
Zainal menatap langit-langit kamarnya yang dipenuhi bintang. Tema langit-langit kamar Zainal adalah malam yang dipenuhi cahaya bintang dengan cat yang berwarna hitam dan gambar bintang serta kilatan cahaya dari berbagai arah.
Rasa lelah menderanya karena seharian ini Zainal menghabiskan waktunya dengan bertemu berbagai klien dari para pemasok barang-barang maupun dari pemerintah yang ingin mengajaknya untuk mengikuti acara pelelangan dan bazar untuk mendukung kreasi para pengrajin lokal terutama generasi mudanya.
Dia juga bertemu manajer pemasaran dari pabrik makanan ringan yang menurutnya sangat cantik dan penampilannya lebih dari menarik. Postur tubuhnya juga sangat proporsional layaknya para model.
Zainal masih ingat betul saat pertama kali melihatnya. Ia datang dengan langkah kakinya yang panjang. Wanita itu memakai kemeja lengan panjang dengan dua kancing bagian atas yang dibiarkan terbuka Setelah dilihat lagi kakinya yang tertutup rok diatas lutut itu terlihat putih dan mulus.
Seandainya Zainal pernah melihat drakor pasti dia akan mengira tampilan nya sangat mirip dengan sekertaris kim. Rambut panjangnya yang dikuncir dengan beberapa anak rambut yang dibiarkan menjuntai dari kening sampai depan telinga nya. Perfect woman.
Ia mengulurkan tangannya saat pertama kali bertemu Zainal. Seperti biasa Zainal enggan menjabat tangan seorang wanita. Ia berdiri kemudian mempersilahkan dia duduk dengan telapak tangan yang diarahkan ke kursi yang ada di depannya.
"Saya Amelia, manajer pemasaran PT Onefood. Bapak bisa panggil saya Amel saja". Ia menarik tangannya yang tak di respon Zainal sambil sedikit membungkukkan badannya.
"Saya Zainal.... Mari silahkan duduk! Mau pesan makan dulu atau kita langsung diskusi saja..?"
"Kalau boleh saya ingin makan dulu pak soalnya dari pagi saya sudah berkeliaran di lapangan..."
" Baiklah kita pesan makan dulu.." Kata Zainal kemudian memanggil pelayan restoran.
Sejauh mereka berdiskusi Amel bersikap profesional dengan memberikan penjelasan yang menurut Zainal sangat memuaskan.
Dia juga tidak ganjen dan Zainal mempertimbangkannya untuk menjadi kandidat calon istrinya. Dia berfikir bukan cuma Ani satu-satunya wanita di dunia ini. Masih banyak wanita baik di dunia ini. Jika perangai Amel sesuai standar nya ia akan memaklumi penampilan fisiknya yang menurutnya itu bisa diubah perlahan-lahan.
__ADS_1
Zainal membalikkan badannya kesamping sambil memeluk guling. Hatinya meyakinkan dirinya sendiri kalau dia bisa move on dari Ani meskipun tiap bertemu wanita yang menurutnya cukup menarik secara tak sadar dia selalu membandingkannya dengan Ani.
tok tok tok
"Ini mama Zein..."
"Masuk ma... nggak dikunci..."
" Ini ada jus buah sirsak..." Mamanya membawa nampan yang berisi jus sirsak dan camilan. Mamanya kini lebih memeperhatikan Zainal.
" Ayo diminum ..." kata mamanya sambil duduk di dekat putranya.
Zainal mengambil gelas yang ada di tangan mamanya kemudian meminumnya.
" Rambut kamu itu di potong, brewoknya itu dicukur semua biar rapi... ganteng..."
" Bukan jelek... kurang rapi saja. Kesannya kayak orang lagi galau, ndak terawat...."
Beberapa saat keadaan hening karena keduanya diam membisu.
"Kamu nggak ke rumah Pak Dirman?" Tanya mamanya agak ragu.
Zainal yang mendengar pertanyaan aneh dari mamanya kemudian menoleh melihat wajah ibu yang sudah melahirkannya itu.
__ADS_1
"Memangnya kenapa mah?"
"Kamu nggak pingin balikan sama itu... samaa Ani...?" Mamanya membuang muka saat mengatakannya karena gengsinya yang masih tinggi.
Zainal yang berusaha melupakan nama itu dalam hatinya menghela nafasnya saat mendengar nama itu disebut sang mama.
"Dia sudah lamaran ma, mau menikah..." kata Zainal dengan putus asa.
"A.. apa? secepat itu dia melupakan kamu? Bahkan sudah mau menikah..? Dia itu berarti cuma main-main sama kamu Zein....!"
"Dia serius sama Zainal mah. Apa mama lupa siapa yang meminta kami berpisah?"
"Tapi nggak seharusnya juga dia melupakan kamu secepat inikan?"
"Maunya mama apa? Dia harus nungguin Zainal sementara Zainal sendiri tiap hari harus bertemu banyak cewek untuk kencan dengan mereka...?"
"Bukan gitu Zein...."
"Terus apa...?"
"Ya tunggu dulu gitu .... masa sekarang udah mau nikah aja.,"
"Kami sudah hampir setahun berpisah lo mah.... Pantas lah kalau dia udah ketemu pria lain yang lebih baik dari Zainal...."
__ADS_1
"Biar mama yang kesana. Biar mama yang ngomong sama mereka....."
"Sudahlah mah.... Zainal mau sendiri dulu. Tolong ya mah ....!"