
"Apa kalian sudah menelusuri semua area gua ini?" tanya Zoe sambil menggendong Jun.
"Tidak, kami belum sejauh itu" jawabku sambil sedikit melirik Kie.
Dia sangat gemetar.
"Apa mungkin gua ini pintu masuk menuju labirin?" ucapku ketua prajurit keheranan.
"Sepertinya tidak, karena kami tidak mendengar ada suara monster di tempat ini… kalau pun ada monster yang bisa bergerak tenang seharusnya dia sudah menyerang kita, tapi tempat ini bahkan tidak ada tanda-tanda keberadaan monster" ucapku padanya.
"Hm... apa mungkin hanya gua biasa?"
DUARRR!!!
"Mungkin, tapi yang jelas kita tidak bisa kembali ke sana" ucapku sambil menatap ke arah belakang kami.
Dengan terus berjalan mencari tempat yang lebih aman aku menjelaskan kepada mereka sedikit tentang keadaan gua ini walaupun aku tidak pernah menjelajahinya sepenuhnya tempat ini memang terlihat seperti sebuah pintu masuk labirin, tapi bukan berarti ini adalah labirin aku sudah melihat sedikit kondisi gua ini dengan sihir deteksi jadi aku bisa memastikan keamanannya dan aku sama sekali tidak menemukan ada jalur-jalur jalan yang bercabang, gua ini murni hanya memiliki satu jalan saja meskipun aku tidak mengetahui seberapa panjang gua ini.
Dalam pembicaraan kami dari awal sampai saat ini Kie terus saja menggenggam tanganku dengan erat tanpa melepaskannya, sesekali aku menatapnya dengan sedikit tersenyum dan mempererat genggaman kami karena dia yang tampak ketakutan, ini adalah pertama kalinya aku merasakan tangan Kie yang gemetar dan berkeringat dingin karena ketakutan bahkan wajahnya sendiri terlihat seakan ingin menangis, semua orang yang ada di sini memang ketakutan dengan ekspresinya masing-masing begitupun denganku, tapi berpikir dengan panik tidak akan menyelesaikan masalah semuanya harus diselesaikan dengan pikiran yang tenang, walaupun sangat sulit untuk mencari ketenangan.
Di sela-sela pembicaraan kami terdengar suara ledakan disertai dengan tanah bebatuan yang runtuh dan berjatuhan seolah mulut gua telah rata dengan tanah, dan tentunya kami tidak akan pernah bisa kembali ketempat itu lagi.
...
"Lia, tutup jalan yang kita lewati tadi dengan tanah berlapis!"
"Baik kak"
Cukup jauh berjalan masuk ke dalam gua aku kemudian menghentikan langkahku dan meminta Lia untuk menutup jalan yang baru saja kami lewati dengan tanah tebal yang berlapis, itu berguna untuk menghalangi prajurit iblis yang bergerak masuk ke dalam gua, karena mereka tidak mungkin bisa dikecoh dengan mudah membuat dinding berlapis adalah hal yang bagus, jika mereka menghancurkan dinding lapis pertama dan berjalan menyusurinya mereka akan terhenti di lapisan yang kedua tanpa mengetahui adanya kami yang sedang bersembunyi di balik lapisan dinding tebal yang kedua, dengan begitu kami tidak akan tertangkap oleh mereka.
Dan akan lebih bagus lagi kalau mereka tidak menghancurkan lapisan yang pertama, karena aku meminta Lia untuk membuatnya dengan sangat tebal agar tidak ada kecurigaan.
"Kenapa kita berhenti?" tanya Zoe padaku.
"Kami hanya menyusuri gua ini sampai di sini, sisanya masih belum kami ketahui dan juga sebaiknya kita mengobati mereka yang terluka dulu" jawabku sambil menatap ke arah para prajurit dan juga Jun.
"Ya kurasa ada benarnya" sahutnya.
...
"Arhhh... itu tadi benar-benar serangan yang tidak terduga, glek glek…" ucap ketua prajurit sambil meneguk alkoholnya.
"Hei apa ini saat yang tepat untuk minum?" •_• tanyaku pada ketua prajurit.
