I Was Reincarnated As A Dragon

I Was Reincarnated As A Dragon
Chapter 29: Gelak Tawa


__ADS_3

"Tuan, apa anda masih marah?" Ucap Sira.


" ... "


"Tuan?"


" ... "


"Maafkan saya, tuan." Sambungnya meminta maaf.


" ... "


"Hahhh... ya ya! baiklah! tapi, jangan pernah melakukan itu lagi." Ucapku dengan sedikit menghela nafas.


Karena kasihan dengan rengekannya aku akhirnya membuka mulutku dan memaafkannya walaupun dengan masih sedikit kesal dan marah.


Sejak kami meninggalkan Goro di depan gerbang dan masuk ke dalam labirin Sira terus-terusan merengek memanggil namaku untuk minta maaf, tapi aku tetap diam dan tidak menanggapinya.


Siapa yang tidak marah jika ada seseorang yang membuat perjanjian dengan mengatasnamakan nama kita apalagi jika perjanjian itu melibatkan nyawa seseorang, itu akan membuat kita dipandang buruk oleh orang lain.


Meskipun aku sendiri sudah memberikan kesan yang buruk untuk diriku saat mengamuk di ibu kota dengan membunuh banyak orang, tapi itu aku lakukan karena ingin melindungi seseorang dan bukan karena aku monster yang jahat.


Lalu kenapa aku tidak membatalkan saja perjanjian itu padahal aku tidak menyukainya? mungkin hanya karena satu alasan aku tidak melakukan itu, aku ingin bertemu lagi dengan mereka suatu hari nanti, yup hanya untuk itu saja.


Aku tidak berniat untuk memakannya lagi pula manusia seukuran ujung kuku tidak mungkin mengenyangkanku walaupun aneh rasanya daging dan darah manusia itu terasa enak.


Tapi tidak aku tidak suka dan juga dia orang yang berharga untuk putri kecil itu jadi tidak mungkin aku membunuhnya.


Sangat meresahkan menjadi monster hampir membuatku kehilangan kemanusiaanku beruntung aku masih bisa mempertahankan akal sehatku, jika tidak pasti akan terjadi hal yang tidak diinginkan aku mungkin akan memakan semua manusia yang kutemui.


"Sekali lagi maafkan saya, tuan." Ucapnya meminta maaf sekali lagi.


"Ya... tapi, lain kali jangan pernah membohongiku lagi dan juga jangan pernah mengurangi atau melebih-lebihkan sesuatu yang aku tidak tau, katakan semuanya apa adanya, mengerti?!"


"I-iya baiklah, tuan."


.


.

__ADS_1


.


"S-saya bisa jalan sendiri, tuan."


"Sudah jangan protes."


Aku sedikit menceramahinya lalu mengangkat tubuh kecilnya, dia tampak kesulitan untuk mengimbangiku berjalan jadi aku meletakkannya di atas kepalaku seperti biasanya dan lagi masalahnya sudah selesai walaupun aku masih sedikit marah padanya.


Cukup lama berjalan kami akhirnya sampai di rumahku yang ada di lantai delapan labirin, tapi itu bukan tempat tujuanku, kami hanya singgah sebentar untuk istirahat lalu pergi lagi melanjutkan perjalanan ke lantai lima belas di sana lebih banyak makanan yang besar, hehe.


Sesampainya di lantai delapan aku menurunkan Sira dan langsung minum di danau kecil yang ada di sana dan kemudian berbaring lalu tertidur tanpa bicara sepatah kata pun.


"Hoaahhh... loh! aku tertidur...? yahh... ini memang sudah kebiasaanku..."


Kriuk kriuk


"Ughh... sebaiknya aku cepat-cepat mencari makan siang."


Aku terbangun dari tidurku dengan keadaan perut kosong kelaparan, akhir-akhir ini perutku sering meminta makanan lebih mungkin karena tubuhku yang menjadi lebih besar, sedikit merepotkan memiliki tubuh yang besar mereka harus diberi asupan makanan yang banyak lebih dari biasanya.


Tapi, anehnya aku tidak merasa ada beban dari tubuh besar ini, jika tubuhmu semakin besar seharusnya akan terasa semakin berat, tapi aku malah merasa ini sangat ringan tak ada beban sama sekali, sangat membingungkan bukan?


Sira menatap ke arah danau sambil sesekali menghela nafasnya dengan berat tampaknya dia masih merasa bersalah padaku, itu membuatku merasa tidak tega melihatnya.


