
pak dirman menghela nafasnya. Tidak tahu apakah ia harus bahagia ataukah ia harus bersedih. Jika Zainal sudah mengerti dengan tanggung jawabnya bukankah beban yang dipikulnya akan segera berpindah tangan yang artinya dia akan turun jabatan atau yang paling fatal akan dipensiunkan karena umurnya sudah hampir 55 tahun.
hiks.... kenapa hatinya jadi melow macam anak perawan yang hendak ditinggal kekasihnya pergi jauh untuk bekerja. Hatinya tak rela ditinggalkan tapi kalau tidak bekerja mau makan apa? dih.... galau
"pak dirman!!
pak!!
pak dirman!!" Zainal melambai-lambaikan tangannya di depan muka pak Sudirman. Tapi sepertinya pak dirman sedang galau sampai tak menyadari panggilan Zainal.
"Ehm...ehm.. ehem...ehem...!!"
"E..eh i..iya pak!" pak dirman salah tingkah saat menyadari anak bos besarnya mengajaknya berbicara, mungkin sedari tadi.
"Pak dirman, bagaimana kalau pemeriksaan kesehatan diadakan setiap 4 bulan sekali? Apakah akan merugikan perusahaan?"
"wah... mohon maaf pak zein, kalau satu tahun 3 kali jelas akan memakan biaya yang tidak sedikit. meskipun tidak sampai merugikan perusahaan tetapi uang segitu banyak bisa kita pakai untuk promosi dan pengadaan barang baru".
"coba tolong kirim dokumennya ke meja saya ya pak. Biaya kesehatan karyawan dan info keuangan dua tahun ini". Zainal berkata demikian sambil membelai-belai janggutnya yang sudah ditumbuhi rambut-rambut halus. Padahal baru seminggu yang lalu ia mencukurnya.
"Baik. akan segera saya siapkan!"
"terima kasih pak dirman!" kata Zainal sambil berlalu keluar.
__ADS_1
"sama-sama pak zein!" kata pak dirman sambil berdiri.
sebelum menutup pintu Zainal mengingat sesuatu dan berkata pada pak sudirman ," tolong minta seseorang untuk mengantarkannya agar tidak menimbulkan kecurigaan ya pak!"
"Baik pak!" jawab pak Dirman masih dalam posisi berdiri menatap kepergian zainal.
.
.
.
Zainal berjalan menyusuri lantai dua sambil melihat ke berbagai arah. Ia berhenti di pagar pembatas dan melihat ke lantai satu.
Ada berbagai aktifitas disana. Mulai dari para pekerja, pennyewa stand, sales maupun para konsumen tumpek blek karena ini adalah hari sabtu. Kesibukan yang kerap terjadi tiap weekend.
Seperti ada magnet cewek manis itu mendongak ke lantai atas, tepat ke arah zainal. Zainal yang gelagapan seperti maling jemuran yang ketahuan refleks tersenyum pada gadis itu.
Diluar dugaan zainal, gadis itu tersenyum balik kepadanya.
Zainal pun memegang dadanya yang sedang berdebar-debar karena bahagia sambil terus menyunggingkan senyum terbaiknya. Duu..h hati abang jadi meleleh kan neng ..
cukup lama mereka berpandangan, sampai antrian didepan cewek berkerudung biru itu menyelesaikan pembayaran dan tiba gilirannya untuk maju dan menghitung belanjaan yang ada di keranjangnya.
__ADS_1
"Pak zein, permisi". suara disampingnya membuat zain terkejut dan menoleh ke arahnya.
Laila menyodorkan berkas dan bolpoin kepada atasannya itu kemudian melongokkan kepalanya ke lantai bawah.
Dadanya terbakar cemburu saat melihat cewek cantik berkerudung didepan kasir yang sedang menatap kearahnya, mencari keberadaan Zainal tepatnya. Bibirnya langsung maju mletat mletot saat gadis berkerudung biru itu tersenyum padanya.
Manis sekali sih senyumnya, gerutu hatinya tak terima. Seperti itukah cewek idaman pak Zainal? Hatinya seperti teriris-iris
Setelah membaca berkas yang disodorkan padanya, Zainal pun menandatanganinya. kemudian mengembalikannya pada Laila .
La... lala....!!
"e..eh iy iya pak".
" ini.. kamu nglamunin apa sih?" Zainal mengembalikan berkas-berkas yang sudah ditanda tanganinya sambil melongokkan kepalanya ke bawah. Tak didapatinya yang dicari
"nglamunin bapak,... hehe..."
"aneh.... aku didepanmu kok kamu nglamunin aku sih. Namanya melamun itu y pikirannya terbang kesono noh..." kata zainal sewot sambil menunjuk ke arah awan yang terlihat dari posisi mereka berdiri.
"Maksudnya ketemu orang-orang mati gitu pak?"
" au ah... pusing ngomong sama kamu la. gak nyambung" kata Zainal sambil berlalu dari hadapan laila.
__ADS_1
Laila mengeratkan giginya, geram pada atasannya itu. Lama-lama kesel juga sama Zainal. padahal kalau dari jauh itu bikin hatinya deg-degan nggak karuan tapi kalau sudah ngobrol itu y, nylekit banget tau nggak sih..
"Huuf.... untung aja ganteng" kata laila sambil berlalu untuk melanjutkan pekerjaannya.