
dr Ani menutup telponnya kemudian duduk di kursinya. Sebelumnya ia melakukan panggilan dengan berjalan mondar mandir kesana kemari sambil menggigit bibir dan kuku jari tangannya. Ia kemudian menelungkupkan wajahnya ke meja.
"Memalukan sekali. hiks ....hiks.. hiks.
seharusnya tadi aku tidak langsung menutupnya. Hiks... kenapa dia sepertinya biasa saja. Bagaimana ini? Bagaimana kalau semua tahu umurnya lebih muda dariku, brondong. Oh my God. hiks hiks..... Aku harus bagaimana kalau ketemu dia besok... hik hik hiks" Ia ingin sekali menangis tapi tidak ada air mata yang mau keluar dari pelupuk matanya.
Ia menghela nafas bekali-kali sambil menaruh kepalanya dimeja menghadap ke kanan kemudian merubah posisi kepalanya menghadap ke kiri. Ia melihat hp nya kemudian mengetik kata si mas untuk menyimpan nomer yang barusan dia telpon. Nomer Zainal.
Ia mendekap telponnya lalu memejamkan matanya, "nggak sabar nunggu besok.....tapi takuut" Katanya dengan dada berdebar-debar.
"tok tok tok"
dr Ani menegakkan duduknya sambil berdehem untuk untuk menetralisir raut wajahnya yang terlihat senyum-senyum sendiri.
" Ehm masuk!" Perintahnya.
"Sebentar lagi ada empat pasien kecelakaan dok!" Kata si perawat memberi kabar agar sang dokter bisa bersiap-siap.
"Iya baiklah, saya segera ke sana" dr Ani merapikan jasnya kemudian menyambar stetoskop dan mengalungkannya di leher. Ia pun berjalan keluar dari ruangannya sambil melihat jam tangannya.
__ADS_1
'kemana Karina' tanya hatinya
.
.
Malam harinya di ruang tamu tampak pak Dirman, bang Alif dan bang Lukman sedang berkumpul. Sedangkan diruang tengah yang tidak bersekat dengan ruang tamu, hanya dibedakan dari cara menata kursinya dan terdapat tirai besar yang dipakai jika ada tamu saja agar ruangan tengah tak bisa di akses oleh para tamu.
Di ruang tengah tampak kak Mia, dr Ani dan Karina sedang duduk melihat drakor.
Para lelaki asyik berbincang masalah pekerjaan dan hal-hal yang rumit.
"Itu... ternyata dompet curian juga. Habis nyuri langsung mau dipake belanja, nggak taunya malah di copet sama anak tadi"
"Emang bu Carla yang ngaku kayak gitu?"
"Ya waktu dompetnya diperiksa kok ktp nya orang lain terus ada beberapa atm. Duitnya ada sekitar 500 ribuan. Sepertinya bu Carla belum sempat memeriksanya dan langsung dipake saja" Jelas pak Dirman.
Bang Alif hanya menjadi pendengar setia karena dia tak tahu jalan ceritanya dan tidak ingin menyela ayahnya.
__ADS_1
"Astaghfirulloh, jadi belibet begitu yak? dunia..ohh.... dunia..." kata Lukman lebay.
"Remaja tadi siapa namanya?" Tanya pak Dirman.
"Doni?" jawab putranya.
"Iya. Dia itu gimana?"
"Ternyata dia itu ngebantu anak-anak di sekitar kolong jembatan daerah nggenuk watu situ yah. Ya Alloh... ternyata masih banyak anak-anak yang belum sekolah. Doni tadi bilang dia sering nyopet katanya buat ngasih makan dan tadi buat biaya berobat karena ada anak yang sakit demam berdarah. Tadi aku sama Zainal ikut ke sana. Miris banget keadaannya. nggak tau itu anak siapa ? orang tuanya pada kemana? "
Mendengar kata Zainal disebut oleh abangnya, Ani tidak lagi bisa berkonsentrasi pada drakor yang sedang dilihatnya. Matanya melihat TV tapi telinganya dipasang ke arah depan, ruang tamu. Ia mencuri dengar apa yang sedang dibicarakan oleh abang dan ayahnya. Ia ingin lebih tahu tentang Zainal.
"pak Zainal ikut?" tanya pak Dirman.
"Iya..... ayah nggak usah panggil pak. sebentar lagi kayaknya dia bakalan jadi mantu ayah...!" Kata Lukman dengan mengeraskan suaranya agar terdengar oleh Ani.
Kontan saja Ani menoleh ke arahnya. Ia kaget kenapa abangnya itu bisa tahu. Padahal Ani belum bercerita pada siapapun kalau sudah jadian dengan Zainal. Karina bahkan belum tahu. Hanya lusa kemarin ia bercerita pada kak Mia kalau ada seseorang yang sedang mendekatinya dan ingin jadi pacarnya.
Kak Mia hanya berkata, "Kamu sudah dewasa yang penting kamu harus jujur dan bisa bertanggung jawab atas semua yang kau lakukan. Bukan hanya pada kami tapi yang utama bisa mempertanggung jawabkannya pada Alloh pada Yang Maha Kuasa"
__ADS_1