"Mau panik juga tidak akan menyelesaikan masalah, setidaknya nikmati hidupmu selagi bisa" jawabnya ketua dengan berlagak bijak.
Setelah berhenti semua orang kemudian duduk dan bersandar di dinding gua sambil tetap memegangi senjata mereka masing-masing, tak terkecuali dengan ketua prajurit yang juga duduk sambil mengeluarkan botol alkohol dari balik sakunya dan menegak minuman itu dengan santainya.
Dia seakan tak bergeming dengan semua hal yang terjadi padahal dia juga sedang terluka, benar-benar sangat tenang bahkan sekilas aku bertanya-tanya 'apakah dia tidak memiliki rasa takut?' karena dia satu-satunya orang yang terlihat tanpa beban di sini.
Yahh... itu ada benarnya juga, tapi ini saat yang tidak tepat. •_•
...
"Ekhh!!" rintih Jun.
"Jun!" seru Lia sambil memegangi tubuh Jun yang tersandar di dinding gua.
Bingung menanggapi ketenangan ketua prajurit itu pandanganku teralihkan dengan rintihan Jun yang kesakitan saat Zoe menurunkannya dengan Lia yang berada di sampingnya.
"Kie, bisa kau bantu Lia mengobati Jun?" tanyaku pada Kie yang sudah terlihat tenang, tapi masih terus memegang tanganku.
"Heal…" ucap Kie pelan.
Karena luka Jun yang semakin parah dan darahnya yang membasahi bajunya aku meminta Kie untuk membantu Lia mengobatinya agar lukanya tidak semakin memburuk, mendengar permintaanku Kie hanya mengangguk lalu melepaskan tanganku duduk bersebelahan dengan Lia sambil meletakkan tangannya di atas luka Jun.
"Ekhh!"
"Tahanlah sebentar lagi Jun"ucap Lia padanya.
Tepat setelah Kie dan Lia meletakkan tangannya di atas luka Jun seketika itu juga ada secercah cahaya hijau muncul dan langsung menutupi luka yang ada di perut Jun, dan di saat yang sama Jun kembali merintih dengan wajah yang penuh dengan berkeringat, tidak hanya diam menonton mereka aku mengambil sapu tangan yang ada di tas pinggangku lalu menyapu semua keringat di wajahnya.
Di belakangku terlihat juga beberapa orang yang melakukan penyembuhan pada prajurit dan memperban luka mereka, tapi walaupun begitu mereka semua sudah tampak kelelahan dan nyaris tidak bisa melakukan sihir penyembuhan, sehingga banyak dari prajurit yang hanya memperban lukanya saja tanpa mengobatinya.
...✧❁❁✧✿( Ellia )✿✧❁❁✧...
"Yoshh selesai" ucapku sambil mengusap keringat.
"Sekarang istirahatlah dulu, aku akan memberikan obat untukmu" ucap Kie pelan pada Jun.
Hm... ada apa dengan Kie kenapa sikapnya berbeda?
__ADS_1
Mengobati luka yang ada di perut Jun benar-benar sangat menguras keringat, yah… itu karena lukanya cukup besar dan juga dia yang sudah kehilangan banyak darah, tapi aku senang karena penyembuhannya berjalan dengan lancar walaupun sedikit penuh dengan rintihan.
Selesai menutup lukanya Kie kemudian mengeluarkan beberapa ramuan obat penghilang rasa sakit dari tas kecilnya lalu memberikan itu pada Jun, Kie terlihat agak berbeda dari biasanya dia terlihat sedikit murung dan tidak terlalu banyak bicara padahal dia orang yang selalu terlihat kuat Kie orang kedua yang selalu bersikap dewasa dan kuat setelah kak Luna, tapi sekarang aku malah melihat kesan yang berbeda dari sikapnya.
Mungkin cuma perasaanku saja.
"Anu… apa ada yang bisa saya bantu?" tanyaku pada ketua prajurit.
"Tidak perlu…"
"Apa anda yakin?" tanyaku sekali lagi.
"Kau bantu saja prajurit yang lain lagipula ini hanya luka gores" jawabnya.
