
"Aaaaaaa....." Lukman berteriak sangat kencang sampai Laila bergidik ketakutan sambil menutup telinganya. Ia tak berani protes lagi.
Laila menoleh ke kiri dan ke kanan dan baru menyadari ternyata mereka sudah cukup jauh dari kota . Jalanan itu tampak sepi, dikiri kanan jalan tampak sawah yang membentang dan hanya ada beberapa rumah penduduk yang terlihat, itu pun sangat jarang. Untungnya saat itu tidak banyak kendaraan yang lalu lalang sehingga tidak ada orang yang menegur atau bahkan memaki-maki Lukman karena berteriak seperti orang gila.
Tanpa berkata apa-apa lagi dia kemudian menjalankan motornya kembali dan berbalik arah. Laila pun mencengkeram ransel Lukman, dia takut karena Lukman diam tak mengatakan apa-apa lagi. Wajah dinginnya terlihat lebih menyeramkan karena kemarahannya.
Baru beberapa meter mereka berjalan tiba-tiba motor yang mereka kendarai ngadat tersendat-sendat membuat dua orang yang duduk diatasnya panik.
" Ya Alloh ya Robbi..,.....,.!!!!!!.....," Lukman berteriak lagi sambil kedua tangannya mengepal erat sedangkan tubuh dan mukanya mengarah ke langit. Ia ingin marah tapi kepada siapa?
Untung saja saat itu dia mengendarai kendaraannya pelan-pelan sehingga motornya tidak sampai terjatuh.
Laila turun terlebih dahulu kemudian dia bertanya dengan rasa takut ,"ke-kenapa?"
"Bensinnya habis". Kata Lukman sambil mengurangi posisi gigi sepeda motornya kemudian turun dari sepedanya. Matanya sekilas melihat rok Laila yang pendek.
Lukman menurunkan standar samping sepeda motornya kemudian mulai melepaskan kancing kemejanya. Laila melihatnya tapi ia sama sekali tak punya prasangka buruk pada Lukman. Ia justru memperhatikan tubuh atletis Lukman yang kini berbalut kaos agak ketat. saat mata mereka bertabrakan Laila pun segera mengalihkan pandangan matanya malu karena ketahuan sedang memperhatikan lelaki itu.
__ADS_1
"Pakai ini!" kata Lukman sambil menyodorkan kemejanya pada Laila
" Untuk apa?" Laila bertanya karena ia merasa sudah memakai jaketnya Lukman lalu kemeja ini buat apa, begitu pikirnya.
" Buat kakimu. Apa kau tidak dingin?" kata Lukman dengan penuh penekanan.
" Tidak usah marah!" akhirnya Laila pun terpancing dan ikut emosi. Ia pun menutupi kaki bagian belakangnya dengan kemeja Lukman dengan cara menautkan lengan kemeja di perutnya.
"Apa yang kau tutupi? heggh...." Lukman masih saja emosi dan Laila memandangnya dengan marah tapi kemudian dia melepaskan ikatan kemeja yang ada di perutnya. Ia kemudian menutupi bagian depan kakinya dan mengarahkan lengan kemeja itu ke belakang. Lukman langsung membantunya dengan membuat simpul dari lengan kemeja miliknya di belakang badan Laila.
Mereka pun berjalan berdampingan menyusuri jalan tanpa obrolan. Laila sebenarnya ingin mengajaknya berbicara tapi ia takut kalau Lukman akan semakin marah karena ia menyadari semua ini terjadi karena kesalahannya. Kalau saja tadi dia mau mengatakan rumahnya ada dimana pasti tidak akan ada kejadian seperti ini.
Sampai akhirnya mereka sampai di pom bensin setelah rasa capek yang luar biasa dirasakan oleh Laila karena berjalan dalam waktu yang lama dengan memakai sepatu hak tinggi dengan langkah yang lebar-lebar karena berusaha mengimbangi langkah Lukman. Sebenarnya ia ingin melepas sepatunya tadi, tapi urung dilakukannya setelah melihat muka Lukman yang diam seperti menyimpan emosi.
Lukman mengisi bensin full pada tanki motornya kemudian segera
melajukan kendaraannya dengan kecepatan sedang. Ia berhenti sebentar ketika sampai di apotek dan berhenti lagi saat ada orang yang berjualan martabak manis.
__ADS_1
Laila hanya mengikutinya saja tanpa berani bertanya. Saat% menunggu martabak manis pesanan Lukman ia melihat hp nya dan mencoba menelpon Doni tapi masih belum ada balasan dari adiknya itu sedangkan Lukman juga terlihat sedang menghubungi seseorang.
"Kau di mana An?" Zainal menelpon seseorang dengan nada yang lemah lembut membuat Laila merasa kesal karena lukman selalu kasar dan marah-marah saat bicara dengannya.
" Sama Zainal, kok bisa?"
" Iyaa ini masih di jalan soalnya tadi kehabisan bensin"
" Tolong bilang sama ayah, jangan nungguin aku, aku bawa kunci rumah !"
" Ya sudah buruan tidur abis ini!"
"Hem m.."
"Waalaikumsalam warohmatulloh!"
Laila mendengarkan Lukman dengan seksama meskipun matanya sedang melihat hp nya yang tidak ada notifikasi apa-apa
__ADS_1