
Namaku Ayame, usiaku 18 tahun dan mungkin sudah melewatinya, aku baru saja lulus SMA beberapa jam lalu dan entah apa yang terjadi saat aku membuka mataku aku telah berada di dalam ruangan yang serba putih bahkan pembatas antara lantai dan dinding benar-benar tidak terlihat.
Ekhh... Ini sangat terang... !
Aku terbangun di ruangan yang sangat terang padahal seingatku aku sedang berjalan bersama dengan adikku. Terbaring lemas tak berdaya sambil menutupi mataku aku nyaris tidak ingin mengangkat tanganku menjauh dari wajahku karena tempat ini sangat menyilaukan, setidaknya seperti itulah kesan pertama yang kuberikan untuk tempat yang entah berantah ini.
Sebenarnya tempat apa ini dan di mana aku?
Tempat ini terasa sangat aneh bagiku, aku menoleh ke kanan dan kiri berusaha mencari tahu tentang tempat ini tanpa menjauhkan tanganku dari wajahku, tapi aku tidak menemukan apa-apa dan malah membuat pikiranku semakin kacau karena dipenuhi oleh pertanyaan-pertanyaan yang membingungkan.
Ada apa ini?
Lagi-lagi pertanyaan muncul di pikiranku, bagaimana tidak? tempat ini sangat kosong seperti ruangan hampa warna putih adalah yang paling dominan menutupi tempat ini, kecuali pada bagian atas yang seolah memancarkan cahaya pelangi seperti aurora borealis
DUKKK!!!
"Oiii...!!! apa kau mendengarkanku hah?!"
Eh...! s-siapa itu? bukankah cuma ada aku di ruangan ini? darimana dia datang? apa yang akan dia lakukan padaku?
Kebingungan dengan semua pertanyaan di kepalaku tiba-tiba ada seseorang yang memukul meja dengan sangat keras, sontak saja aku pun langsung terbangun dengan perasaan kaget dan takut bahkan setelah suara pukulan itu ada orang yang berteriak membentak dan memarahiku yang spontan membuatku langsung duduk dengan jantung yang berdebar kencang.
Aku benar-benar gemetar ketakutan tak berani membuka mataku sambil menghadapkan wajahku ke bawah karena tidak berani menatapnya.
"Tenanglah Ryuu... mungkin dia hanya kebingungan dan tak menyadari keberadaan kita, itu hal yang wajar bukan?"
Eh...! suara perempuan?
Setelah beberapa saat aku terdiam dengan wajah pucat ketakutan terdengar suara seorang perempuan yang bernada lembut dan halus yang mencoba menenangkan orang sebelumnya, karena penasaran perlahan aku kemudian mengangkat kepala dan membuka mataku mengintip ke arah orang-orang itu meskipun aku tidak berani untuk menatap wajahnya, dan benar saja ada tiga orang yang sedang duduk di depanku salah satunya adalah perempuan bersuara lembut itu dengan rambut merah muda dan aksesoris yang tampak berkilauan, wanita itu juga menggunakan selendang merah muda yang tembus pandang, sementara dua lainnya adalah seorang kakek berjenggot dan juga seorang pemuda yang terlihat seperti anak remaja 16 tahun.
"Ya... mungkin ada benarnya juga! tapi, aku sudah menjelaskan semuanya secara panjang lebar dari awal, dan dia sama sekali tidak mendengarkanku MENYEBALKAN!!" sahut remaja itu padanya dengan nada dan raut wajah kesal.
Walaupun masih agak takut, tapi dengan perlahan aku mengarahkan pandanganku melihat ke arah wajah mereka dan mendengarkan percakapannya sambil berusaha untuk memahaminya. Orang itu tampaknya sedang marah padaku karena aku tidak mendengarkannya, sedangkan kakek yang duduk tepat di hadapanku hanya diam sambil sesekali menyeruput teh yang ada di depan kami, ya itu benar-benar tercium seperti teh dan payahnya aku karena tidak menyadari keberadaannya padahal aku sangat dekat dengan meja duduknya.
"Oiii!...kau, kali ini aku akan memaafkanmu! jadi dengarkan baik-baik penjelasanku ini mengerti...?!!" ucapnya padaku.