"Um... yahh… kalau begitu permisi."
Selesai mengobati luka Jun dan dia yang sudah terlihat lebih tenang aku kemudian pergi berkeliling untuk membantu para prajurit yang terluka, meskipun luka di perut Jun sudah menutup, tapi dia masih terlihat lemah karena baru saja kehilangn banyak darahnya.
Membiarkan Jun beristirahat aku dan Kie datang menghampiri ketua prajurit yang sedang melepaskan jirah besinya kecuali yang ada di pergelangan tangan dan kakinya untuk membantu mengobati luka-lukanya, tapi dia menolaknya dan meminta kami untuk membantu prajurit yang lainnya
Dia bilang itu hanya luka gores saja dan memang benar itu luka gores, ya… luka gores yang besar, satu di tangan dengan sepanjang 10cm dan di dada yang hampir dua kali lipat dari yang ada di tangannya benar-benar sebuah luka gores. Luka gores apanya?"•_•
"Biar saya bantu" ucapku pada beberapa prajurit.
"Y-yahh terima kasih"
Melihat ketua yang bersikeras tidak ingin dibantu aku kemudian pindah ke beberapa prajurit yang sedang duduk bersandar memegangi senjatanya, lalu membatu mereka mengobati luka-lukanya walaupun tidak langsung sembuh, tapi setidaknya itu cukup untuk sedikit meringankan rasa sakitnya.
"Baiklah, sudah selesai… istirahatlah dulu" ucapku pada mereka.
...
"Kie, Lia apa kalian sudah selesai?" tanya kak Luna pada kami.
"Em ya…" jawab Kie sedikit mengangguk.
Dengan tidak terlalu terburu-buru aku mengobati setiap luka ketiga orang prajurit itu kemudian memperbannya agar luka itu tidak terbuka lagi, begitu juga dengan Kie yang sedang duduk di dekat seseorang bersama Zoe mengobati luka orang ity, dan beberapa saat kemudian kami bertiga selesai membatu pengobatan setiap orang yang terluka akibat serangan iblis sebelumnya, dengan perlahan kak Luna menghampiri kami bertanya tentang 'apakah kami sudah selesai atau belum' dan dengan sedikit anggukan kepala Kie menjawab dengan pelan sedangkan aku sendiri hanya tersenyum bangga dan senang karena bisa membantu orang lain.
"Baiklah kalau begitu mari kita melihat-lihat keadaan gua ini!" ajak kak Luna.
"Baik kak" sahutku antusias.
"Kau tidak perlu memaksakan diri untuk ikut Kie, sebaiknya kau juga istirahat bersama mereka" ucap kak Luna menatap Kie.
"Aku juga akan ikut bersama kalian" kata Zoe mengangkat tangannya.
"Kau sebaiknya tetap berada di sini Zoe, kita tidak tau apa yang terjadi nantinya… mungkin saja ada yang berhasil menembus dinding gua."
"Lalu, apa aku harus membiarkan kalian dalam bahaya karena harus menjelajahi gua misterius ini, hei ada laki-laki di sini kenapa harus perempuan yang mengambil tugas berbahaya? kalian juga tidak tau apa yang terjadi pada diri kalian nantinya kan?" ucap Zoe meyakinkan.
"Tapi…" ucap kak Luna terhenti karena bajunya di tarik pelan oleh Kie.
Ahh imutnya...
"Hah… baiklah, lagipula ada satu hal yang ingin aku tanyakan padamu" sambung kak Luna dengan menghela nafas.
Yap… terjadi sedikit perdebatan antara kak Luna dan Zoe tentang siapa yang boleh ikut menjelajahi isi gua, kak Luna punya alasan yang bagus untuk tetap membiarkan Zoe tinggal bersama para prajurit karena tidak banyak dari mereka yang bisa bertarung dengan kondisi seperti ini, dan pada akhirnya perdebatan itu terhenti karena Kie yang menarik-narik pelan baju kak Luna seolah membiarkan Zoe untuk ikut bersama kami.
