
Ani memulai ceritanya, "Suatu saat Rasulullah berpergian dengan membawa serta beberapa istrinya yaitu Siti Aisyah dan Sofiyah. Dan beberapa kali Ibunda kita Sofiyah tertinggal karena bawaan beliau banyak dan unta yang beliau kendarai adalah unta yang kecil dan lemah sehingga jalannya lambat. Sedangkan ibunda kita Aisyah barang bawaannya hanya sedikit dan beliau menunggangi unta yang kuat dan gesit.
Maka saat berhenti untuk istirahat Rosululloh kemudian meminta pada Siti Aisyah agar mau bertukar unta dengan Ummul mukminin Sofiyah agar beliau tidak tertinggal lagi.
Mendengar hal itu Siti Aisyah marah karena terbakar api cemburu.
"Kau ini Nabi bukan sih?" Beliau berkata seperti itu dengan emosi. Ini terjemahan bebasku ya mas. Nanti kalau mau jelasnya tanya bang Alif saja.
Kemudian Nabi balik bertanya , "menurutmu?" beliau mengatakannya dengan lembut dan tidak terpancing untuk ikut marah karena Baginda Rosul tahu kalau istrinya sedang marah karena cemburu.
Justru Abu bakar yang tersulut emosinya mendengar putrinya membentak sahabat terbaik sekaligus menantunya.
Beliau mencengkeram leher putrinya sambil berkata dengan berapi-api ," Apa kau tidak tahu siapa kekasihnya?. Bagaimana kalau kekasihnya marah!! Celaka kita semua!!!"
"Tenanglah Abu bakar.., tinggalkan kami! Ini hanyalah masalah rumah tangga biasa..." Begitu kata Nabi.
Siti Aisyah yang masih ketakutan karena kemarahan sang ayah yang terkenal lemah lembut itu kemudian di dekati oleh Nabi, "Nah.... kan? Siapa yang menolongmu dari kemarahan ayahmu?"
"Engkau ya Rosululloh...." Jawabnya malu-malu.
"Sekarang mau ya, gantian untanya?" Tanya Baginda Nabi.
"Iyya iyya.." jawab sang istri dengan raut muka kembali cemberut dan sewot.
Ani berhenti sejenak setelah bercerita kemudian ia berkata lagi, "Tidakkah keadaan kita tadi mirip dengan cerita tadi mas? Mama marah dan mas Zein membelaku?" Tanya Ani sambil menyangga dagunya.
Zainal tersenyum maniis sekali,"Iya.... tenang saja!. Aku dan papa pasti belain kamu nanti di..."
" Apaan coba?". Ani jadi malu karena secara tak sadar dia sudah membayangkan kalau mereka itu sudah seperti keluarga betulan.
"Mama kalau mau dengar ceritanya duduk sini saja ma!" Kata Zainal yang melihat bayangan mamanya di antara ruang tengah dan ruang makan sedang menguping pembicaraan mereka.
__ADS_1
"Enggak.....! Orang mama mau ngambil minum aja kok" Katanya sambil mengambil minuman di atas meja kemudian segera berlalu dari sana.
Zainal dan Ani yang masih nyaman di ruang makan kemudian saling menatap sekilas dan sama-sama melipat bibirnya karena menahan tawa. Lucu saja.
" Di.... Apa itu artinya Siti Aisyah tidak yakin dengan kenabian Nabi Muhammad?" Tanya Zainal mengembalikan ke topik cerita tadi.
" Yang itu? Itu Kalau poin itu tadi, itu dijadikan pembahasan khusus oleh para ulama'. Jika yang mengatakan hal yang sama seperti itu adalah seorang lelaki maka jatuhnya lelaki itu kufur. Tapi karena yang mengatakannya adalah seorang wanita maka itu di maafkan.
Karena saat wanita marah maka yang keluar dari mulutnya adalah suatu luapan emosi sesaat saja. Bukan sesuatu yang keluar dari hatinya. Karena itu ijab qobul itu antara calon lelaki dan wali yang juga harus seorang lelaki. Talak juga sah jika yang mengucapkannya adalah sang suami meskipun si istri bilang cerai berkali-kali itu tidak akan menjadi hukum sama sekali.
