Dr. Ani And Family

Dr. Ani And Family
permintaan


__ADS_3

Perkataan Doni seperti orang yang sudah dewasa, Padahal dia hanya seorang anak remaja yang ingin berbuat baik pada anak-anak yang kurang beruntung.


Lukman memandangi Doni yang sedang memijat tangannya dengan pelan.


Zainal masuk ke dalam ruang tamu kemudian mengambil pistol yang ada di lantai dan menaruhnya dimeja tepat di depan Lukman.


Ani yang melihat Zainal kemudian berjalan kearahnya.


"Biarkan laila menenangkan hatinya. Dia butuh sendiri sekarang" kata Zainal pada Ani


" Bang Lukman memang keterlaluan ...." kata Ani yang kemudian duduk di kursi yang berseberangan dengan Doni. Zainal pun duduk disamping Ani


"Wudlu dulu bang.... nanti ku kasih plester..... !" kata Ani dengan muka juteknya karena masih kesal pada Lukman.


Lukman tak menjawab perkataan adiknya tapi dia langsung beranjak dari duduknya dan menuju ke kamar mandi lewat belakang kursi yang diduduki doni. ia kemudian berwudlu untuk mensucikan lengannya dan mendinginkan otaknya

__ADS_1


Doni melihat Ani yang biasanya bermuka datar kini terlihat sekali jika dia sedang marah. Ia memandang dokter muda itu dengan maksud meminta jawaban mengapa menyuruh Lukman mengambil wudlu.


"jika kau terluka dan mau menutup lukamu dengan plester maka berwudlu lah lebih dahulu. jadi nanti ketika kamu wudlu kamu tak perlu melepas plester nya. Itu berlaku untuk tiga hari. Kalau sudah hari ke tiga maka kamu harus membukanya terlebih dahulu kemudian wudlu lagi dan jika masih sakit kamu bisa memplesternya lagi." Ani menjelaskannya saat melihat tatapan Doni yang mengandung pertanyaan.


Setelah Lukman duduk kembali ganti Ani yang kini mengambil alih tangan Lukman. ia mengeluarkan Betadine dan plester dari tas kecilnya. Dengan menggunakan tisu yang ada dimeja ia meratakan Betadine yang ia teteskan dilengan abangnya kemudian memplesternya dari beberapa sisi karena lukanya cukup menganga. Sedangkan di bagian pelipis dan yang lainnya Ani hanya mengusapnya dengan Betadine saja.karena itu hanya luka memar ringan saja.


Lukman mengutak Atik pistol si ketua pembuat onar.


"cih.... ....dasar pengecut. " Zainal, Ani dan Doni melihat pistol yang dipegang Lukman.


"nggak ada peluru nya bang?" tanya Zainal


Doni tiba-tiba menggenggam jemari Lukman.


"bang..... kumohon .... menikahlah dengan kak Laila. Aku takut jika kejadian seperti tadi terulang lagi. kumohon bang, please.....!"

__ADS_1


Zainal dan Ani matanya melotot mendengar kata-kata Doni. lelaki remaja ini kenapa begitu mudahnya mengatakan tentang sebuah pernikahan tanpa beban. Apa ia tidak berpikir tentang hak dan kewajiban setelah pernikahan?


Lukman menelan ludahnya kemudian tangan kanannya menyentil kening Doni dengan sangat keras. ia melakukannya sambil menggigit bibir bawahnya.


"Aku serius bang.....! Aku yang akan menjadi walinya. kita lakukan malam ini juga...."


cetak......


Doni menutup matanya saat tangan Lukman mulai beraksi kembali. Kali ini ia diam saja tak protes meski itu terasa sakit sekali. Doni benar-benar takut jika para kawanan preman tadi mengganggu kakaknya atau lebih parah mereka akan menculik kakaknya. No..... pikiran-pikiran buruk itu menghantuinya.


Lukman adalah pria yang bisa dipercaya dan bertanggung jawab. Ia tahu Lukman tak mau bersentuhan dengan lawan jenis tanpa ada sebab . Jika Lukman mau menikahi Laila pasti ia akan menjaga kakaknya dengan baik jadi ia tak perlu khawatir jika sesuatu yang buruk padanya terjafi


"Kalau abang mau menikahi kakakku Abang bisa menyentilku setiap hari." rengeknya


"mulutmu ini..... kenapa ringan sekali. Kau pikir nikah itu mudah....?"

__ADS_1


"aku mohon bang.....!"


"Doni.... kau jangan gila....!!! dia itu tidak menyukaiku. Kenapa kau memaksanya?" Lalila berteriak dari dalam kamarnya. sedari tadi ia mendengarkan perbincangan mereka dengan seksama dan kini ia meluapkan kekesalannya.


__ADS_2