"Sira ayo pergi." Ucapku padanya.


Aku kemudian mengajak Sira pergi, karena memang waktu istirahat sudah selesai dan juga aku tidak boleh terlalu lama beristirahat, Karena bel perut sudah berbunyi menuntut makanan enak.


"Baik, tuan." Sahutnya dengan kaku.


"Hahhh... lupakan saja yang sebelumnya kau tidak perlu memikirkannya lagi, aku juga minta maaf untuk yang sebelumnya maaf ya... aku tidak bermaksud untuk memarahimu, aku hanya tidak suka dengan caramu itu, dan juga maaf karena banyak merepotkanmu... jadi jangan murung dan kaku seperti itu aku lebih suka melihat dengan dirimu yang dulu." Ucapku untuk menenangkan.


Melihat Sira murung dan kaku membuatku merasa bersalah karena telah memarahinya mungkin aku terlalu keras padanya, ini mengingatkanku pada kehidupanku yang dulu saat aku merajuk pada adikku karena dia tidak serius belajar saatku ajari, sebelumnya aku sangat jarang marah-marah aku lebih suka diam ketika sedang marah karena memang hanya itu yang bisa kulakukan.


Bicara pun aku tidak bisa jadi pilihanku hanya diam daripada harus menggunakan kekerasan agar dia sadar dengan kesalahannya, walaupun pada akhirnya aku juga yang meminta maaf karena dia menangis tidak kutanggapi, adikku sangat imut jadi aku tak tega lama-lama marah padanya.


Dan juga karena marahlah aku berakhir seperti ini kehidupanku yang berantakan bertambah hancur karenaku, sebuah kesalahan yang tidak akan pernah aku lupakan seumur hidupku walaupun aku tidak menyesal karena telah melakukan itu, ini semua untuk keluarga dan temanku, satu-satunya hal yang kusesalkan adalah permintaan maafku yang tidak bisa kusampaikan secara langsung pada ibuku.


"B-baik tuan, tapi anda tidak perlu meminta maaf seperti itu, anda tidak salah tuan dan juga saya seperti ini bukan karena masalah itu." Sahutnya Sira padaku.

__ADS_1


"Bukan? lalu kenapa?"


"Itu... ano..."


Kriuk kriuk


"Ehhh... kau lapar?"


"I-iyahh... seperti itulah..." ucapnya malu-malu.


Kriuk kriuk


"Chikchikchik... hehehehe... kenapa kau tidak bilang dari tadi?" ucapku sambil tertawa terkekeh mendengar suara perut Sira.


Aku tertawa terkekeh-kekeh mendengar suara perut Sira yang sangat keras sampai-sampai terdengar menggema di sudut ruangan ini tampaknya dia sudah sangat lapar, kukira dia seperti itu karena sedang memikirkan rasa bersalahnya padaku, tapi ternyata dia sedang menahan rasa lapar,


"Y-yahh... karena saya tidak ingin membangun anda tuan, anda tidur sangat nyenyak." Jawabnya sambil memalingkan wajahnya sedikit malu.


"Yahh... kalau begitu naiklah, sebaiknya kita cepat mencari makanan sebelum suara itu keluar lagi." Ucapku sambil tersenyum kecil padanya.


"Baik tuan."


Aku kemudian menurunkan sebelah sayapku lalu meminta Sira untuk naik ke atas kepalaku, melihat aku menurunkan sayap Sira kemudian melompat naik seperti yang aku suruh.


"Chikchikchik... ngomong-ngomong suara perut yang bagus, Sira." Ejekku padanya.


"I-iyaa... hehe..."


"Hehehehe... hahahaha..."


Sira tampak malu-malu saat aku mengejeknya karena suara perutnya itu seketika suasana yang sebelumnya terlihat kaku sekarang dipenuhi oleh gelak tawa yang menggema di sepanjang lorong labirin.


Perjalanan yang penuh dengan tawa membuatku tidak sadar kalau kami sudah berada di lantai tiga belas tersisa dua lantai lagi menuju lantai lima belas dan kami bisa mengisi perut kami.


Graahhhhhh!!!!


Tiba-tiba saja kami mendengar suara raungan mengerikan dari depan kami, seketika semua tawa menggelikan itu berubah menjadi suasana yang tegang yang mencekam


...~•~...

__ADS_1


__ADS_2