Dr. Ani And Family

Dr. Ani And Family
Niat ibadah


__ADS_3

"Mas kan tambah tampan jadi pasti banyak cewek-cewek yang tergoda dan lihatlah tubuhku yang membengkak ini...!"


"Masa kakak tidak percaya sama abang?", tanya Ani


"Bukannya tidak percaya. Hanya saja..."


" Hanya saja apa kak?", Ani penasaran dengan kata yang dipotong oleh kakak iparnya.


"Aku tidak percaya pada diriku sendiri. Dulu saja sering digodain sama ibu-ibu apalagi sekarang...".


"Digodain kayak gimana sih kak?"


"Kan sebelum ada Maryam aku sering ikut mas mu kalau ada undangan ceramah di walimahan. Banyak ibu-ibu yang tanya sudah menikah apa belum. Terus mereka bilang kalau punya putri yang sudah siap nikah. Banyak yang pingin ambil mas mu jadi menantu".


"Memangnya mereka nggak lihat kak Mia?"


"Mereka menyangka aku adiknya tapi waktu di kasih tahu kalau aku istrinya mereka malah bilang mau jadi yang kedua. Nyesek aku..."


"Ya kan itu dulu kak...! Sekarang kan abang sudah tambah tua...!"


"Mau percaya atau tidak tapi kenyataannya seorang pria semakin tua itu semakin berkharisma, ketampanannya justru bertambah berkali-kali lipat, beda dengan wanita. Wanita kalau semakin tua kecantikannya mulai berkurang, wajahnya mulai berkerut, bentuk tubuh juga semakin gendut...".


" Kakak jangan bikin takut deh! Aku jadi takut mau menikah. Nanti kalau makin tua mas Zein yang ganjen itu dilirik sama cewek-cewek yang lebih muda terus aku gimana kak?"


"Itu kakak juga belum tahu rumusnya. Ini sedang nyari-nyari. Mungkin aku harus rajin olahraga biar badanku bisa kembali seperti semula dan mulai makan yang sehat-sehat biar wajah awet muda dan semakin terawat".


Keduanya saling diam sambil melihat Maryam yang menggigit mainannya. Bayi lucu itu sekarang sudah merangak jadi harus betul-betul diawasi.


"Kak, kakak dulu maharnya apa?", Ani sudah pernah menanyakan hal itu tapi dia ingin mendengarnya lagi.


"Seperangkat perhiasan seberat 27 gram. Kenapa?". Kak Mia turun ke bawah ikut bermain dengan putrinya.


"Itu kakak yang minta?", tanya gadis yang sedang galau itu.


"Enggak. Kakak cuma minta gelang aja karena waktu lamaran sudah di beri cincin tapi sama mas kamu malah dikasih cincin, kalung, anting, gelang. Lengkap pokoknya".


"Kok nggak pernah di pakai kak?", Ani mengamati kakak iparnya yang kini hampir selalu tertutup meski di dalam rumah untuk berjaga-jaga jika ada bang Lukman tiba-tiba masuk ke dalam.

__ADS_1


"Ini gelang sama cincinnya aja yang aku pakai terus. Takut hilang kalau dipakai semua. Jatuh atau kecantol apa..... Pas anniversary kemarin aku dikasih gelang lagi..."


"Hah..? Kakak ngerayain anniversary? Kapan? kak kok aku nggak tahu?".


"Nggak dirayain. Kebetulan pas ulang tahun pernikahan pas abinya Maryam dapat rezeki lebih jadi ngasih hadiah gelang lagi."


"Kak..... itu.... Pas mahar kak Mia ditambahin sama abang kakak marah nggak?"


" Malah seneng dong. Mas waktu itu bilang, aku tidak menghargaimu seberat emas yang kuberikan padamu tapi kemampuanku baru segitu. Kau bahkan lebih istimewa dari dunia seisinya. Aku masih ingat betul bagaimana saat dia mengatakannya. Dia membuatku menangis waktu itu". Kak Mia mengusap sudut matanya saat bercerita. Ia merasa menjadi wanita yang sangat istimewa dan berharga.


Ani mengerucutkan bibirnya, iri dengan sikap bang Alif yang sangat romantis. Kenapa calon suaminya tak mengatakan hal yang sama seperti itu. Malah bilang apa kata orang nanti. Makin bertambahlah kejengkelannya pada Zainal.


.


.


.


Malam harinya Ani yang masih galau berulangkali melihat hapenya berharap ada pesan masuk dari calon imamnya. Tapi tak ada notifikasi apa-apa.