Saat aku sedang berusaha menyimak pembicaraan mereka tiba-tiba anak remaja itu menatapku dengan tatapan agak kesal dan ucapan yang memang terdengar sangat kesal padaku, spontan aku langsung menghadapkan wajahku ke bawah seperti sebelumnya sambil mengangguk-anggukkan kepalaku tidak berani menatapnya dan bahkan tanganku masih terasa gemetaran.
"Sudahlah, Ryuu... jangan menakut-nakutinya." Ucap seorang wanita yang ada di sebelahnya.
Dengan suara yang lembut wanita itu kembali menasehati orang itu dan akhirnya dia mulai bersikap lebih tenang sambil menghela napas berat menatap ke arahku, aku kemudian sedikit menaikkan wajahku untuk melihatnya sambil sedikit berpikir mungkin seharusnya aku minta maaf padanya, tapi aku bingung bagaimana caranya mengatakan itu? aku tidak fasih dalam berbicara dan bahkan tidak bisa sama sekali karena aku bisu.
[ Maaf ]
Um... tapi setelah dipikir-pikir apa dia bisa memahami tulisan yang tidak terlihat seperti ini?
Aku mengangkat tanganku ke atas meja dan menuliskan permintaan maafku di atas meja menggunakan jariku berharap dia bisa memahaminya, setidaknya aku sudah berusaha minta maaf dan sisanya bagaimana cara dia memahaminya, itu saja.
"Tak apa... kau tak perlu minta maaf." Ucapnya sambil meminum tehnya.
Sepertinya dia memahaminya syukurlah kalau begitu.
Aku langsung lega karena dia bisa mengerti apa yang ingin aku katakan, jika tidak itu akan sedikit sulit terutama karena aku tidak bisa berbicara.
"Lagi pula sudah sewajarnya kami menjelaskan hal ini sampai kau benar-benar paham, agar dapat memilih keputusan dan jalan yang kau inginkan." Lanjutnya padaku.
Dia melanjutkan kata-katanya dengan tenang dan mengatakan padaku bahwa nantinya penjelasan itu akan berguna untuk memilih keputusan.
Tunggu dulu, keputusan!? apa yang dia maksud? aku tidak mengerti!?
Aku sedikit memiringkan kepalaku setelah mendengar ucapannya karena ini benar-benar membingungkan untukku.
"Tak perlu terburu-buru anak manis, bagaimana kalau kita mulai dari perkenalan?" ucap kakek berjenggot padaku.
__ADS_1
"Saya rasa juga lebih baik seperti itu." Sahut wanita cantik itu.
Kakek itu berbicara dengan suara khasnya sebagai kakek tua yang bijak dan mengusulkan untuk kembali memulai pembicaraan dari awal karena aku masih sangat kebingungan dengan keadaan ini, mendengar itu aku kemudian mengangguk kecil sambil sedikit menoleh padanya karena aku masih merasa takut untuk menatap matanya, dan dari samping kananku perempuan cantik itu juga setuju dengan usulan si kakek.
"Kalau begitu biar kumulai, aku adalah Dewa kebijaksanaan, Gain"
...
"Aku adalah Dewi cinta dan kasih sayang, Salia"
...
"Dan aku adalah Dewa kehidupan, panggil saja aku Ryuu"
Kakek memulai perkenalan dengan memperkenalkan dirinya terlebih dahulu diikuti oleh wanita itu dan juga remaja yang sebelumnya memarahiku yang ternyata adalah seorang Dewa.
Aaaa... Dewa?!! apa itu artinya aku telah membuat Dewa marah, tidak tidak tidak!! aku pasti akan dihukum, aku pasti akan dilempar ke neraka!
Tidak!!! maafkan aku! maafkan aku! aku benar-benar minta maaf...! tolong maafkan aku! jangan siksa aku, jangan masukkan aku ke neraka... hiks...
Pikiranku sangat kacau ketika kata dewa mulai terucap dari mulut mereka, aku bahkan berulang kali bersujud dan menundukkan kepalaku, berusaha meminta maaf sekali lagi.
"Epttt... wahahahaha... hahahaha... hahaha... wahahahaha...kau benar-benar lucu..."
Dewa itu tertawa terbahak-bahak memegangi perutnya sambil memukul-mukul meja melihat tingkahku yang tiba-tiba berubah, mungkin menurutnya itu sesuatu yang lucu tapi tidak denganku, hey ayolahh...! bisakah kau mengerti situasi ku saat ini, aku benar-benar tegang, oke!
