
Zainal
"Kamu masih ingat kan persyaratan yang kuajukan padamu?" Aku menarik lenganku yang tiba-tiba diraih oleh Wulan.
Wulan menganggukkan kepalanya kemudian ia menunduk.
Aku menarik kursi dan duduk dengan kesal. Bisa-bisanya dia melakukan hal itu lagi dan lagi. Aku sudah bersedia untuk menjalin hubungan dengannya dengan syarat dia tak boleh menyentuhku dengan alasan apapun dan dia menyanggupinya dengan wajah yang bahagia saat itu tapi disaat bertemu denganku dia pasti akan mencoba menggelayut atau menempel-nempel padaku. Risih sekali rasanya.
Dalam hal ini tentu saja mama adalah orang yang paling berbahagia saat aku mengatakan jika aku bersedia. Mama langsung heboh dan segera menghubungi teman nya membicarakan banyak hal sepertinya. Terserah mama aku sudah pasrah. Disuruh ketemu Wulan aku mau. Disuruh jemput dia aku lakukan. Diajak makan malam dengan keluarganya aku tidak menolak.
Sepertinya Mama sudah merencanakan banyak hal dari lamaran, pertunangan sampai pernikahan. Aku ikut saja dan setiap malam kini aku punya kebiasaan solat istikhoroh. Aku ingin mendapatkan petunjuk dan kemantapan hati.
Sejauh ini Wulan tidaklah terlalu mengecewakan kecuali kebiasaanya yang ingin menempel padaku dan sifatnya yang ganjen mencoba untuk merayuku.
"Duduklah kenapa berdiri di situ?"
Aku baru sadar jika Wulan sedari tadi berdiri dan aku larut dalam pikiranku sendiri. Mukanya tampak cemberut.
Aku cuek saja.
jangan harap aku akan bertanya dan mencoba merayumu. Kau mau duduk silahkan tidak mau duduk terserah padamu itu urusanmu. Aku akan makan dengan tenang, Batinku tak acuh
Kami sedang berada di lantai dua swalayan. Mama menyuruhnya datang kesini agar makan siang denganku. Aku mengiyakan. Pekerjaan bisa kutangguhkan karena aku juga butuh asupan untuk melanjutkan hidup entah itu penderitaan atau kebahagiaan aku tetap butuh makan.
Aku memesan makanan di stand makanan korea dan cina. Sepertinya itu sedang ngetrend di kalangan anak muda dan aku berpikir jika Wulan juga menyukainya.
Saat makanan kami sudah datang dia malah memesan air mineral dan es jeruk saja.
"Kenapa tidak mau makan?"
"Aku sedang diet mas....!"
__ADS_1
"Badanmu sudah sangat kurus kenapa mesti diet?" Aku menatap tubuhnya dengan seksama. Tubuh yang proporsional menurutku. Sama seperti Dokter A..ni.
"Ha....?" Aku tersenyum miris kenapa masih saja mengingatnya. Dia bahkan sudah punya penggantiku. Namanya juga sama denganku lagi, Zein... Kenapa aku punya nama pasaran seperti itu. Aku mendengus kesal pada pikiran dan otakku yang masih saja mengingatnya.
"Mas Zein kenapa?" tanya Wulan.
Aku tak menjawabnya dan terus melahap makananku.
"Mas Zein kapan kita ke toko perhiasan? Kata mama kita harus pilih cincin yang pas dan sesuai selera kita"
" Jadwalku masih padat...."kataku sambil melanjutkan makananku.
.
.
.
.
"Kita batalkan acara lamaran kamu dengan Wulan..."
Apa aku salah dengar? Aku memilih diam dan menunggu penjelasan dari mama.
Papa yang sedang ada disamping mama sepertinya tak sabar menunggu penjelasan.
"Kenapa, kau yang memaksa sekarang kau juga yang ingin membatalkannya?"
Mamaku itu diam seperti enggan untuk menjelaskan dan kami menunggu beberapa menit kemudian setelah mamaku itu mendengus dan menghela nafasnya berkali-kali.
"Temanku ada yang bilang saat ke rumah sakit untuk check up dia melihat Wulan pergi ke poli kandungan dengan seorang pria. Dia bertanya apakah itu kamu atau bukan?"
__ADS_1
"Hah...?" Aku kaget mendengarnya.
" Jelas saja aku tak terima. Dia seperti menuduh kau sudah berbuat jauh sampai Wulan hamil. Tapi aku juga tidak bisa menyanggahnya dan mencoba untuk mengikutinya. Dua hari ini aku mengikutinya dan ternyata dia sudah hamil dengan pria yang selalu bersamanya"
"Mama mendesaknya supaya mengakuinya ma?"
"Iyalah. Mama nggak tahan lagi mau tahu kebenarannya. Mama labrak saja dia saat ada di restoran".
"Itu namanya menguntit ma. Stalker kata anak jaman sekarang..." kata papa
" Pokoknya aku nggak mau punya mantu bekas macam itu. Berbuatnya sama orang lain tapi anakku yang disuruh bertanggung jawab dan mengasuhnya enak saja...." Mama terlihat kesal sekali.
"Yang mau dia jadi menantu kita juga siapa?"
"Papa ini gimana sih? Bukannya senang malah mojokin mama terus ....?"
"Iya sudahlah... Untunglah kalau kamu sudah sadar. Sekarang biarkan Zainal yang menentukan hidupnya. Dia sudah dewasa. Mama ingin Zainal bahagia atau mama hanya ingin bahagia untuk diri mama sendiri?"
"Maksud kamu apa sih pa?"
Aku memikirkan Wulan, saat pertama kali bertemu dia sangat agresif tapi belakangan ini dia malah agak penurut. Apa dia benar-benar seperti yang dikatakan mama atau tidak aku tidak mau menuduhnya karena mama terkadang kurang obyektif dalam melihat suatu hal.
Tapi aku juga bersyukur. Alhamdulillah semoga setelah ini mama jera dan tidak akan menjodohkanku dengan anak-anak temannya.
"Bagaimana dengan keluarganya ma?" Tanyaku karena kami sudah beberapa kali bertemu.
"Mama yang akan menyelesaikan semuanya".
Aku masuk ke kamarku dengan tersenyum.
Terima kasih ya Alloh....... setelah aku memasrahkan diriku ternyata Engkau sendiri yang menyelesaikan masalahku dengan cara yang tak terduga.
__ADS_1