Dr. Ani And Family

Dr. Ani And Family
degan


__ADS_3

"kamu hari ini cerewet dan manja banget sih An? bahagia banget sih diantar pacar?" tanya lukman pada Ani sambil menyiram tanaman sayurnya setelah melihat kepergian pak dirman dan zainal.


" perasaan abang aja kalle... biasa aja tuh..." jawab Ani sambil memainkan bibir dan kepalanya


"dii..h sok cakep. " lukman mengomentari sikap ani yang sekarang mirip tingkah karina. Biasanya dia begitu kalau sedang bahagia


"eh... rina mana kok nggak bareng sama kamu?" tanya lukman yang baru menyadari kalau adik bungsunya belum pulang.


" ada urusan sama dokter baim tadi. aku disuruh duluan pulang ".


" dokter baim ? "


" iya anaknya pemilik rumah sakit itu. ada yang panggil dokter ibra, dokter baim, ada juga yang panggil dokter ibrahim"


" sama kayak kamu ya an? bisa dipanggil an, bisa dipanggil nini..."


" abang tuh ya..." dia menggelitiki pinggang abangnya yang gelian


" an... an....an geli ani!" kata lukman sambil mencoba menghindar dari ani


" aku siram lo ya kalau kamu nggak mau berhenti. kamu belum mandi kan? sini mandi sama para kekasihku"


"ahahha... ha... katanya orang gelian itu istrinya cantik tapi abangku ini malah seperti jomblo abadi."


" eh....doain yang baik-baik kek abangnya. Kalau kamu nggak ngantuk mandiin ini ya pacar-pacar aku. aku mau ke toko dulu"

__ADS_1


" tumben semangat ke toko. Abang punya gebetan ya... ayo ngaku"


" enak aja. Abang kerja itu mencari fadholnya gusti Alloh ya, lillahi ta'ala. kalau ternyata ketemu sama jodoh disana ya Alhamdulillah itu bonus namanya"


" iya faham ustadz" kata Ani dibut-buat sambil membungkukkan badannya.


" ya udah tinggal aja bang, aku mau ganti baju dulu" kata Ani sambil berlalu menuju rumahnya yang terletak disebelah rumah abangnya.


" makasih adikku saya....ng" kata lukman


sambil meletakkan selangnya dan mematikan airnya.


.


.


Ia mencari didapur dan tidak mendapati siapa-siapa, ia kemudian membuka tudung saji di ruang makan tapi tak menemukan makanan sana. Rumahnya tampak sepi dan lengang


Ia melihat kamar kakaknya yang masih sedikit terbuka dan segera berjalan ke arah sana.


Dari pintu yang sedikit terbuka ia bisa melihat Abangnya sedang mengoleskan minyak kayu putih di perut kakak iparnya.


' tok tok tok' Ani mengetuk pintu sambil tersenyum minta izin untuk masuk


"masuk an...!" kata bang alif sambil berpindah ke samping kepala istrinya dan memijat lembut kening sang istri

__ADS_1


Ani mendekat dan memeriksa denyut nadi kakak iparnya


" Kakak belum makan?" tanya Ani yang hanya dijawab gelengan kepala oleh kak mia dengan mata yang terpejam. Kakak iparnya terkapar di tempat tidur. wajahnya terlihat pucat dan lemas.


" kakak muntah-muntah?"


" nggak sampai muntah cuma mual aja kalau bau nasi. Lemes tapi lihat makanan perut kayak diaduk-aduk" mia menjelaskan kondisi badannya pada dokter sekaligus adik iparnya


"Berapa lama kondisi seperti ini An?"


" nggak mesti bang. Tiap ibu hamil punya keluhan yang berbeda. Ada yang muntah-muntah terus dari awal kehamilan sampai melahirkan sampai harus beberapa kali dirawat dirumah sakit . Ada yang nggak mau lihat muka suaminya, banyak lah kasus-kasus yang aneh tentang ibu hamil" kata ani menjelaskan


" ambilin degan bang, sama buah-buahan. biar nggak mual. Terus beliin kurma dan kacang-kacangan biar anaknya cerdas" lanjut ani


"aku tinggal bentar nggak papa kan yang? ada Ani disini..."


Mia menggerak-gerakkan bibirnya, Ani melihatnya tapi tak bisa mengartikannya.


Bang alif berkata pelan pada kak mia, "ada ani..."


"ya udah pergi aja!" kata kak Mia sambil mengerucutkan bibirnya sebagai bentuk protesnya


"oke oke jangan ngambek sayang!" kata bang alif sambil mendekatkan ketiaknya pada muka istrinya yang langsung disambut dengan senyum yang sumringah. Mia tampak bahagia sambil mengusel-ngusel kepalanya pada ketiak suaminya. ia menghirup dalam-dalam aroma ketiak itu sambil memejamkan mata dan bibirnya tersenyum dengan merekah


Ani yang melihat adegan diatas ranjang suami istri itu terpaku karena heran

__ADS_1


__ADS_2