Aku hanya sedikit tersenyum diam tak bersuara melihat Kie yang seperti anak-anak meminta dibelikan permen oleh ibunya, tentunya itu sedikit membingungkan bagiku karena sekarang sifat Kie jauh lebih kekanak-kanakan daripada aku, dan itu membuatku merasa sedikit lebih dewasa hehehe, walaupun bukan saatnya untuk memikirkan hal seperti itu.
"Ayo berangkat!" ucap kak Luna.
"Bye bye semua! kami akan melihat-lihat keadaan gua ini" kataku pada semua prajurit.
"Berhati-hatilah anak kecil!" sahut ketua prajurit.
"Aku sudah besar paman" •_•
"Hahahaha! maaf maaf."
"Ughh! dasar pemabuk, padahal situasi sedang tidak baik" ucapku pelan sambil mengikuti kak Luna.
Sudah cukup dengan perdebatan kak Luna kemudian melangkahkan kakinya menuju ke sisi gelap gua meninggalkan prajurit yang beristirahat, dan dengan sedikit memberi salam kepada mereka aku mengikuti kak Luna walaupun aku tidak terlalu suka dengan ucapan ketua yang menyebutku sebagai anak-anak, begitupun dengan Kie yang berjalan beriringan dengan kak Luna dan juga Zoe, tapi kali ini dia tidak memegang tangan kak Luna dan hanya memegang tangan Zoe saja.
...*****...
"Hmm ternyata gua ini masih sangat jauh" kataku menatap ke depan.
"Yahh… dan juga sepertinya ini terbentuk dari retakan tanah" ucap Zoe menatap langit-langit gua yang mulai retak.
"Aku setuju… semakin jauh ke depan, langit-langitnya semakin terbuka… kuharap tidak ada iblis yang bergerak di atas kita" sahut kak Luna dengan sedikit serius.
__ADS_1
Cukup jauh kami berjalan mengikuti arah satu jalur gua ini sambil terus mengamati keadaan sekitar kami, jalan ini tidak jauh berbeda dari yang sebelumnya hanya saja jalan gua ini sedikit terjal dan berbatu juga terlihat lebih terang karena langit-langitnya sedikit terbuka disebabkan oleh retakan, walaupun begitu ini juga tidak terlalu terang bahkan terkesan gelap jika kami tidak menggunakan sihir api sebagai obor.
"Ekhh!"
"Kie!? kau kenapa?!" tanyaku khawatir padanya.
"T-tidak apa-apa, h-hanya sedikit perih dan nyeri" ucap Kie bersandar dan berpegangan pada dinding gua.
"Eh! darah?" ucap kak Luna terkejut melihat darah yang ada di kaki Kie.
"Zoe!!" lirik kak Luna pada Zoe.
Secara tiba-tiba Kie sedikit merintih dengan bersandar sambil berdiri di dinding gua memegangi perut bagian bawahnya, di tambah lagi dengan adanya darah yang keluar mengalir melalui kakinya dan itu terlihat sangat jelas karena dia memakai rok, kak Luna bahkan terkejut melihat tetesan darah itu dan langsung melirik ke arah Zoe yang berdiri di sampingnya.
Brukk!
"H-hei a-ada apa Luna?!" ucap Zoe tersandar di dinding setelah kak Luna mendorongnya.
"Hei Zoe! apa yang kau lakukan pada Kie?!!" tanya kak Luna terlihat marah.
Melihat apa yang terjadi pada Kie dengan cepat kak Luna mendorong Zoe sambil memegang leher bajunya ke dinding gua di sebelah kami, dan bertanya kepada Zoe dengan wajah yang terlihat marah.
.........
"Kie kau baik-baik saja?" tanyaku pada Kie.
"Y-yah… masih nyeri, tapi tidak masalah aku bisa berjalan."
.........
"Cepat jawab aku!!" bentak kak Luna.
"Bagaimana aku bisa menjawabnya, aku tidak mengerti apa yang kau maksud Luna."
"Jangan pura-pura tidak mengerti Zoe! kau melakukan ' itu ' kan pada Kie?" tanya kak Luna dengan memegang erat leher baju Zoe.
"Kau tidak menuduhkukan Luna?"