Zainal manggut-manggut mendengar penjelasan kekasih hatinya.
"Di... ternyata kamu itu... " Zainal membentuk bujur sangkar dengan jari-jarinya dan seperti membingkai wajah Ani dari tempatnya duduk "Ternyata kamu itu bawel juga ya?". Kata Zainal akhirnya.
"Bawel..?" Ani nampak sedikit kaget dengan perkataan Zainal.
Zainal melipat bibirnya, menahan bibirnya yang ingin tertawa.
"Aku baru tahu".
"Terus?"
" Nggak papa, lucu aja..!"
"Nyesel?" Selidik gadis cantik itu.
"Iya nyesel. Seharusnya dulu kita kawin lari saja toh akhirnya mama setuju juga".
" Itu aku tetap tidak setuju. Menikah harus disetujui orang tua kedua belah pihak.. titik".
"Dulu itu kamu kelihatan cool banget di....pendiam..."
__ADS_1
"Ya kan belum seberapa kenal dan dekat... Mas juga, katanya bang Lukman mas itu orangnya cerewet, suka nggodain cewek ,kenapa sekarang jadi pendiam?"
"Ya.... waktu yang sudah merubah keadaan dan kebiasaan banyak orang. Itu juga gara-gara seseorang yang tega ninggalin aku gitu aja nggak mau berjuang lagi sama aku. Dia yang waktu itu mau menikah dengan seorang ustadz, dia yang sudah membuatku galau. Saat itu aku merasa hidup sesak matipun tak bisa..."
Deg.... Ani langsung salah tingkah. Antara merasa bersalah dan tidak tahu harus bicara apa.
Ani beranjak berdiri sambil mengambil piring-piring yang kotor dan menumpuknya untuk di bawa ke dapur dan Zainal hanya meliriknya saja.
Ani berjalan meninggalkan ruang makan sambil membawa piring mereka bertiga menuju ke dapur dan tidak lama dari itu Zainal pun ikut meninggalkan ruang makan untuk menuju kamarnya. Ia merasa lelah dan ingin istirahat.
Di dapur tinggal Meli dan bik Inem yang masih berkutat mengerjakan sesuatu. Ada.... saja pekerjaan mereka itu.
"Non biar kami yang membereskannya...!" Kata Meli ketika melihat Ani membawa piring-piring.
" Mbak mel jangan panggil seperti itu. Panggil mbak aja....! Risih mbak Mel!"
"Non panggil saya Meli aja nggak usah mbak..! Nanti saya kena marah nyonya lagi non..!" Kata Meli memelankan suaranya.
"Terserahlah mbak Mel...!" Kata Ani sambil duduk di ruang makannya para asisten. Dia jadi galau setelah mendengar penuturan dari Zainal barusan. Sedangkan Meli kini mencuci piring-piring yang kotor dan bik Inem ke ruang makan untuk membersihkan dan merapikan ruangan itu lagi.
"Non, itu cincin dari pak Zainal ya....?" Tanya Meli sambil melap barang pecah belah yang sudah selesai dicucinya barusan. Ia menunjuk jari manis Ani dengan dagunya.
"Ini....? Ini bukan..." Ani gelagapan menjawabnya menyadari jika cincin yang tersemat di jari manisnya adalah cincin dari ustadz kesayangannya, ustadz Zainuddin.
" Ooh.... kirain dari Pak Zein..." Kata Meli sedikit kecewa.
"Hehe bukan... aku mau istirahat dulu ya...!".
"Iya silahkan non..! Nggak usah meladeni si Meli ini non. Anaknya emang resek", kata bik Inem yang langsung diprotes Meli sedang Ani hanya tersenyum dan segera pergi meninggalkan dapur menuju ruang tamu untuk istirahat.
Di dalam kamarnya Zainal melihat cincin yang diberinya dulu saat masih berpacaran dengan Ani. Ia menimbang-nimbang apakah harus diberikannya sekarang atau nanti saat melamarnya di hadapan bang Alif dan keluarga yang lainnya.
__ADS_1
Ia sudah memutuskan akan mengantar Ani pulang dan akan melamarnya sore nanti. Ia tak ingin keduluan orang lagi dan yang lebih parah ia takut pikiran mamanya akan berubah lagi.