"Tak perlu khawatir! aku bukan Dewa yang sekejam itu."
Dia mulai berbicara padaku, untuk menenangkanku sambil sesekali mengusap matanya yang berair karena tawa yang berlebihan, aku mengangkat kepalaku secara perlahan dengan mata yang sedikit berair.
"Epttt... hahahaha... hahahaha... uwahahahaha..."
Dewa itu kembali tertawa terbahak-bahak hanya saja kali ini dia terlihat tak sanggup lagi menahannya, dia tertawa sambil berguling-guling di lantai, setelah melihat wajahku yang terlihat memerah dengan mata yang berair hampir menangis.
Waaaaaa!!!
"Sudahlah Ryuu... jangan berlebihan, kau membuatnya tidak nyaman."
Melihat tawa Dewa Ryuu yang sudah tak terkendali Dewi Salia kemudian meminta Dewa Ryuu untuk berhenti tertawa, karena itu benar-benar membuatku merasa tidak nyaman.
Perlahan tapi pasti dia mulai menghentikan tawanya dengan menghela napas, melihat keadaan Dewa yang sudah tenang, aku pun mulai menenangkan diriku sendiri dan berusaha menurunkan tanganku untuk mulai menampakkan wajahku.
"Kalau begitu silah.../
"Uwahahahaha... hahahaha... lihat wajahnya uwahahahaha..." tawa Dewa Ryuu sambil memukul-mukul meja.
TIDAKKKKKKK!!!!
Saat Dewi Salia mulai berbicara, tawa keras Dewa Ryuu yang secara tiba-tiba menyela kata-katanya, bahkan tawa keras dari Dewa Ryuu itu mengagetkanku dan spontan membuatku langsung kembali menutup wajahku lagi.
Aaaa!!! hentikan!hentikannn!!! tolong hentikan!!
Dalam hati aku terus teriak memintanya untuk berhenti tertawa karena aku sudah tidak sanggup lagi dan akhirnya aku benar-benar menangis, aku menutupi wajahku yang menangis, ya menangis, menangis karena ditertawakan, lucu bukan! aku benar-benar cengeng. Perlahan Dewi berjalan ke arahku dan mengambil tempat di sebelahku, kemudian mengelus-elus kepalaku.
"Ryuu!! sudah cukup, kau sangat berlebihan!"
Dengan cukup keras Dewi membentak Dewa Ryuu agar berhenti, dia memang berlebihan, tapi aku tak menyalakannya untuk itu, karena memang tingkahku yang terlihat lucu.
"Baiklah! baiklah! aku mengerti! kau tak perlu marah Dewi…" sahutnya dengan santai.
Dengan santai dia membalas ucapan Dewi, aku pun menurunkan tanganku sekali lagi dan sedikit menaikkan wajahku yang merah dan pipi yang basah karena air mata, sontak Dewa Ryuu pun terdiam dengan mata membulat dan tatapan yang sedikit merasa bersalah.
"Y-yahh... sepertinya aku memang berlebihan, aku minta maaf?" ucap Dewa Ryuu meminta maaf.
__ADS_1
" … "
Mendengar Dewa Ryuu yang meminta maaf padaku membuatku sangat tercengang, dan langsung menghapus air mataku lalu mengangguk kecil sambil tersenyum ke arahnya.
"K-kalau begitu Silahkan perkenalkan namamu?" ucap Dewa Ryuu sambil memalingkan wajahnya.
Masih dengan canggung dia memintaku untuk memperkenalkan diri, tapi bukankah Dewa tak perlu menanyakan itu, maksudku Dewa itu pasti sudah mengetahuinya tanpa harus bertanya, bukan!?
Jelas kalau dia sedang canggung bicara denganku, setelah cukup mempermalukanku dengan tawanya itu.
"A-aa..."
Emhh… bagaimana ini?
"Ada apa?" tanya Dewi padaku.
" ... "
Aku hanya bisa terdiam tanpa bisa menjawab apa-apa, aku tidak bisa bicara, aku orang yang tuli dan juga bisu.
Tunggu sebentar aku bisa mendengar!? bagaimana bisa?