"Aku tidak menuduhmu, tapi aku melihat kau berciuman dengan Kie saat kalian pergi mencari tanaman obat… dan siapa yang tau kau melakukan hal lain sebelum aku melihatnya" ucap kak Luna sontak membuat Kie memerah.
Kak Luna benar-benar berterus-terang. •_•
Dalam pertengkarannya kah Luna melontarkan pernyataan yang sontak membuat wajah Kie memerah dengan mata yang membulat ketika mendengar itu, begitu juga Zoe yang tampak tercengang mendengar kak Luna mengetahui tentang momennya itu, dan ya… kak Luna benar-benar tidak segan mengatakan itu walaupun dia juga langsung terlihat malu mengatakannya.
"Jadi, kau melihat itu?" tanya Zoe tercengang.
"Lu-lupakan bagian itu, sekarang jawab pertanyaanku!" lanjut kak Luna sambil sedikit membuang muka.
"Kau tau aku bukan orang sebejat itukan? kau sudah mengenalku dengan sangat lama Luna, jadi jangan salah paham denganku aku tidak mungkin bertindak sejauh itu."
Terjadi pertengkaran yang cukup besar antara kak Luna dan Zoe tentang keadaan Kie, mereka terus bertukar kata sahut-sahutan dengan kak Luna yang terus mendesaknya untuk mengakui perbuatannya dan Zoe yang sedang terpojok dengan semua pertanyaan dan pernyataan yang diucapkan oleh kak Luna, dia menjadi orang yang tertuduh di sini, tapi walaupun begitu aku tidak begitu yakin kalau Zoe melakukan itu.
.........
"Sebenarnya apa yang terjadi Kie?" tanyaku pada Kie tanpa mempedulikan keributan di sampingku.
"Ya sepertinya memang sudah masuk periodenya, aku lupa untuk memakai pembalutnya hehe"
"Owhh! jadi begitu ya hehehe"
.........
Secara inti semua permasalahan ini memang hanya kesalahpahaman saja, itu hal yang sering terjadi pada wanita setiap bulannya dan bukan karena ada sesuatu yang terjadi diantara Zoe dan kie, ya… mungkin kak Luna sedang terpancing emosi karena mengira Zoe berbuat hal yang senonoh pada Kie.
"Kak."
"Diam Lia kakak sedang memaksa pria bejat ini untuk mengaku."
S-sepertinya kakak benar-benar kesal. "•_•
"H-hei hentikan itu, sudah kubilang aku tidak mungkin berbuat seperti itu/"
"Diam dan mengakulah!" bentak kak Luna.
"Luu… kau salah paham… Zoe tidak melakukan apa-apa padaku, ini hal yang wajar terjadi pada kita tiap bulankan… aku hanya lupa untuk membalutnya saja" ucap Kie menenangkan kak Luna.
"Eh! j-jadi itu bukan karena Zoe mengambil…"
"Bukan Luu… t-tapi tolong jangan katakan tentang masalah itu pada siapa-siapa ya, a-aku tidak ingin ibu dan ayah marah" kata Kie sambil memalingkan wajahnya yang malu-malu.
"Jadi… apa kau bisa melepaskan ini? aku mulai sedikit terganggu dengan ini" ucap Zoe meminta kak Luna melepaskannya.
__ADS_1
"Y-yahh baiklah… m-maaf" ucap kak Luna sedikit menunduk malu.
Karena aku tau ini hanya kesalahpahaman saja aku kemudian memanggil kak Luna dan ingin bicara padanya, tapi kak Luna yang terlalu sibuk dengan marah-marah pada Zoe menyuruhku untuk diam, dan setelah Kie angkat bicara tentang keadaannya masalah kesalahpahaman ini pun langsung berakhir dengan sedikit permintaan dari Kie agar tidak memberitahukan masalah ini pada ayah dan ibunya, dan dengan sedikit malu kak Luna melepaskan cengkeramannya pada leher baju Zoe, yah… permasalahan tidak akan selesai jika hanya berpegang pada pendapat diri sendiri dan untungnya Kie sempat bicara sebelum kak Luna menghajar wajah Zoe. •_•