggir sungai. Ia kemudian melihat buah delima yang hanyut di sungai. Tanpa pikir panjang Ia pun langsung memakannya. Setelah memakannya sebagian ia baru sadar jika buah delima itu bukan miliknya dan ia memakannya tanpa minta izin terlebih dahulu kepada pemiliknya.
Kemudian ia menyusuri sungai dengan arah yang berlawanan dengan arusnya. Ia berjalan sampai menemukan pohon delima yang menjulang ke sungai dan lebat buahnya. Ia yakin jika buah delima yang dimakan olehnya tadi berasal dari pohon itu. Ia kemudian mencari informasi tentang pemilik buah delima itu dan mendatanginya, memohon agar delima yang sudah terlanjur dia makan untuk dimaafkan dan diikhlaskan.
__ADS_1
pemilik pohon delima itu terdiam sebentar lalu menatap tajam pada pemuda di depannya. "tidak semudah itu wahai anak muda kamu harus bekerja menjaga dan membersihkan kebun saya selama satu bulan tanpa digaji. "
demi memelihara agar apa yang sudah masuk ke dalam perutnya menjadi halal iapun menyanggupinya.
Setelah sebulan berlalu Idris kemudian menghadap kepada pemilik buah delima “Tuan, saya sudah menjaga dan membersihkan kebun anda selama sebulan. Apakah tuan sudah menghalalkan delima yang sudah saya makan?” katanya
pemilik kebun itu tidak rela melepas pemuda yang jujur itu begitu saja
“Tidak bisa, ada satu syarat lagi jika kamu ingin saya mengikhlaskannya anak muda. Kamu harus menikahi putri saya yang buta, tuli,
bisu dan lumpuh"
Setelah akad nikah berlangsung, tuan pemilik kebun memerintahkan Idris menemui putrinya di kamarnya.
Saat tiba dikamar, bukan gadis buta, tuli, bisu dan lumpuh yang ditemuinya melainkan seorang gadis cantik yang nyaris sempurna.
Idris pun segera keluar dari kamar karena mendapati gadis yang dikamar itu tidak seperti yang digambarkan oleh mertuanya. Ia mengadukan hal itu pada sang mertua.
"Wahai Idris," kata sang mertua "putriku itu tuli karena tidak pernah mendengarkan maksiat. dia juga buta karena tidak pernah melihat hal-hal yang diharamkan untuknya. putriku itu juga bisu dan lumpuh karena tidak pernah mengatakan sesuatu yang dilarang oleh agama dan ia tidak pernah melangkahkan kakinya nya untuk bermaksiat kepada Tuhannya."
__ADS_1
gadis itu bernama Ruqoyyah. Dari pernikahan itu lahirlah seorang anak yang bernama Muhammad bin Idris bin Abbas bin ustman bin syafi' yang kita kenal dengan sebutan imam Syafi’i, seorang ulama besar, guru dan panutan bagi jutaan kaum muslimin di dunia. "
Lukman melihat istrinya yang dari tadi memainkan jemarinya.
"Mulai sekarang berhati-hati lah soal makanan yang masuk ke dalam perut kita. Pastikan semuanya halal agar kita juga dikaruniai anak-anak yang Soleh solehah tidak seperti ayah ibunya." Lukman membungkukkan badan kemudian mencium perut istrinya.
hiks....
Lukman mengangkat kepalanya,"kenapa menangis?"
"Hua.... aku juga ingin anak yang Soleh tapi aku kayak begini.... Hua...."
Lukman memeluk istrinya,"aku juga seperti ini, tapi aku tidak akan putus asa dari rahmatnya, aku akan terus berharap dan berdoa"
"Hua .... aku akan berdoa semoga anak-anak kita seperti bang Alif yang sabar dan baik hati" kata Laila sambil terisak
"kok bang Alif...?" Lukman menarik tubuhnya dan menatap Laila.
"iya pokoknya kayak bang Alif yang sabar, pintar, baik hati, alim, tampan. Hua.... pokoknya aku maunya kayak bang Alif.. titik." Laila berbicara diantara Isak tangisnya.
__ADS_1
"nggak bisa....enak saja" sergah Lukman dengan suaranya yang keras