
Ani
Setelah Pak Kardi berangkat kak Zein masih berada di situ. Kembali duduk didepan seperti tadi. Aku merasa aneh, tak biasanya dia bersikap seperti itu. Apa mungkin ada yang ingin dibicarakan karena pernikahan kami disepakati bersama kedua keluarga dua bulan lagi.
" Kenapa kak?"
" Aku nitip ibuk ya dek....! Tolong jagain dia baik-baik..!"
" Memangnya kakak mau kemana? Dapat tugas dari pondok? Ditugaskan ke luar daerah atau keluar propinsi?" Tanyaku sambil bercanda.
" Lebih dari itu".
"Ke mana... ke luar negri?"
" Kepo ya?" Ia memandangku sambil tersenyum menggoda.
"Ish.... apa sih kakak nih. Bercanda mulu. Kirain mau ngomongin yang penting-penting gitu...."
"Memang adek mau membahas apa? pernikahan kita? kan sudah diurus sama bang Alif and the genk...."
" And the genk...?" Aku melotot padanya mendengar julukannya untuk keluargaku.
"Iya.... genk solihin solihat.... "
" Ish.... apa sih kakak ini? Bercanda mulu dari tadi.... Kakak nggak balik ke pondok lagi? Kenapa tadi lari-lari?"
"Tadi ada yang melihat keluarganya pak Kardi menuju kesini dan dia bilang ke aku. Aku langsung lari kesini... takut dia ngapa-ngapain !"
"Dia udah nggak kayak dulu kak. Udah tobat..."
__ADS_1
" Semoga saja nggak ada yang jahat lagi disini".
"Amiiin..."
"Kakak balik dulu ya! Adik hati-hati!" katanya sambil beranjak dari duduknya.
"Iya kakak...!" Aku geli sendiri ketika memanggilnya seperti itu. Saat ia sudah berjalan menjauh aku menarik tangan dari saku jas putihku. Aku melihat cincin emas pemberian darinya saat dia mengikatku lewat lamarannya kala itu didepan keluargaku. Aku sangat bahagia bisa merasakan moment itu.
Terima kasih kak zein sudah hadir dalam hidupku.
"I love you..." kataku sambil menatap punggungnya yang sudah berjalan cukup jauh dari tempatku.
Eh.... dia menoleh ke arahku sambil komat kamit dan menunjuk dadanya lalu menunjuk kearahku.
Kalau dia dekat dia pasti tahu kalau aku sangat malu dengan ulahku. Tapi dia tidak mungkin bisa mendengarkan ucapanku karena jarak kami sudah jauh. Apa dia punya feeling yang tajam atau jangan-jangan kami memang sehati.
Aku masuk ke kedalam sambil mengambil hape, dan menulis pesan disana.
send....
tring...
dia langsung membalas pesanku rupanya.
I love you too
Dih pak ustadz kok gitu. Kalau dilihat sama muridnya gimana?
Maaf aku khilaf
__ADS_1
Aku tersenyum membaca jawabannya.
Keesokan harinya aku menjalankan aktifitasku seperti biasanya. Melayani beberapa pasien yang datang dan memberi mereka pengobatan terbaik menurut ilmu yang kuketahui.
Malam harinya ketika aku hendak menutup semua jendela Kak zein datang bersama dengan ibuk. Wajahnya terlihat pucat dan itu membuatku takut. Selama ini aku belum pernah melihatnya sakit. Melihat Ibuk memapahnya dengan sedikit kesulitan akupun ikut mengalungkan lengannya di leherku dan membawanya ke bed.
"Kakak kenapa?" Aku khawatir melihat keadaannya tapi dia malah tersenyum menanggapi pertanyaanku.
"Kakak kenapa buk?" Aku bertanya pada ibuk karena tak mendapat jawaban dari yang bersangkutan.
"Nggak tahu nak.... Tadi pulang dari pondok baik-baik saja kok. Habis solat Isyak katanya kepalanya pusing terus dia istirahat. Bangun-bangun dia muntah... "
Aku segera memasang stetoskop di telingaku memeriksa tanda-tanda vitalnya. Ku ukur juga tensinya. Semuanya normal tidak ada masalah.
Mungkin hanya kelelahan itu yang ada di benakku.
"Kakak kecapean? Tadi aktifitasnya full?"
Ia mengangguk dan menjawab dengan pelan , "lumayan".
Ia menggumamkan sesuatu tapi aku tak paham karena itu aku mendekatkan telingaku di mulutnya agar bisa mendengar apa yang dikatakannya. Hatiku berdegup kencang saat mendengar suaranya yang begitu dekat dengan telongaku. Aku bahkan bisa merasakan hembusan nafasnya yang hangat. Aku mencoba menetralisir hatiku karena dia bukan pasien biasa, dia orang yang spesial untukku.
"Kasih vitamin saja nanti juga baikan..." katanya.
" Yang Dokter ini aku apa kakak?" Aku berdiri disampingnya sambil berkacak pinggang agar ia tahu jika aku benar-benar khawatir dengan keadaannya.
Dia malah tersenyum lebar tanpa suara.
"Harus istirahat ini buk. Tidak boleh beraktifitas dulu... " kataku sambil melihat wajah ibu calon mertuaku.
__ADS_1
"Iya iya.... aku ikut saja.... Dengerin itu kata bu dokter! jangan bantah!"
Aku melihat wajahhnya seperti tak rela mendengar perbincangan kami tapi aku harus tegas padanya itu karena aku sayang padanya.