Dr. Ani And Family

Dr. Ani And Family
pamit


__ADS_3

"Mana anak-anak?" bang Alif yang baru selesai menjemur baju duduk di samping kaki sang istri yang sedang rebahan diatas kasur lantai diruang tengah. Karena keadaan istrinya itu ia menaruh kasur lantai didepan televisi agar bisa leluasa dan bercengkerama dengan adik-adik nya. Kak Mia menyangga perutnya dengan bantal. Kandungannya sudah mulai masuk usia sembilan bulan. Terlihat besar sehingga posisi tidur yang bagaimanapun akan terlihat kurang nyaman. Rasa letih lesu kembali menderanya seperti di awal-awal kehamilan.


Suami yang pengertian itu sekarang bertugas mengerjakan pekerjaan rumah yang biasanya dikerjakan oleh istrinya.


Mencuci, menjemur, menyetrika. Untuk memasak dan menyapu dikerjakan bersama dengan Ani dan Rina. Semua bekerja sama. Tapi tentu saja namanya saudara ada saja selisih fahamnya.


"Sejak ada Laila mereka jadi sering ke rumah ayah. Makan juga sering disana. Kayaknya mereka lebih suka sama Laila daripada kepadaku mas...."


"perasaan kamu saja ...... " Ia memijat kaki istrinya pelan-pelan."Kalau mereka sering kesana kita kan jadi punya lebih banyak waktu untuk berduaan. Malah enak kan. Pikirkan juga ayah.... beliau juga pasti senang anak-anaknya sering-sering berkunjung".


Kak Mia menghela nafasnya membenarkan ucapan sang suami.


"iya ya mas.... Laila juga muntah-muntah lagi sekarang. Kasihan dia. Pasti Ani dan Rina bantuin memasak disana."


"Nah... itu tahu... sudah berapa bulan kandungannya?" Bang Alif memijit telapak kaki juga jari-jari istrinya. Pelan hampir seperti usapan.


" hampir enam bulan mungkin. Seingatku beda tiga bulan denganku. Lukman tokcer ya mas. langsung jadi loh dia...."


"Aku nggak tokcer gitu....?"


"bukan begitu mas... kita kan nunggu bertahun-tahun baru jadi. Lukman nggak pakai nunggu langsung isi lhoh...."

__ADS_1


" Kalau hamil itu bisa dibikin sudah lama aku akan membuatnya untukmu. Anak itu kan titipan Yang Maha Kuasa. Alloh pasti akan memberikan segala sesuatunya tepat pada waktunya. Sekarang umur kamu berapa. Kalau begitu menikah kita langsung diberi anugra..h ...." Bang Alif tersenyum tak melanjutkan perkataannya.


"Memangnya kenapa kalau aku langsung hamil setelah menikah?" Ia merasakan pijitan dikakinya. Lembut dan pikirannya jadi rileks dan tenang. Nyaman sekali dia.


"Umur kamu belum genap 19 tahun lho yank.... Masih imut-imuut banget. Apa jadinya kalau kamu hamil waktu itu. Aku akan dikira memaksa gadis kecil untuk menikah dan langsung menghamilinya...."


"kejauhan mikirnya pak... Tapi ia juga ya mas... Aku kan waktu itu masih manja-manjanya. Kalau punya anak pasti mas harus ngurusin dua bayi sekaligus. Bayi besar sama bayi kecil. hehe...."


"Udah mijitnya. Makasih...."


"Sama-sama. Terima kasih juga karena sudah mau bersusah payah mengandung anak kita." Bang Alif mencium kening istrinya kemudian mencium perut istrinya sambil berdoa"Robbi habli minassolihin... "


"Hari ini aku ada janji ketemu sama pengrajin sepatu. Aku tinggal nggak papa ya? Di rumah sama Ani..!."


"Ani jadi pergi ya mas?"


"Kayaknya iya. semua sudah di packing rapi"


"Dia masih inget sama Zainal ya mas?"


"Entahlah...Doakan semua baik-baik saja, diberi yang terbaik... "

__ADS_1


Bang Alif merasa bersalah pada adiknya. Ia menyadari kini Ani lebih sedikit bicara. Mungkin juga Ani memutuskan untuk menjadi dokter di Jawa tengah karena ingin menyembuhkan hatinya.


.


.


.


.


"Sudah siap semuanya? Nggak ada yang ketinggalan?" Bang Alif mengingatkan Ani sekali lagi. Pagi ini Ani benar-benar akan pergi melakukan petualangan untuk tinggal di kaki gunung tanpa keluarga yang menemaninya.


Ani akan berangkat ke kaki gunung Merbabu yang ada di Jawa tengah dengan naik kereta api. Ia hanya membawa satu tas ransel saja yang berisi dua setel pakaian, mukena, dompet, hape dan roti sedangkan yang lainnya sudah ia kirimkan lewat jasa pengiriman barang.


"Kalau sudah sampai disana langsung telpon ya!"Kak Mia memeluk adik iparnya dengan mata berkaca-kaca.


"sehat-sehat disana...!" Laila kemudian ganti memeluk Ani. Perutnya juga mulai menyembul."


Ani mencium tangan pak Dirman kemudian memeluknya,"Hati-hati ya nak!" Sosok ayah itu terlihat tegar meski hatinya juga dipenuhi banyak kehawatiran. Tak henti-hentinya ia berdoa dalam hatinya.


Semua terlihat sedih mengantarkan kepergian Ani tapi hanya Rina yang tak bisa berhenti menangis.

__ADS_1


__ADS_2