Ia membolak-balikkan badannya di atas tempat tidur karena sebal juga karena perutnya sakit akibat tamu bulanannya yang baru saja datang.


Tok tok tok


"An..! Ada Zainal di depan!". Bang Alif mengetuk pintu kamar Ani dan memanggilnya.


Bukannya menjawab panggilan sang abang dia justru mengambil hapenya dan segera menelpon lelaki yang sekarang ada di ruang tamunya.


Begitu telponnya diangkat dia langsung berkata,


"Mas kenapa kesini? Kan aku sudah bilang aku nggak mau ketemu sampai hari H nanti. Aku pinginnya kita itu di pingit. Nggak ketemuan dulu sampai nanti pas hari H jadi kan ada rindu- rindunya.


"Jadi kita bicara lewat telpon saja walaupun aku sudah ada di sini?", Zainal menahan senyum saat mendengar Ani mengatakan biar ada rindu-rindunya. Tapi suaranya tetap dibuat ketus karena memang ia masih sedikit kesal pada keputusan Ani yang tak mau berubah.


"Mau bahas apa sih mas?".


"Bahas mas kawin...", Nada suara Zainal juga tampak sewot.

__ADS_1


Tok tok tok


"An....!". Panggil bang Alif lagi.


"Iya bang sebentar bang....!!". Ani langsung menutup telponnya dan melemparkan hapenya di atas kasur. Ia segera mengambil jilbab instannya dan berkaca sebentar kemudian segera keluar dan berjalan menuju ruang tamu.


Ternyata bukan hanya Zainal yang ada di ruang tamu tapi bang Alif juga masih duduk di sana. Rupanya Zainal ingin meminta bantuan pada bang Alif agar bisa mendamaikan mereka berdua dan menemukan solusinya.


"Bang, adik abang itu minta mahar cuma 700 ribu dan aku mau nambahi sedikit saja jadi tujuh ratus juta. Nggak papa kan bang?", tanya Zainal.


Bang Alif menoleh pada adiknya yang duduk dengan muka ditekuk dan mulut yang cemberut.


" Pokoknya aku mau 700 ribu saja", tegasnya dan Ani berharap bang Alif akan membelanya.


"Memangnya kenapa? Alasannya apa?", tanya bang Alif pada Ani.


"Pingin aja bang.... katanya seorang wanita yang baik itu yang maharnya sedikit". Ani mulai berargumen.


"Lalu kenapa kamu ingin melebihkan maharnya Zein?"


"Ok tujuh ratus ribu tapi ..... plus tujuh sapi...", Zainal mengatakannya dengan penuh percaya diri.


"Mas mau nikah apa mau bikin peternakan sih?", Ani mendebatnya dengan sewot.


"Di.. kamu lupa? Nabi menikah dengan ibunda kita Khodijah dengan mahar dua puluh unta lho. Aku cuma ngasih sapi tujuh masak ditolak?".


"Itu nggak umum di sini ma...ss...!!", Tolak Ani.


"Yang akan menikah kita kan? Kenapa memangnya kalau itu tidak biasa? Biar saja orang-orang berbicara, itu hak mereka. Kita juga punya hak untuk melangsungkan pernikahan sesuai impian kita."


"Terserah kamu lah mas...", Ani memalingkan mukanya karena kesal dengan sosok pria yang manis seperti gula di depannya.


Mereka berdua malah saling beradu argumen dan seolah tidak perduli dengan keberadaan bang Alif. Sedangkan bang Alif mendengarkan perdebatan keduanya dengan tenang, duduk dengan satu kaki setengah bersila di atas sofa dan kaki lainnya dibiarkan tetap menggantung di lantai.


Sampai keduanya saling diam karena sama-sama tidak mau mengalah barulah bang Alif berbicara.


"Kalian mau menikah atau bagaimana?", Bang Alif minum air mineral kemasan yang selalu tersedia di meja ruang tamu dengan membaca basmalah terlebih dahulu.

__ADS_1


Mendengar pertanyaan bang Alif keduanya merasa bersalah karena sama-sama tidak bisa menahan emosi dan satu sama lain tidak ada yang mau mengalah.


"Menikah itu untuk beribadah. Niat mencari ridlo Nya Alloh agar bisa lebih dekat lagi dengan Sang Pencipta. Mengikat hati untuk saling mengisi, saling mengingatkan dalam kebaikan.


__ADS_2