Dr. Ani And Family

Dr. Ani And Family
terbalik


__ADS_3

Aku makan dengan lahap didepan gadis cantik yang membuatku sedih beberapa hari ini. Meski perutku sedikit sakit tapi aku tak menghiraukannya. Mungkin perutku berontak dan kaget karena tiga hari kemarin sedikit sekali makanan yang masuk ke dalam tubuh ku dan kini tiba-tiba aku makan juga minum dengan tergesa-gesa.


Aku tahu dia sedang menatapku tapi aku masih kesal dan melahap roti dan minum kopi tanpa melihat ke arahnya. Sepertinya cintanya padaku hanya secuil saja. Justru aku yang mencintainya dalam jumlah yang banyak sehingga membuatku seperti kehilangan arah. Kalau saja tak ada iman dalam hati aku pasti akan mengajaknya kawin lari.


"Memangnya seharusnya aku bagaimana?" dia diam sejenak


"Mengurung diri dalam kamar? tidak mau bekerja? tidak mau makan dan minum? Hanya meratapi nasib dan menangis? Apa aku harus seperti itu?"


BRAKKK .....!!! aku menggebrak meja sambil memejamkan mata


'ya. seperti itulah aku beberapa hari ini. Dan kenapa cuma aku? Kenapa kamu tidak merasakan seperti yang aku rasakan?'


Aku mendongakkan kepala, menatap wajahnya. Darahku berdesir hatiku panas. Terlihat jelas diwajahnya jika ia kaget dengan tindakanku barusan. Mungkin ia tak menyangka aku bisa semarah itu, jujur saja aku tak pernah melakukan hal seperti itu sebelumnya. Meski aku manja tapi aku selalu bisa mengendalikan emosi dengan baik.

__ADS_1


"Apa hanya aku jatuh cinta disini? Apa kau pernah mencintaiku nona dokter?" Aku tak sanggup memanggil namanya atau memanggil nya seperti biasa.


sepertinya aku belum pernah mendengarkan dia mengatakan cinta padaku. Akulah yang jatuh cinta duluan dan mengejarnya. Naas sekali nasibku....


"Aku bukan orang yang mengagungkan cinta sebelum pernikahan. Aku hanya akan mengucapkannya pada suamiku sebanyak yang dia mau" katanya sambil melanjutkan makannya.


"hah...? bahkan kita baru beberapa hari yang lalu putus dan kau sudah memikirkan penggantiku. Naif sekali aku....mengira jika kau juga mencintaiku sama sepertiku. Jadi hanya aku jatuh cinta ? kau menerimaku dengan terpaksa? kenapa? bukan karena aku adalah atasan pak dirman kan? bukan karena aku orang kaya kan" Apa yang sudah kuucapkan, kenapa semua lepas kendali seperti ini.


Ani menatap tajam padaku dengan menahan marah,"terserah apa yang anda pikirkan pak zainal". Ia berdiri dan berjalan meninggalkanku.


"saya harap papa anda segera sembuh dan bisa hidup lama..." Sepertinya ia ingin mengucapkan lebih banyak kata tapi urung untuk dikatakannya.


Aku masih menatap punggungnya. Ia benar-benar meninggalkanku begitu saja. Padahal aku berharap bisa berbaikan dengannya meski tak lagi bersama. Dan jauh di lubuk hatiku yang terdalam masih ada sebersit doa ,berharap dia adalah jodoh yang disiapkan Tuhan untukku. Tapi apa mau dikata. Aku kelepasan bicara padanya, pasti hatinya sakit sama sepertiku yang menyesali tindakanku yang kekanak-kanakan.

__ADS_1


Dari jauh aku melihat dokter Ibrahim menyusul Ani kemudian mereka berbincang sambil berjalan meninggalkan kantin. Sakit hatiku melihat mereka tampak sangat serasi bahkan dari balik punggung mereka dengan pakaian yang senada dan cara berjalan yang seirama. Aku mencoba menahan kemarahanku. Rasanya aku ingin mengobrak abrik rumah sakit ini dan menghancurkan semua yang ada didalam nya.


Kenapa semua jadi berakhir menyesakkan dada ? Aku menumpukan tanganku di atas meja dan menangis lagi. Kenapa aku cengeng sekali sedangkan Ani tampak tegar dan seperti tak ada beban sama sekali. Kenapa jadi terbalik seperti ini.


Setelah puas menangis aku berjalan meninggalkan meninggalkan kantin. Tak kuhiraukan tatapan mata yang sedang mengarah padaku. Aku tak perduli bagaimana mereka menilai ku. Terserah saja. Aku memang pria paling malang didunia, pantas jika aku menangisi nasibku.


Sampai dikamar papa, aku menggenggam jemarinya melihat wajahnya yang mengeriput dan menangis lagi di situ. Rasanya hanya papa yang sayang padaku di dunia ini dan selalu membelaku, kapan pun itu.


Bahkan sakitnya kali ini juga demi membelaku agar bisa melihatku bahagia. Papa bertengkar hebat dengan mama dan aku tak menghiraukannya sampai aku mendengar suara barang pecah belah yang dibanting barulah aku keluar dari kamar dan mendapati papa sesak nafas. Untung obatnya selalu ada dalam sakunya sehingga ia bisa bertahan sampai ambulance datang. Papa memang punya riwayat penyakit jantung jadi ia selalu berjaga-jaga dengan selalu membawa obatnya.


"Biar mama yang jaga papamu disini. Kamu pulang saja Zein. Sebaiknya besok kamu juga kembali bekerja kalau perlu pecat saja pak Dirman itu" Ternyata Mama sudah berdiri di belakangku.


mudah sekali mama mengatakannya, seperti nya lidahnya memang tak bertulang. Memecat pak Dirman begitu saja padahal aku belum mampu memimpin perusahaan dengan benar. Bagaimana nasib karyawan jika punya pemimpin yang belum cakap dan tidak mumpuni seperti diriku.

__ADS_1


Aku mengangguk dan meninggalkan kamar tanpa sepatah kata keluar dari mulutku. Aku ingin mama tahu jika aku sedang marah dan kesal padanya.


__ADS_2