I Was Reincarnated As A Dragon

I Was Reincarnated As A Dragon
Chapter 7: Pencarian Tanaman Obat


__ADS_3

"Hey hey Shaly, apa yang akan kita lakukan hari ini?" tanya Mary padaku.


"Aku juga ingin tau itu!?" kata Jeane ikut bertanya.


"Hmmm... entahlah, aku masih memikirkannya dan mungkin juga aku takkan menjalankan misi hari ini." Jawabku sambil berjalan.


Aku sedang tidak bersemangat mengerjakan misi jadi aku pulang saja, berbeda dariku mereka sangat bersemangat, padahal baru beberapa menit yang lalu mereka mendaftar menjadi anggota guild petualang.


Dan juga, apa-apaan mereka ini? kenapa mereka mengikutiku sepanjang jalan dan bahkan sampai ke kamarku, apa mereka berniat untuk tinggal bersamaku? jika cuma Mary dan Jeane tidak masalah tapi aku tidak suka dengan laki-laki ini, dia bertingkah seolah tidak memperhatikan rasa bersalah padaku, menyebalkan.


"Oi...! kenapa kalian ada disini?" kataku bertanya pada mereka.


"Hehehe... tentunya karena kita ini adalah tim dan tim harus selalu bersa..." Jawab Mary dengan penuh keyakinan.


"Aku tidak akan membayar sewa kamar kalian, kalian harus bayar sendiri." Ucapku memotong perkataan Mary.


"Ehhhhh...! bukan itu maksudku loh... iyakan jeane, Han?" kata Mary bertanya pada Jeane dan Han untuk mengalihkan perhatian.


...


...


Sudah kuduga, dilihat dari ekspresi Jeane dan Han yang membuang muka, mereka ingin tumpangan gratis, tentunya tidak bisa nona manis, kau harus bayar sendiri.


"Hahhh... baiklah, tapi hanya satu bulan saja, seterusnya kalian harus bayar sendiri." ucapku sembari menghela nafas.


Ah sial kata-kata itu keluar dengan sendirinya, padahal keuanganku sedang dalam keadaan kritis.


Itu artinya selama satu bulan ini aku harus bekerja dua kali lipat lebih keras dari biasanya, ini merepotkan.


"Wahhh... terima kasih Shaly kau memang sahabat terbaik." katanya dengan kegirangan.


"Sama-sama, itu adalah pengecualian untuk teman masa kecil." Ucapku sambil tersenyum


"Lagian kenapa kalian datang ke kota ini tanpa persiapan?" tanya ku pada mereka.


"B-bukannya tanpa persiapan tapi..." Ujar Jeane sambil memalingkan wajahnya.


"Ada sedikit kejadian tak terduga saat dalam perjalanan kemari." sambung Han.


"Y-yahh... seperti itulah." kata Jeane.


Kejadian tak terduga? ah lupakan saja, bukan waktunya untuk memikirkan itu, sekarang yang terpenting adalah bagaimana caranya mendapatkan uang untuk membayar sewa penginapan ini, mungkin aku harus mengunakan tabunganku untuk membayar sewa dua bulan kedepan, ini benar-benar perampokkan.


"Kau mau kemana Shaly?" tanya Jeane.


"Pergi ke guild." Jawabku dengan singkat.


"Ehhhhh... bukannya kita baru saja pergi dari sana!" Ucap Mary dengan kaget.


Memang kami baru pergi dari guild sekitar satu jam yang lalu dan baru saja sampai ke penginapan tapi keadaan saat ini benar-benar memaksa.


"Yahh... setelah dipikir-pikir bekerja itu lebih baik daripada sekedar tiduran di kamar." Jawabku membuka pintu.


Mereka bertiga pun langsung mengikutiku keluar dari penginapan dan pergi menuju guild,


seperti biasanya sepanjang perjalanan orang-orang menyapaku dan menanyakan kabarku, aku memang terkenal di daerah sekitar sini, hehe.


Aku hanya menjawab dengan 'ya... aku baik-baik saja' atau hanya dengan senyuman dan lambaian tangan, setidaknya seperti itulah caraku membalas sapaan orang lain.


Beberapa saat kemudian kami sampai di depan gerbang guild, Jeane dan Han hanya diam sepanjang perjalanan sementara Mary dengan wajah polosnya menatap ke segala arah dengan terkagum-kagum.


yahh... biarkan saja.


"Hey Lucy, aku ingin menjalankan misi yang tadi, apa masih bisa?" tanyaku pada Lucy.