" ...? "
"Oh... jadi begitu, aku mengerti" ucap kakek berjenggot.
Ehh... apa kakek itu tau tentang masalahku?
"Tak apa-apa... tidak perlu memaksakan dirimu" ucap Dewi Salia padaku.
Sepertinya Dewi itu juga memahami kondisiku sambil terus mengelus kepalaku, dan aku hanya mengangguk dengan sedikit murung merenungi ketidakmampuanku itu, mau bagaimana lagi aku tidak pernah bicara dengan mulutku.
"Kau pasti sangat kesusahan... gadis manis, biarku jelaskan sesuatu" ucap kakek Dewa ingin menjelaskan sesuatu padaku sembari mulai mengambil napas.
"Dengarlah dengan baik, tidak ada batasan bagi jiwa seseorang yang sudah terlepas dari tubuhnya, jika jiwa itu sudah terlepas dari fisiknya segala keterbatasan yang ada pada tubuhnya tidak akan terbawa ke dalam jiwa, dengan kata lain, walaupun kau memiliki kekurangan saat masih hidup…"Ucap kakek menjelaskan.
" ...? "
"… tapi karena kau yang sekarang cuma berupa jiwa terlepas, maka kau telah terbebas dari segala batasan tubuh fisikmu, apa kau sudah paham?" lanjutnya bertanya.
Jadi, aku sudah mati ya...
Berbicara dengan santai kakek Dewa menjelaskan padaku sesuatu tentang jiwa, tapi aku masih bingung dengan apa yang dikatakan olehnya, sementara Dewa Ryuu dan Dewi Salia tetap diam sambil menatap ke arahku untuk mempersilahkan kakek bicara, mendengarkan kakek berbicara aku kemudian kembali mengingat-ingat kejadian sebelum aku berakhir di tempat ini, dan ingatan terakhir yang bisa aku ingat adalah suara ambulance yang membawaku ke rumah sakit karena kecelakaan di jalan.
Terus mendengarkan ucapan kakek Dewa aku mulai menyimpulkan setiap perkataan kakek dan menggabungkannya dengan ingatan terakhir yang kuingat, dan cuma ada satu kemungkinan dari apa yang aku simpulkan itu, ya aku sudah mati karena kecelakaan sebelumnya dan itu menjelaskan kenapa aku bisa berada di tempat ini, memang menyedihkan mengetahui diriku sudah mati, tapi meskipun bisa bertahan dari kecelakaan itu aku tetap akan mati karena kondisi kesehatan tubuhku yang sudah sangat buruk bahkan masa depanku sendiri juga sudah hancur dan itu adalah fakta yang harus aku terima meskipun sangat menyakitkan.
Maafkan kakak Yuna, kakak tidak bisa lagi menemanimu...
"Jangan sedih anak cantik kami disini untuk membantumu" ucap Dewi Salia sembari mengelus kepalaku.
Tertunduk murung setelah mengetahui bahwa aku sudah mati, Dewi Salia kemudian mengelus lagi kepalaku dengan lembut sembari mencoba untuk menenangkanku, perlakuan Dewi itu memang membuatku merasa lebih baik, tapi pada akhirnya satu-satunya penyesalanku adalah tidak bisa melihat adikku tumbuh dewasa.
…
[ Ayame ]
"Ayame?"
" … "
"Nama yang bagus."
Setelah cukup tenang aku menuliskan namaku diatas meja sama seperti sebelumnya, walaupun tulisannya tidak terlihat, tapi kuharap mereka bisa memahaminya sama seperti sebelumnya, walaupun aku sedih karena harus berpisah dengan keluargaku, tapi tidak ada gunanya menangisi kematianku karena ini adalah takdirku, hanya ada satu hal yang harus aku lakukan yaitu menyerahkan semuanya kepada para Dewa ini.
__ADS_1
Aku mengangguk kecil sambil tersenyum ketika Dewi Salia menyebutkan namaku, begitupun juga dengan kakek Dewa dan Dewa Ryuu yang tiba-tiba memuji namaku meski sedikit memalukan mendengar orang lain memuji namaku, tapi aku suka mendengar itu karena sangat jarang ada orang yang memujiku, kebanyakan dari orang-orang hanya melihat kekuranganku saja dan mengolok-olokku karena kekurangan itu.
...🌹🌹🌹...