__ADS_1


"Oh... ternyata Shaly, kupikir kau sedang tiduran di rumah."ucapnya sedikit mengejek.


"Huh...apa-apaan kau ini!? aku bukan orang pemalas lohh..." kataku sambil cemberut.


"Maaf maaf... jadi, ada apa?" ucapnya dengan sedikit tertawa.


"Aku ingin mengambil yang kedua." jawabku.


Dari semua misi request yang disebutkannya sebelumnya, aku memilih mencari tanaman obat walaupun agak sedikit sulit karena itu jenis obat-obatan yang terbilang langka, tapi jika berhasil menemukannya itu akan menjadi penghasilan yang menjanjikan.


Bayarnya akan lebih mahal daripada menanam sayur dan menyingkirkan hama dan lagi aku memang tidak ingin berurusan dengan hama, mereka cukup menyulitkan.


"Yang kedua? Owhh... baiklah, tapi apa kau yakin ini cukup sulit lohh...! bahkan tidak ada orang yang mau mengambil misi ini." ucap Lucy padaku.


"Jika tidak ada orang yang mau mengambilnya bukankah itu bagus, biar aku saja yang melakukannya." Kataku dengan polos.


Walau misi ini terdengar cukup sederhana tapi sebenarnya misi ini cukup sulit, karena tanaman obat yang terbilang langka terutama buah strawberry buah berry yang satu ini sangat sulit untuk ditanam di perkebunan.


Buah berry ini hanya tumbuh di daerah yang lembab, tertutup serta dikelilingi oleh mana dan lagi pohon dari berry ini akan layu dan mati ketika terkena sinar matahari, sehingga sangat sulit untuk menanamnya di daerah terbuka,


Bahkan sampai saat ini tidak ada penelitian yang berhasil untuk menemukan cara agar bisa menanamnya di daerah terbuka, satu satunya cara adalah dengan membiarkannya tumbuh di habitat aslinya yaitu di gua dan pedalaman Labirin.


"Tapi, itu tidak semudah mengucapkannya lohh... kau harus masuk kedalam labirin lantai 8 untuk memetiknya, walaupun kita sudah memiliki jalur teleport kesana, tapi itu tetap saja sangat sulit, jadi apa kau yakin dengan ini!?" tanya Lucy sekali lagi padaku.


"Tentu, aku yakin sangat yakin! lagi pun aku punya kenalan yang bisa membimbingku ke tempat itu." jawabku dengan mengangkat kedua tanganku.


"Hahhhhh... terserah kau saja, tapi jangan salahkah aku jika kau pulang dengan hanya membawa nama." Ucapnya sambil menakut-nakuti ku.


Setelah sedikit menghela nafas Lucy akhirnya mengijinkan aku mengambil misi ini.


"Duhhh... Lucy...! jangan menakut-nakuti ku lohh." kataku dengan sedikit takut.


"Aku tidak menakut-nakuti mu, yang kukatakan adalah kenyataan, kau pikir kenapa tidak ada orang yang mau mengambil misi ini? itu karena sudah banyak party petualang yang tidak bisa pulang dengan selamat setelah memasuki lantai kedelapan." jawab Lucy dengan serius.


"Baiklah, semoga berhasil Shaly, aku akan menyiapkan batu nisan untukmu, selamat berjuang." ujarnya dengan senyuman mengerikannya.


Ah... kau teman yang buruk.


"Misi seperti apa yang akan kita lakukan, Shaly?" tanya Mary dengan perasaan.


"Aku juga ingin tau?" kata Han.


"Kita akan mencari tanaman obat." Jawabku dengan singkat.


"Tanaman obat?" ucap Jeane kebingungan.


"Ya... tidak banyak hanya tiga jenis tanaman jamur merah, rumput lorus dan buah strawberry." Jawabku pada Jeane.


"Baiklah, mari kita berangkat." ucap Han penuh semangat.


Tak mau membuang waktu kami berempat pun langsung pergi keluar dari kota untuk mencari tanaman obat itu di dalam hutan, cukup lama berjalan kami akhirnya sampai di depan hutan tentu saja dengan persenjataan yang memadai, aku membawa dua buah belati di pinggangku sementara Mary, Jeane dan Han membawa tongkat, pedang dan juga tombak.


"Hey Shaly, seperti apa bentuk rumput lorus dan jamur merah yang kita cari?" tanya Han padaku.


"Daun rumput lorus berbentuk runcing berwarna hijau tua dengan sirip putih dan bunga menyerupai buah padi berwarna putih, biasanya tumbuh di atas batu berlumut.


"Sementara jamur merah berbentuk seperti setengah lingkaran dengan batang dikelilingi semacam jaring." jawab Jeane menjelaskan.


"Owh... kau ternyata tau banyak tentang tanaman ini!" seruku pada Jeane.


"Tidak juga, aku hanya pernah mendengarnya dari orang tuaku." Ucap Jeane.


Aku hampir lupa bahwa orang tua Jeane dulunya adalah seorang petualang, itu menjelaskan kenapa dia mengetahui banyak hal.


Rumput lorus hanya tumbuh di atas batu berlumut sementara jamur merah tumbuh di pohon kayu besar yang sudah lapuk dan juga lembab, kedua tanaman ini memiliki karakteristik tempat tumbuh yang sama yaitu tempat yang lembab, hanya perlu mencari tempat yang lembab dan berlumut!?

__ADS_1


"Owhh... Kalau begitu bagaimana kalau kita mencarinya di sekitaran aliran sungai meningkat tempat tumbuhnya yang berhubungan dengan sesuatu yang lembab." Ucapku pada mereka sambil menyusuri hutan.


"Ookeh..." kata Mary setuju dengan usulku.


Beberapa saat kemudian, kami mendengar suara aliran sungai deras di depan kami dan benar saja itu sungai.


"Yoshh... kalau begitu mari kita berpencar untuk mencarinya, tapi berhati-hatilah dengan monster didekat sini karena kita sudah masuk hutan, kita pasti akan bertemu dengan monster." ucapku untuk memperingatkan mereka tentang monster.


"Ookeh" jawab Mary sekali lagi.


"Baiklah, ayo berpencar!" kata Jeane dengan semangat.


Aku akan pergi sedikit lebih jauh kedalam hutan untuk mencari pohon kayu yang sudah lapuk, sementara Mary, Han dan Jeane entahlah aku tidak tau mereka pergi ke arah mana, mungkin mereka berada di sekitaran sungai.


"Itu dia pohon kayu besar yang lapuk." kataku setelah melihat sebatang pohon kayu yang lapuk.


Setelah berkeliling hutan cukup jauh akhirnya aku menemukan pohon kayu yang penuh dengan jamur merah.


"Yeeeee!!! akhirnya aku menemukannya, Yoshh waktunya kembali." ucapku bersiap untuk menemui kelompokku.


"Kuharap mereka juga berhasil menemukannya" lanjutku.


"Oiii...!!! Shaly sebelah sini!" panggil Mary padaku.


Stttt!!!


"Mary awas...!!!" ucapku memperingatkan Mary.


Tiba-tiba ada seekor monster ular muncul di belakang Mary, sontak aku langsung memperingatkan Mary untuk segera menghindar.


Duarrrr!!!!


Monster ular itu seketika terpental karena ledakan dan akhirnya mati.


"Syukurlah masih sempat." Ucap Han sambil mendekat.


"Kau harus waspada Mary, lengah sedikit saja kau bisa mati jangan lupa kalau kita sedang ada di dalam hutan." ujar Han menasehati Mary.


Itu memang nyaris sekali jika saja Han tidak menolong Mary pasti akan berakhir didalam rahang monster ular itu.


"Terima kasih han." ucap Mary berterima kasih pada Han.


"Dimana Jeane?" tanyaku pada Han.


Kreskk!! kreskk!!


"Aku disini." Jawab Jeane sambil keluar dari semak-semak.


"Hahhhhh... syukurlah, jadi bagaimana apa kalian mendapatkannya?" tanyaku pada mereka.


"Tentu, aku mendapatkannya." Jawab Jeane dengan mengangkat kantong kain yang penuh dengan rumput lorus.


"Aku hanya dapat sedikit." ujar Han sambil memegang dua batang kecil rumput lorus.


"Aku tidak dapat sama sekali." ucap Mary sedikit sedih.


"Tak masalah, aku sudah dapat banyak." ucapku dengan memperlihatkan sekantor penuh jamur merah.


"Woaahhhh... kau luar biasa Shaly, hehehe" kata Mary sambil dengan memelukku.


Berarti sisanya tinggal mencari buah strawberry didalam labirin, ini akan sangat sulit, kami masih beruntung karena tidak ada gangguan monster didalam hutan ini tapi di labirin, kami pasti akan bertemu dengan banyak monster mengerikan, kuharap tidak akan terjadi sesuatu yang buruk!


"Ayo kita berangkat ke tempat selanjutnya." ucapku dengan keyakinan yang kuat.


...~•~...

__ADS_1


__ADS_2